Kemenangan Zohran Mamdani, Dr. Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD: Ujian bagi Partai Demokrat Amerika

Internasional1302 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK — Kemenangan mencolok Zohran Mamdani dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di New York City menjadi sorotan besar di tengah dinamika politik Amerika Serikat yang kian terpolarisasi. Mamdani, seorang politikus muda progresif sekaligus Muslim pertama yang maju dalam pemilihan wali kota New York, berhasil meraih 43,51 persen suara, mengungguli tokoh senior Andrew Cuomo.

Capaian ini bukan hanya prestasi personal, namun menjadi bagian dari sejarah baru dalam demokrasi Amerika. Partisipasi pemilih juga mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah pemilihan di kota tersebut. Namun, kemenangan ini tidak sepenuhnya disambut hangat oleh jajaran pimpinan Partai Demokrat.

Sejumlah elit partai justru menunjukkan sikap dingin, bahkan ada yang mendukung kandidat independen seperti Andrew Cuomo dan Eric Adams, yang sejatinya juga berasal dari kader Demokrat. Langkah ini dinilai sebagian pihak sebagai bentuk pengkhianatan terhadap keputusan partai dan melemahkan soliditas internal Demokrat menjelang pemilu wali kota.

Direktur Jamaica Muslim Center dan Presiden Nusantara Foundation, Ustadz Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD, menilai fenomena ini sebagai ujian moral dan arah keberpihakan Partai Demokrat.

“Kemenangan Zohran adalah momentum besar bagi Demokrat untuk kembali mendapatkan kepercayaan publik. Tapi ironis, justru di saat seperti ini, sebagian pemimpin partai memilih tunduk pada tekanan dan kepentingan lobi tertentu, bukan pada suara rakyat,” ujar Ustadz Shamsi Ali dalam keterangannya dari Jamaica Hills, Jumat (19/7/2025).

Ia menilai, setidaknya ada dua alasan utama yang membuat Zohran belum mendapatkan dukungan penuh dari internal partainya. Pertama adalah identitas keagamaannya sebagai seorang Muslim, dan kedua adalah sikap politiknya yang tegas membela Palestina.

Setelah diumumkan sebagai pemenang pemilihan pendahuluan, Zohran langsung menjadi sasaran serangan Islamofobia, mengingatkan publik pada sentimen anti-Muslim pasca tragedi 11 September. Sementara itu, sikapnya yang mendukung kemerdekaan dan keadilan bagi rakyat Palestina membuatnya dituduh anti-Semit dan anti-Yahudi, meski secara jelas ia hanya mengkritik tindakan represif rezim Zionis Israel.

“Zohran berdiri atas dasar kemanusiaan dan keadilan universal. Tapi sayangnya, keberanian itu dibalas dengan stigma, karena berseberangan dengan kepentingan AIPAC, lobi Zionis paling kuat di Amerika,” kata Ustadz Shamsi.

AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) dikenal sebagai kelompok lobi politik yang memiliki pengaruh besar dalam mendanai dan mengarahkan kebijakan para politisi di AS, termasuk dari Partai Demokrat. Banyak analis menilai bahwa dukungan kepada Zohran bisa berarti kehilangan sokongan finansial dari lobi pro-Israel tersebut.

Namun, menurut Ustadz Shamsi, justru inilah saatnya Partai Demokrat menunjukkan keberpihakan sejatinya.

“Jika Partai Demokrat ingin bangkit, mereka harus berani berpihak kepada nilai, bukan kepada uang. Zohran adalah simbol harapan baru, terutama bagi generasi muda yang kian sadar dan peduli terhadap keadilan global,” tegasnya.

Ustadz Shamsi juga mengingatkan bahwa mengabaikan suara rakyat dan terus-menerus menuruti tekanan lobi akan membawa kerugian besar di masa depan.

“Jika terus mengorbankan kepentingan rakyat demi lobi Zionis, mereka akan menyesal dan kehilangan kursi dalam pemilu mendatang,” tutupnya.

Dengan semangat perubahan yang diusung Zohran Mamdani, termasuk program transportasi gratis, pembekuan harga sewa, dan bantuan pangan bersubsidi, masyarakat New York kini dihadapkan pada pilihan penting: apakah akan memilih keberpihakan pada rakyat, atau kembali membiarkan politik dikuasai oleh kepentingan lobi elite?[]

Berita Terkait

Baca Juga

Comment