by

Kawin Kontrak Antara Kapitalisme Dan Martabat Perempuan

-Opini-67 views

 

 

 

 

Penulis: Luthfiah Jufri, S.Si, M.Pd, Dosen

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Isu kawin Kontrak kembali merebak dan kini marak diberitakan di berbagai media sosial. Prostitusi berkedok Agama ini terjadi di Cianjur, Jawa Barat. Kabupaten yang dijuluki Kota Santri ini telah dicemarkan oleh segelintir Calo Kawin Kontrak demi meraup keuntungan besar dari Wisatawan Timur Tengah.

Menurut Wakil Ketua MUI Kabupaten Cianjur, H. Ahmad Yani seperti dilansir detiknews.com, Ahad (20/6/2021), fenomena praktik kawin kontrak ini telah terdeteksi sejak 2015 diawali dengan adanya laporan-laporan masyarakat yang kemudian ditelusuri ke lapangan.

Hal ini dibenarkan oleh Bupati Cianjur, Herman Suherman, bahwa Pemkab Cianjur telah mengeluarkan aturan larangan kawin kontrak di wilayahnya meskipun sanksi yang berlaku pada para pelakunya baru sebatas sanksi sosial atau disesuaikan dengan perundangan yang ada.

Praktik Kawin Kontrak ini sungguh meresahkan masyarakat, meskipun penikmatnya didominasi Warga Negara Asing (WNA) tetapi yang menjadi korban ‘istri-istrian’ mereka adalah kaum perempuan lokal yang tergiur oleh iming-iming uang.

Tarif kawin tamasya ini memang menggiurkan tergantung lama perkawinan dan usia wanitanya.

Menurut salah seorang calo kawin kontrak yang dikutip dari laman news.detik.com tersebut, biaya kawin kontrak ini kisaran 15-30 juta. Uang tersebut nantinya akan dibagi 50:50 antara pihak wanita dan calonya.

Calo sendiri membagi lagi kepada wali hakim, penghulu dan saksi yang diduga abal-abal serta biaya persiapan akad nikah dan ijab qabul agar tak dicap berzina.

Kapitalisme berhasil memanfaatkan pandemi yang dianggap memberikan dampak besar bagi perempuan dibanding laki-laki.

Secara global, ada 243 juta perempuan dan anak perempuan yang berusia 15-19 tahun menjadi korban eksploitasi seksual dan perdagangan anak.

Kemiskinan yang dialami perempuan membuat mereka terpaksa bekerja untuk menyambung hidup sekalipun itu pekerjaan yang tidak dibenarkan agama.

Berbagai penderitaan yang dialami perempuan sebagai korban kawin kontrak ini sesungguhnya adalah cerminan cara pandang kehidupan yang tidak memberikan penghargaan dan perlindungan terhadap perempuan. Bahkan perempuan dianggap sebagai alat komoditi dan obyek. Jelas ini menunjukkan perempuan hanya dipandang sebagai pemuas syahwat laki-laki berduit saja.

Inilah wajah asli kapitalisme sekuler.  Faham ini menjanjikan kebebasan berperilaku dan berkepemilikan. Di sisi lain kapitalisme sekuler ini menganggap bahwa hidup ini hanya untuk kesenangan semata. Tidak adanya keyakinan kehidupan akhirat membuat mereka bebas memenuhi apa yang mereka inginkan tanpa menimbang balasan dan akibat dari perbuatan mereka.

Kawin Kontrak dalam pandangan Islam adalah haram, sekalipun aktivitas ini pernah diperbolehkan karena darurat. Tapi kini setelah islam itu datang sebagai penyempurna agama di muka bumi ini, maka Allah melarangnya hingga hari kiamat kelak.

Islam memerintahkan untuk menjaga dan memuliakan perempuan. Islam juga mengharuskan kepala negara melindungi rakyatnya baik laki-laki maupun perempuan termasuk menjaga kehormatan dan mensejahterakannya.

Maka diperlukan implementasi aturan islam dalam semua aspek kehidupan agar dapat menjamin kehidupan yang aman, tenteram, dan sejahtera untuk semua lapisan masyarakat. Wa’allahu’alam biishowab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − 10 =

Rekomendasi Berita