Jurnalis Mesir Dinilai Masih Gagap Hadapi Perkembangan AI, Kendali Tetap di Tangan Wartawan

Nasional40 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang sangat pesat menjadi tantangan bagi dunia jurnalistik, termasuk di Mesir. Banyak jurnalis dinilai masih mengalami kesulitan dalam mengadopsi dan memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal dalam proses produksi berita.

Hal itu disampaikan mantan Ketua Egyptian Radio and Television Union (ERTU), Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Asy-Syarif, saat menjawab pertanyaan peserta dalam diskusi “Brainstorming dan Pembentukan Serikat Jurnalis Islam” di UBN Newsroom, AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (14/6/2026).

Menurut Prof. Sami, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Mesir, tetapi juga di sejumlah negara lain, termasuk negara-negara maju.

“Saya kira bukan saja di Mesir, tetapi juga di sejumlah negara, termasuk negara maju, mengalaminya,” ujarnya.

Prof. Sami yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Mass Communication) serta Wakil Ketua Asosiasi Fakultas-Fakultas Media Universitas Arab menjelaskan, kemampuan perkembangan AI saat ini jauh lebih cepat dibandingkan proses adaptasi yang dilakukan para jurnalis.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran utama wartawan dalam menentukan kelayakan sebuah informasi untuk dipublikasikan.

“Jurnalislah yang menentukan apakah informasi itu layak tayang atau tidak. Bisa saja informasi yang diberikan AI benar, akurat, dan sesuai fakta, tetapi jurnalis tetap harus mempertimbangkan dampak dari pemberitaan tersebut,” katanya.

Sebagai jurnalis Muslim, lanjut Prof. Sami, pertimbangan utama bukan hanya soal akurasi informasi, melainkan juga manfaat yang dapat diberikan kepada umat.

“Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah apakah informasi ini bermanfaat bagi umat atau tidak,” ujarnya.

AI Tidak Bisa Dihentikan

Dalam kesempatan itu, Prof. Sami menegaskan bahwa perkembangan AI merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihentikan. Teknologi tersebut akan terus berkembang dan memunculkan berbagai gagasan baru, termasuk yang memicu perdebatan di tengah masyarakat.

Ia mencontohkan sebuah artikel yang pernah muncul di media Mesir mengenai gagasan pelaksanaan ibadah haji secara virtual melalui teknologi digital.

Menurutnya, meskipun gagasan tersebut ditolak dari sisi syariah karena tidak memenuhi ketentuan ibadah haji, wacana tersebut tetap menjadi bagian dari dinamika perkembangan teknologi dan media.

“Sebagai jurnalis, yang pertama kali harus dipertimbangkan adalah apakah pemberitaan atau perdebatan itu bermanfaat bagi umat atau tidak. Di situlah letak tanggung jawab jurnalis Muslim,” katanya.

Peluang Kerja Sama dan Penguatan Kapasitas

Diskusi yang dipandu oleh Bachtiar Nasir itu berlangsung interaktif. Para peserta bergantian mengajukan pertanyaan terkait perkembangan AI, masa depan jurnalistik, hingga tantangan media di era digital.

Di akhir sesi, Prof. Sami menawarkan peluang kerja sama dengan para jurnalis Muslim Indonesia, antara lain melalui program pelatihan, pertukaran pengalaman, dan kunjungan ke berbagai negara Muslim guna meningkatkan kapasitas di bidang teknologi informasi berbasis AI sekaligus memperluas jejaring internasional.

Sebelumnya, forum UBN Newsroom juga menghadirkan pakar teknologi informasi sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, yang membahas isu serupa terkait perkembangan kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap dunia informasi.

Dukung Pembentukan SAJID

Dalam forum tersebut, peserta secara aklamasi menyatakan dukungan kepada Bachtiar Nasir untuk memimpin Serikat Jurnalis Islam Indonesia (SAJID). Dukungan itu diberikan dengan mempertimbangkan pengalaman, kapasitas, serta jaringan yang dimilikinya di dunia Islam.

Saat ini Bachtiar Nasir juga menjabat sebagai Ketua Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia.

Forum berharap pembentukan SAJID dapat menjadi wadah bagi jurnalis Muslim untuk memperkuat kompetensi profesional, memperluas jaringan, serta merespons berbagai tantangan baru di era digital dan kecerdasan buatan.[]

Comment