Kemacetan Parah Menelan Korban Jiwa, Miris!

Opini1318 Views

 

 

Oleh: Hamsina Halik, Member Revowriter

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kemacetan parah terjadi di jalan nasional yang berada di Tembesi, Batanghari, Jambi, sebagai imbas padatnya truk angkutan batu bara. Tidak tanggung-tanggung, kemacetan lalu lintas itu berlangsung selama lebih dari 22 jam. Jalan nasional ini dipadati kendaraan sepanjang 15 kilometer sejak pukul 10.00 WIB, Selasa (28/2). Polres Batanghari telah mengerahkan personel untuk mengurai kemacetan lalu lintas tersebut. (cnnindonesia.com, 1/3/2023)

Kemacetan ini berimbas meninggalnya seorang pasien di dalam ambulans yang terjebab macet tersebut. Tidak hanya itu, terdapat pedagang yang mengeluhkan ikan yang diangkutnya mati di tengah jalan. Pedagang ini tentu mengalami kerugian besar, karena harga ikan yang telah lama mati berbeda jauh dengan ikan yang masih segar.

Terhadap kejadian ini, Gubernur Jambi Al Haris meminta maaf kepada masyarakat dan menghentikan sementara aktivitas angkutan batu bara di Provinsi Jambi mulai dari mulut tambang hingga jalan nasional sejak hari Rabu (1-3-2023). Al Haris juga meminta kepada Dinas PU dan Balai Jalan untuk melakukan penambalan jalan yang rusak.

Benarkah untuk Kepentingan Rakyat?

Selama ini, begitu banyak kita saksikan pembanguna infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Katanya, untuk kepentingan rakyat. Namun, sungguh disayangkan fakta berbicara lain. Rakyat hampir tidak bisa merasakan dampak pembangunan tersebut.

Sebut saja, mahalnya harga tol dan ongkos transportasi yang sulit dijangkau oleh kebanyakan rakyat kecil. Belum lagi jalan rusak hingga kemacetan masih terus terjadi hampir di seluruh wilyah negeri ini. Tak mengherankan mengapa hal ini terjadi, sebab pembangunan infrastruktur negeri ini masih dilandasi asas sistem kapitalisme-neolib.

Sistem ini tak sedikit pun akan melirik kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat dikesampingkan. Dengan asas meraih manfaat, tentu saja yang dipikirkan hanya bagaimana meraih keuntungan  dari setiap hal, keputusan atau kebijakan yang ditetapkan. Kapitalisme liberal ini lebih memihak kepentingan korporasi dibanding kepentingan rakyat.

Berbagai proyek strategis hanya memberi peluang bagi swasta atau asing untuk menguasai. Selain itu, tak jarang pembangunan infrastruktur jalan ke daerah pelosok karena adanya perusahaan baru atau pusat industri yang akan dibangun di wilayah tersebut sebagai sarana akses distribusi bukan karena kepentingan rakyat.

Maka tak mengherankan begitu banyak kita dapati fakta bahwa pembangunan infrastruktur jalan baik di kota, daerah industri dan di desa terjadi ketimpangan. Tak jarang pula, rakyat yang selalu kena imbas dampak dari penggunaan jalan oleh kendaraan-kendaraan proyek yang menyebabkan jalan nasional rusak.

Ini sebagaimana terjadi pada jalan nasional Jambi. Jalan nasional yang seharusnya tidak untuk truk tambang, justru didominasi oleh truk tambang sehingga mengganggu pengguna jalan yang lain. Hingga menyebabkan kemacetan parah hingga menelan korban jiwa. Inilah konsekuensi penerapan sistem kapitalisme.

Jalan adalah Infrastruktur Penting

Menyediakan fasilitas umum merupakan kewajiban negara. Apalagi jalan merupakan infrastuktur penting dalam upaya membangun dan meratakan perekonomian sebuah negara demi kesejahteraan rakyat.

Dalam islam, jalan merupakan fasilitas umum yang siapa saja berhak menikmati dan menggunakannya dengan aman dan nyaman untuk memudahkan mobilitas.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban negara membangun infrastruktur yang baik dan merata ke seluruh pelosok negeri, perkotaan maupun pedesaan. Tak hanya di daerah industri saja. Sebab, dalam Islam seorang pemimpin adalah periayah dan pelindung bagi rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW;

“Imam adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)

Karena tanggung jawab yang berat ini, maka seorang penguasa tak sekalipun akan memanfaatkan proyek-proyek yang berkaitan dengan kemaslahatan umum untuk dijadikan sebagai sarana dalam meraup keuntungan, sebagaimana yang terjadi dalam sistem kapitalisme saat ini.

Belajar dari kisah Khalifah Umar bin khaththab ketika berada di Iraq. Begitu besar perhatian beliau sebagai seorang pemimpin. Jalan rusak berlubang pun membuatnya sedih dan gelisah tatkala mendengar bahwa ada seekor keledai yang tergelincir dan jatuh akibat kubang tersebut.

Melihat sang Khalifah bersedih, membuat sang ajudan bertanya “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?” Sang Khalifah pun menjawab dengan nada serius dan wajah yang menahan marah, “Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”

Masyaa Allah, sungguh luar biasa sosok pemimpin seperti ini. Sosok pemimpin yang hanya akan mungkin ada ketika Islam menjadi landasan dan aturan hidup. Seorang pemimpin yang takut akan pertanggung-jawabannya di akhirat kelak.

Jangankan keselamatan dan keamanan nyawa manusia, nyawa hewan pun tak luput dari perhatiannya. Semua semata karena ketakwaan kepada Allah SWT dan pemahamannya bahwa sebagai pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban di akhirat kelak. Wallahu a’lam.[]

Comment