Kasus Guru Atun, Bukti Hilangnya “Adab Sebelum Ilmu” dalam Dunia Pendidikan

Opini36 Views

Penulis: Irah Wati Murni, M.Pd | Aktivis Muslimah dan Tenaga Pendidik

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seperti diberitakan Tribunnews (18 April 2026), publik dikejutkan oleh beredarnya video yang menampilkan perilaku tak pantas sejumlah pelajar berseragam dari salah satu SMA unggulan di Purwakarta. Video itu viral di media sosial karena memperlihatkan para siswa mengejek seorang guru perempuan, Ibu Atun, dengan gestur tidak sopan—mengacungkan jari tengah hingga menjulurkan lidah.

Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan sinyal serius tentang merosotnya adab dalam dunia pendidikan kita.

Seperti disampaikan Bupati Purwakarta, Binzein, respons terhadap peristiwa tersebut tidak boleh berhenti pada pemberian sanksi semata. Hukuman, menurutnya, harus bersifat mendidik, memberi efek jera, sekaligus menjadi pelajaran kolektif bagi siswa lain.

Ia juga menekankan pentingnya pendampingan melalui bimbingan konseling agar para pelajar yang terlibat dapat diarahkan kembali ke jalur pembinaan karakter.

Namun, seperti diberitakan Kompas.com (13 Januari 2026), kasus serupa bukan pertama kali terjadi. Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, seorang guru SMK bahkan menjadi korban pengeroyokan oleh muridnya sendiri hanya karena menegur siswa yang berkata kasar.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa yang kita hadapi bukanlah kasus insidental, melainkan gejala sistemik yang terus berulang.

Jika ditelaah lebih dalam, akar persoalan ini tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan parsial seperti konseling individu. Masalahnya jauh lebih mendasar –  krisis paradigma dalam sistem pendidikan yang saat ini cenderung berorientasi pada kapitalisme dan sekularisme.

Dalam perspektif kapitalisme, pendidikan kerap direduksi menjadi sekadar instrumen ekonomi. Sekolah diposisikan sebagai pabrik tenaga kerja, dengan ukuran keberhasilan pada nilai rapor dan keterampilan praktis yang sesuai kebutuhan pasar. Dalam kerangka ini, pembinaan karakter—terutama adab dan kesopanan—sering kali terpinggirkan.

Kondisi ini diperparah oleh paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dari ruang pendidikan. Akibatnya, standar perilaku siswa tidak lagi berlandaskan nilai ketakwaan, melainkan kebebasan tanpa batas yang berujung pada liberalisme.

Dalam lanskap seperti ini, relasi murid dan guru pun mengalami pergeseran mendasar. Guru tak lagi dipandang sebagai sosok yang dimuliakan karena ilmunya, melainkan sekadar “penyedia jasa” yang dibayar. Wibawa guru runtuh, dan rasa hormat menguap dari ruang-ruang kelas.

Kondisi ini menjadi cermin kegagalan negara dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral. Padahal, dalam perspektif Islam, adab justru ditempatkan sebagai fondasi utama sebelum ilmu.

Ilmu tanpa adab bukan hanya kehilangan keberkahan, tetapi juga berpotensi melahirkan kerusakan.
Dalam tradisi Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi sebagai pewaris para nabi. Rasulullah SAW bersabda:

“Muliakanlah orang yang kamu pelajari darinya.” (HR. Abu al-Hasan al-Mawardi).

Hadis ini menegaskan bahwa penghormatan terhadap guru bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari ajaran fundamental dalam menuntut ilmu.

Karena itu, kasus di Purwakarta dan Jambi tidak bisa dipandang sebagai sekadar kenakalan remaja. Ia adalah indikator nyata dari krisis adab yang berakar pada kesalahan sistemik dalam pendidikan. Ketika orientasi pendidikan bergeser dari pembentukan manusia berkarakter menjadi sekadar pencetak tenaga kerja, maka hilangnya adab adalah konsekuensi yang tak terelakkan.

Sudah saatnya kita melakukan refleksi mendasar. Mengembalikan ruh pendidikan tidak cukup dengan tambal sulam kebijakan, tetapi membutuhkan perubahan paradigma yang menempatkan adab sebagai fondasi utama.

Dalam kerangka Islam, memuliakan guru dan menjadikan adab sebagai prasyarat ilmu adalah jalan untuk melahirkan generasi berintegritas—bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.

Jika tidak, maka ruang-ruang kelas akan terus kehilangan wibawa, dan pendidikan akan semakin jauh dari tujuan hakikinya: memanusiakan manusia. []

Comment