Kemerdekaan Kita Rayakan, Rasa Syukur dan Pengorbanan Pahlawan Kita Lupakan

Dari Redaksi11 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Di tengah gegap gempita peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, ada satu pertanyaan yang semestinya kita ajukan kepada diri sendiri, sudahkah kita benar-benar memahami makna kemerdekaan yang selama ini kita rayakan?

Sejatinya kita panjatkan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan pertolongan dan jalan bagi bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan.

Kemudian, kemerdekaan bukanlah sesuatu yang hadir tanpa pengorbanan. Ia lahir dari doa, perjuangan, air mata, darah, bahkan nyawa para pejuang yang memilih berdiri di hadapan penjajah demi satu cita-cita: Indonesia merdeka.

Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak dapat dilepaskan dari pertolongan Allah SWT. Sebab, sehebat apa pun manusia merencanakan perjuangan, pada akhirnya pertolongan dan kekuatan sejati tetap berada di tangan-Nya.

Kita juga tidak boleh melupakan mereka yang menjadi sebab hadirnya kemerdekaan itu. Para pejuang bertaruh dengan lapar, kehilangan keluarga, kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan nyawa. Mereka menerjang bahaya dengan persenjataan yang jauh dari memadai.

Ketika lawan memiliki senjata dan perlengkapan perang, sebagian pejuang kita hanya memiliki keberanian, keyakinan, serta senjata sederhana yang ada di tangan. Bambu runcing.

Mereka tidak bertanya, “Apa yang akan saya dapat setelah merdeka?” Mereka justru bertanya, “Apa yang bisa saya berikan agar negeri ini merdeka?” Di situlah letak kemuliaan perjuangan mereka.

Siang dan malam seolah tidak lagi memiliki batas. Tidur dan istirahat bukan perkara utama. Tubuh yang terluka tetap dipaksa melangkah. Darah yang mengalir tidak membuat mereka berhenti melangkah.

Jalan terjal, bebatuan, lumpur, hutan, dan gelapnya malam diterobos demi satu keyakinan: lebih baik berkorban daripada hidup selamanya dalam penjajahan.

Mereka mungkin tidak tahu seperti apa wajah Indonesia setelah merdeka. Mereka mungkin tidak pernah menikmati hasil perjuangan mereka. Tetapi mereka tetap berjuang demi kita.

Mereka gugur sebelum sempat melihat merah putih berkibar di seluruh penjuru negeri. Mereka pergi sebelum mengetahui seperti apa kehidupan generasi yang akan lahir puluhan tahun setelah kematian mereka.

Lalu, setelah 80 tahun Indonesia merdeka, apa yang telah kita lakukan terhadap warisan para pejuang? Pertanyaan ini terasa pahit, tetapi harus berani kita jawab. Apakah kemerdekaan hanya kita maknai sebagai tanggal merah, perlombaan, karnaval, panggung hiburan, joget, tawa dan sorak-sorai acara yang tidak ada hubungan esesial dengan nilai nilai kemerdekaan.

Tidak ada yang salah dengan kegembiraan. Tidak pula keliru masyarakat mengadakan lomba, karnaval, atau pertunjukan untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan. Semua itu dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan dan membangun kebersamaan.

Namun, jangan sampai kemeriahan mengalahkan perenungan. Kita harus menggunakan akal dan pikiran secara maksimal.

Jangan sampai kita begitu sibuk merayakan kemerdekaan tetapi tidak memahami esensi kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa.

Ketika karnaval berubah menjadi sekadar tontonan, ketika pakaian dan atraksi hanya mengejar kelucuan, ketika masyarakat tertawa dan berjoget tanpa sedikit pun mengingat pengorbanan para pendahulu, barangkali ada sesuatu yang telah hilang dari cara kita memaknai kemerdekaan.

Kita boleh tertawa. Kita boleh bergembira.
Kita boleh membuat suasana meriah. Tetapi jangan sampai kita menertawakan makna perjuangan itu sendiri. Jangan sampai kita lupakan mereka. Coba kita tanya anak anak kita, masih ingatkah mereka dengan nama nama para pahlawan kemerdekaan?

Para pahlawan tidak memberikan kita kemerdekaan agar generasi setelahnya hanya pandai berpesta. Mereka berjuang agar kita memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, menjaga kehormatan bangsa, mencerdaskan generasi, menolong sesama, menegakkan keadilan, dan mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.

Maka, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara bertanya. Bukan hanya, “Apa lomba yang akan kita adakan tahun ini?” Tetapi juga, “Apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan yang relevan dengan cita cita para pahlawan?”

Bukan hanya, “Seberapa meriah karnaval kita?” Tetapi juga, “Seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada masyarakat?” Bukan hanya, “Berapa banyak orang yang tertawa hari ini?” Tetapi juga, “Berapa banyak orang yang terbantu karena kemerdekaan yang kita syukuri bersama?”

Kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada perayaan. Kemerdekaan harus melahirkan kesadaran dan nilai juang para pahlawan.

Jika dahulu para pejuang rela kehilangan nyawa demi kemerdekaan, maka tugas generasi hari ini adalah jangan sampai menyia-nyiakan kemerdekaan dengan seremonial yang tidak membangkitkan semangat perjuangan para pahlawan.

Jangan sampai darah para pejuang hanya menjadi cerita dalam buku sejarah.
Jangan sampai nama mereka hanya muncul dalam upacara setiap 17 Agustus.

Jangan sampai merah putih hanya kita kibarkan di depan dan gang rumah, tetapi semangat, keberanian, pengorbanan para pahlawan tidak tertanam dalam pribadi anak anak dan generasi.

Sebab perayaan kemerdekaan yang tidak melahirkan rasa syukur dan lupa terhadap pengorbanan para pahlawan akan kehilangan maknanya.

Allah SWT telah mengingatkan dalam QS Ibrahim ayat 7 bahwa apabila manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, manusia juga diingatkan tentang beratnya akibat dari mengingkari nikmat tersebut.

Karena itu, mari kita rayakan kemerdekaan dengan kegembiraan, tetapi jangan kehilangan kesadaran bahkan  melewati batas aturan.

Boleh tertawa, tetapi jangan melupakan mereka yang dahulu menangis. Silakan berkumpul, tetapi jangan melupakan mereka yang dahulu berjuang sendirian. Ayo nikmati kemerdekaan, tetapi jangan lupa bahwa ada darah dan nyawa yang pernah menjadi harga yang harus dibayar.

Kemerdekaan bukan sesuatu yang diwariskan untuk dinikmati tetapi kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga.

Setelah 80 tahun merdeka, pertanyaan paling penting bukan lagi apakah Indonesia telah merdeka terapi apakah kita layak menerima kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan darah dan nyawa itu?

Lalu, setelah 80 tahun peringatan itu kita rayakan, apa yang telah kita dapati?

Comment