Kekerasan dan Masyarakat yang Kian Jauh dari Nilai Islam

Opini57 Views

Penulis: Reni Handayani, S.Pd | Pendidik Dan Aktivis Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Maraknya kasus kekerasan di Indonesia menjadi potret buram kondisi sosial masyarakat hari ini. Angkanya tidak hanya tinggi, tetapi juga menunjukkan kecenderungan semakin ekstrem.

Fenomena seperti femisida, parisisda, hingga mutilasi kerap mencuat ke ruang publik dan sering dikaitkan dengan persoalan kesehatan mental. Perempuan dan anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan menjadi korban.

Hal yang lebih memprihatinkan, kekerasan justru semakin marak terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan beradab.

Data menunjukkan adanya peningkatan signifikan kasus kekerasan di satuan pendidikan. Pada tahun 2023 tercatat 15 kasus, meningkat menjadi 36 kasus pada 2024, dan melonjak drastis menjadi 60 kasus pada 2025. Angka ini menjadi alarm serius bahwa dunia pendidikan tengah menghadapi krisis nilai dan moral.

Pelaku kekerasan pun berasal dari berbagai kalangan. Peserta didik tercatat sebagai pelaku terbanyak dengan 25 kasus. Disusul pendidik atau guru sebanyak 15 kasus, kepala sekolah 8 kasus, pimpinan pondok pesantren 5 kasus, tenaga kependidikan atau struktural 3 kasus, orang tua peserta didik 2 kasus, serta masing-masing satu kasus yang melibatkan alumni dan orang asing.

Bentuk kekerasan yang terjadi juga beragam, mulai dari kekerasan fisik, seksual, hingga psikis. Berdasarkan data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), kekerasan fisik masih mendominasi dengan sekitar 45 persen atau 27 kasus dari total keseluruhan.

Kekerasan seksual berada di urutan kedua dengan 28,33 persen, disusul kekerasan psikis sebesar 13,33 persen atau delapan kasus. Ironisnya, dampak kekerasan psikis kerap kali lebih mematikan. Sebanyak 37,5 persen korban atau tiga siswa mengalami tekanan berat yang berujung pada kehilangan nyawa.

Kekerasan tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga merambah ruang digital. Media sosial kerap menjadi medium awal terjadinya perundungan dan kekerasan verbal yang kemudian bereskalasi menjadi kekerasan fisik di dunia nyata.

Berbagai faktor menjadi pemicu maraknya kekerasan dan pembunuhan. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama. Kesulitan ekonomi, kemiskinan, dan kesenjangan sosial menciptakan tekanan, frustrasi, serta keputusasaan yang dapat mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal.

Dorongan memperoleh uang secara instan sering kali melahirkan tindak perampokan yang berujung pada kekerasan, bahkan pembunuhan.

Selain itu, faktor emosi dan dendam juga kerap memicu tindak kriminal. Konflik pribadi, penghinaan, atau pengalaman ketidakadilan dapat melahirkan amarah yang tak terkendali hingga mendorong seseorang menghilangkan nyawa orang lain.

Di sisi lain, paparan konten kekerasan di media digital yang dikonsumsi tanpa pengawasan dan literasi yang memadai turut memperparah kondisi mental, terutama pada generasi muda.

Maraknya kekerasan dan pembunuhan sejatinya merupakan buah dari penerapan sistem sekuler-kapitalisme yang menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai Islam. Sistem ini menempatkan materi sebagai tujuan utama kehidupan, sehingga segala cara dihalalkan demi memenuhi gaya hidup hedonistik dan konsumeristik.

Media digital dalam sistem kapitalisme pun sering kali berorientasi pada keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan dampak moral dan psikologis bagi masyarakat.

Sudah saatnya umat kembali kepada ajaran Islam yang menekankan kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap nyawa manusia.

Dalam Islam, segala bentuk kekerasan yang tidak berdasarkan prinsip-prinsip syariah sangat dikecam dan pelakunya akan dikenai sanksi tegas.

Penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh akan membentuk individu yang berakhlak, menumbuhkan kepedulian sosial, serta menciptakan masyarakat yang harmonis dan damai. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]

Comment