Kapitalisme Antara Kasih Sayang dan Fitrah Seorang İbu 

Opini102 Views

 

 

Penulis: Siti Aminah | Aktivis Muslimah Kota Malang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Dalam hal kasih sayang, ibu adalah sosok tak tertandingi hingga muncul peribahasa “kasih ibu sepanjang zaman, kasih anak sepanjang galah”. Begitu melekat kasih sayang seorang ibu terhadap anak- anaknya.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, seseorang datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah, kepada siapakah aku berbakti yang utama?” maka Rasulullah menjawab,” Ibumu” dan orang itu bertanya kembali,” kemudian siapa lagi?” Rasulpun menjawab, “ Ibumu” dan orang itu bertanya kembali” Kemudian siapa lagi?” Rasulpun menjawab,” Ibumu”, orang itupun bertanya kembali dan Rasulpun menjawab, “Kemudian ayahmu”.

Artinya, setiap manusia yang lahir ke dunia ini adalah karena kuasa Allah yang diamanahkan kepada seorang ibu, sosok perempuan dengan segenap fitrah kelembutan dan kasih sayangnya.

Tapi saat ini sosok itu telah hilang dari sebagian ibu yang saat ini tergerus fitrahnya oleh tuntutan kehidupan yang tinggi sedangkan penghasilan suami tidak bisa menutupi. Terkadang ibu juga mempunyai tugas ganda plus pencari nafkah. Hal ini menyebabkan tekanan terhadap psikologi ibu yang dapat menimbulkan stres bahkan tak jarang nekat melakukan hal di luar nalar sebagai seorang ibu yang berhati lembut. Sebagaimana yang terjadi baru-baru ini –  seorang ibu membuat video vulgar bersama dengan si buah hati.

Terjadi dua kasus ibu mencabuli anaknya dan direkam karena iming-iming uang. Beberapa hal pun menjadi sorotan dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Awalnya, seorang ibu muda berinisial R (22) di Tangerang Selatan, Banten, dilaporkan melecehkan anak kandung sendiri yang masih berusia 4 tahun. Kejadian serupa kembali terjadi. Kali ini, seperti diungkap detik.news (9/6/2024), polisi menangkap ibu inisial AK (26), yang tega mencabuli putra kandungnya yang masih berusia 10 tahun di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Peristiwa ini sebagai indikasi gagalnya sistem pendidikan mencetak individu berkepribadian Islam dan siap mengemban Amanah sebagai ibu. Di sisi lain hal ini juga menunjukkan lemahnya negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, sehingga membuat ibu tergoda melakukan maksiat demi sejumnlah uang.

Pendidikan keluarga yang berbasis sekulerisme membuat ibu kehilangan fitrah.

Islam memiliki sistem pendidikan handal untuk menyiapkan manusia berperan sesuai dengan fitrahnya. Pendidikan dalam keluarga pun dilandasi nilai – nilai ketakwaan.

Maka, solusi mendasar persoalan yang menyebabkan hilangnya fitrah seorang ibu ini hanyalah dengan mencampakkan sistem yang rusak dan kembali kepada sistem yang mampu memberi jaminan penyelesaian secara tuntas dan adil, yakni sistem yang berasal dari Zat Yang Maha Sempurna dan Maha Adil, tidak lain adalah Islam.

Islam telah terbukti selama berabad-abad membawa umat ini pada kemuliaan dan martabatnya yang hakiki sebagai khayru ummah. Sistem Islam juga terbukti mampu menjadi motor peradaban dan membawa rahmat bagi seluruh manusia.

Islam memiliki aturan komperehensif yang menjamin keadilan bagi siapapun termasuk perempuan. Hanya Islam yang mampu memberi solusi atas setiap persoalan kehidupan – berangkat dari pandangan universal mengenai perempuan sebagai bagian dari masyarakat manusia, yang hidup berdampingan secara harmonis dan damai dengan laki-laki dalam konteks kehidupan ini.

Islam telah menetapkan hukum-hukum syara’ dengan sangat rinci dan detil. Dengan hukum-hukum syara’ inilah, semua persoalan perempuan diselesaikan secara tuntas dan adil. Dengan inilah perempuan akan terjaga.

Hal ini sejalan dengan pandangan Islam yang menetapkan peran dan posisi strategis dan mulia bagi perempuan sebagai pendidik dan penjaga generasi.

Islam menetapkan fungsi negara agar menjamin peran dan posisi strategis mulia perempuan melalui penerapan hukum-hukum syara’ secara utuh dan konsisten. []

Comment