Kelaparan di Gaza dan Matinya Nurani Penguasa Islam

Opini1870 Views

Penulis: Tia Ummu Balqis | Ibu Pembelajar

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ujian hidup warga Gaza belum usai. Setelah dihujani bom dan peluru, kini mereka harus menghadapi krisis makanan. Kelaparan dahsyat melanda seluruh lapisan masyarakat, dari bayi hingga lansia.

Tragedi ini bukan bencana alam, melainkan kejahatan yang disengaja. Zionis Israel dengan sengaja menciptakan kelaparan untuk menyiksa warga Gaza hingga mati.

Bantuan pangan yang dikumpulkan umat Islam di berbagai negara pun dihalangi masuk. Pelanggaran terhadap prinsip kemanusiaan dan aturan perang ini sungguh mencerminkan kebiadaban tanpa batas.

Yang lebih menyakitkan, para penguasa di dunia Islam tampak tak berdaya. Mereka hanya diam menyaksikan saudara seiman meregang nyawa. Meski memiliki jutaan tentara dan persenjataan, kekuatan itu seolah tak pernah dipakai untuk membela Gaza.

Bahkan, ada penguasa muslim yang justru membungkam suara ulama. Dilansir Sindonews (24 Juli 2025), Otoritas Mesir menekan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed al-Tayeb, agar mencabut pernyataannya yang mengecam pengepungan Israel. Padahal, kelaparan massal itu telah memicu kemarahan dunia internasional. Sikap ini seperti pembelaan terang-terangan kepada zionis, bukan kepada rakyat Palestina.

Siapa pun yang masih memiliki nurani tak akan sanggup melihat kondisi Gaza hari ini. Bayi-bayi hanya tinggal tulang dibalut kulit, ibu-ibu kehabisan ASI karena tak ada makanan, dan tak tersisa toko penjual susu maupun bahan pangan. Sebagian warga bahkan terpaksa memakan tanah dan rumput untuk bertahan hidup.

Bantuan yang berhasil masuk pun amat terbatas. Warga harus menempuh jarak puluhan kilometer demi sekarung gandum, sering kali dengan risiko nyawa. Zionis kerap menunggu di lokasi distribusi untuk menembaki warga yang berebut bantuan.

Genosida ini sudah diakui banyak pihak, termasuk masyarakat non-Muslim. Ironisnya, sebagian penguasa muslim justru memihak musuh dengan tetap menutup pintu blokade. Mereka tak lagi bisa membedakan kawan dan lawan.

Bukan hanya Mesir, nyaris seluruh penguasa di dunia Islam tak berani bertindak. Di saat rakyat Gaza kelaparan, meja makan para pemimpin itu penuh hidangan lezat. Mereka mengirimkan bantuan kemanusiaan, namun itu sia-sia selama blokade tetap rapat. Kecaman pun tak pernah mengubah watak zionis yang tuli terhadap seruan moral.

Kini saatnya umat Islam menyadari, pembebasan Gaza tidak cukup dengan bantuan atau diplomasi. Solusi sejati adalah jihad fi sabilillah, yang hanya dapat dilakukan oleh negara Islam yang mempersatukan kekuatan umat. Negara ini akan berani menghadapi zionis dan sekutunya, karena mati syahid adalah kemuliaan, bukan ancaman.

Kepemimpinan seperti itu pernah ada pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat Madinah dilanda kelaparan, beliau bersumpah tidak akan menyentuh daging dan minyak samin sebelum rakyatnya terbebas dari penderitaan. “Bagaimana saya dapat mementingkan keadaan rakyat, jika saya sendiri tidak merasakan apa yang mereka derita?” ucapnya kala itu.

Pemimpin sekelas Umar hanya akan lahir dari negara yang dibangun di atas keimanan kepada Allah SWT. Karena itu, umat Islam wajib memperjuangkan terwujudnya kepemimpinan tunggal dunia yang mempersatukan negeri-negeri Islam di bawah satu komando, demi membela dan membebaskan Gaza. Wallahu a‘lam.[]

Comment