Ketika Ibu Kehilangan Cahaya Kasih: Potret Pilu di Tengah Himpitan Hidup

Opini398 Views

 

Penulis: Maya Ristanti, S.H | Praktisi Pendidikan 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa besar.”
(QS. Al-Isra: 31).

Kasih yang Melepuh di Tengah Derita

“Bundaku, ikhlas kuberi apa pun untukmu…”

Sepenggal lirik lagu Bundaku yang dibawakan band Kotak menggambarkan betapa tulus kasih seorang ibu kepada anaknya — kasih yang rela berkorban tanpa pamrih. Ibu adalah malaikat di bumi, yang menanggung lelah, air mata, dan pengorbanan demi kebahagiaan buah hatinya.

Namun, betapa pedih ketika kasih itu justru melepuh oleh tekanan hidup. Kabupaten Bandung diguncang kabar memilukan: seorang ibu berinisial EN (34) ditemukan meninggal tergantung di kamar kosnya, sementara dua anaknya yang masih berusia 9 tahun dan 11 bulan juga ditemukan tak bernyawa di dekat sang ibu.

Menurut kepolisian, seperti ditulis BBC (10 September 2025), dugaan sementara menyebutkan sang ibu mengakhiri hidup anak-anaknya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Sebuah surat wasiat juga ditemukan di lokasi kejadian, berisi curahan hati tentang kesulitan ekonomi serta permintaan maaf kepada keluarga.

Fenomena yang Berulang dan Menyayat

Peristiwa tragis semacam ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada 2023, kasus serupa mengguncang Malang; tahun berikutnya terjadi di Ciputat, Tangerang Selatan; dan awal 2025 peristiwa sejenis mencuat di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri, sebagaimana dilaporkan BBC (10 September 2025), menunjukkan tren bunuh diri meningkat tajam sejak 2019 hingga 2023—dari 230 kasus menjadi 640 kasus dalam setahun. Tekanan ekonomi disebut sebagai pemicu utama, mencapai 31,91 persen pada 2024.

“Tekanan ekonomi adalah pemicu terbesar bunuh diri di Indonesia, mencapai hampir sepertiga dari total kasus,” — Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri (2024)

Jerat Kemiskinan Struktural dan Hilangnya Daya Hidup

Kasus bunuh diri ibu dan anak mencerminkan rapuhnya kondisi mental seseorang di bawah tekanan ekonomi. Saat kebutuhan hidup meningkat, sementara penghasilan tak mencukupi, jiwa bisa terhimpit hingga kehilangan kejernihan berpikir.

Dalam keputusasaan, sebagian ibu memilih jalan yang tragis: mengakhiri hidup anak-anaknya, lalu dirinya sendiri — sebuah keputusan singkat yang menyayat nurani.

Kenyataan pahit ini tak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalistik yang kian menumbuhkan kesenjangan antara kaya dan miskin. Mereka yang bermodal besar semakin mudah menguasai sumber daya alam dan kebijakan publik, sementara rakyat kecil berjuang dengan penghasilan minim dan biaya hidup tinggi.

Sumber daya alam yang sejatinya milik rakyat justru dikuasai korporasi. Akibatnya, rakyat harus membeli energi, pangan, hingga air bersih dengan harga mahal.

Pemerintah memang berupaya menolong melalui program seperti PKH dan berbagai bantuan sosial, namun kebijakan semacam itu sering kali hanya bersifat sementara — ibarat obat pereda nyeri yang tak menyembuhkan penyakit struktural. Begitu bantuan berakhir, rakyat kembali dihadapkan pada kenyataan kemiskinan yang mencekik.

Islam dan Sistem yang Menjaga Kehidupan

Islam memuliakan peran ibu dengan sangat tinggi. Dalam sistem Islam, ibu tidak dibebani kewajiban mencari nafkah; tanggung jawab itu menjadi kewajiban suami, dan jika tak ada, negara wajib hadir menjamin kelangsungan hidup keluarga.

Kasus seperti di Bandung termasuk kategori maternal filicide — yakni ketika seorang ibu mengakhiri hidup anak-anaknya karena tekanan berat. Dalam pandangan Islam, tindakan ini adalah dosa besar, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Isra: 31.

Islam menegur keras tindakan membunuh anak karena takut miskin, sebab Allah-lah yang menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya.

Ulama besar Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) menafsirkan bahwa hilangnya kasih sayang orang tua kepada anak merupakan awal kehancuran moral masyarakat. Kapitalisme, menurutnya, telah menipiskan kasih sayang hingga setipis tisu — mengubah cinta menjadi perhitungan ekonomi.

“Ketika kasih sayang orang tua kepada anak hilang, maka hancurlah kehormatan kehidupan,”
— Fakhruddin ar-Razi

Kebijakan yang Lahir dari Kepemimpinan Amanah

Dalam sejarah pemerintahan Islam, perhatian terhadap kesejahteraan ibu dan anak begitu nyata. Khalifah Umar bin Khattab, misalnya, pernah mengubah kebijakan tunjangan anak setelah mendengar tangisan bayi di malam hari.

Setelah mengetahui bahwa sang ibu menyapih bayinya lebih cepat agar mendapat jatah makan, Umar memerintahkan agar setiap bayi yang lahir berhak menerima tunjangan negara tanpa harus menunggu disapih.

Kisah itu menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan yang amanah dan berempati mampu menjaga martabat rakyat kecil — bukan hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi menjamin sistem yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Menyalakan Kembali Cahaya Kasih

Kasih seorang ibu semestinya menjadi sumber kekuatan, bukan kesedihan. Namun di tengah sistem yang keras dan timpang, kasih itu perlahan memudar. Tragedi demi tragedi adalah alarm moral bagi bangsa ini — tanda bahwa sistem sosial dan ekonomi kita perlu dibenahi secara mendasar.

Islam bukan sekadar ajaran ibadah, tetapi sistem kehidupan yang menempatkan manusia — terutama ibu — pada posisi paling mulia. Dengan sistem yang adil dan peduli, seorang ibu tak akan kehilangan cahaya kasihnya. Dan anak-anak bangsa akan tumbuh di bawah naungan cinta, bukan di bayang-bayang keputusasaan.

Tulisan ini merupakan refleksi kemanusiaan atas tragedi sosial yang menimpa keluarga-keluarga miskin di tengah tekanan hidup modern. Sebuah ajakan untuk menumbuhkan kembali sistem yang menyejahterakan, bukan menyesakkan.[]

Comment