by

Ketika Insecure Menjangkit Remaja Islam

-Opini-20 views

 

 

 

Oleh : Hawilawati, S.Pd*

_________________________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA- — Benarkah fase remaja adalah masa pencarian jati diri seorang remaja yang sangat kuat keingin-tahuannya?

Fase itu juga kerap kali memunculkan perasaan bimbang dan galau terhadap apa yang akan dilakukan. Begitu galaunya, remaja menjadi sulit menggali potensi diri dan justeru yang tampak adalah potensi minus.

Endingnya menjadi tidak bersemangat beraktivitas, minder alias tidak percaya diri, seakan tidak bisa berbuat apa-apa, merasa tidak berguna dan dunia pun menjadi sempit.

Tenang saja, jangan biarkan kondisi itu menjangkiti dirimu yang keren ya, itu penyakit jiwa yang kudu di delete tanpa sisa. Semua masalah ada solusinya, jangan langsung ‘tekuk wajah’.

Kondisi buruk itu lebih dikenal dengan istilah insecure yaitu perasaan tidak aman yang membuat seseorang merasa cemas, takut, dan tidak percaya diri.

Penyebabnya bisa dua faktor yaitu internal dan eksternal. Internal bisa disebabkan karena dirimu yang perfeksionis dan apa yang sudah ditetapkan Allah, kurang  menerimanya.

Hmm, wajahku pas-pasan tidak seperti Eonni Oppa yang berwajah putih mulus, aku terlahir dari keluarga yang ekonominya juga pas-pasan, mau ini itu susah banget, karena semua harus pakai uang. Bahkan bisa jadi apa yang sudah kamu lakukan selalu tidak puas, alhasil kamu sendiri tidak menghargai proses yang panjang itu.

Faktor Eksternal,  bisa disebabkan lingkungan luar yang  terlalu banyak  menuntut tanpa mempertimbangkan kondisi dirimu, misal orangtua menuntut kamu harus menjadi bintang kelas yang selalu berprestasi akademik, tanpa melihat kemampuan sang anak.

Harus menjadi atlit terkenal, padahal anak tidak suka menekuni olahraga, ya olah raga sebatas untuk sehat saja. Atau mungkin kamu salah gaul, yang menilai  kehidupan orang lain lebih baik darimu dengan pergaulan yang hedonis, suka hura-hura,  kerjaannya cuma senang-senang saja, nongkrong di cafe atau nonton di bioskop, hingga kocekmu yang pas-pasan tidak bisa mengikuti gaya kaum muda yang hedonis.

Disadari atau tidak, sebenarnya itu semua bukan kehidupanmu. Tapi semua menuntut demikian. Alhasil kamu tidak bisa menikmati apa yang kamu lakukan,  hingga terlintas dalam pikiran bahwa kamu adalah manusia yang paling sengsara.

Faktor eksternal seperti korban bullying, juga membuat remaja menjadi takut untuk bergerak karena mengalami pengalaman buruk, keberadaannya tidak dihargai oleh orang lain.

Nah, bagaimana untuk mengatasi insecure itu? Tentu ada beberapa hal yang harus kamu fahami dan lakukan.

Pertama, fahami qodho (kehendak) Allah, bahwa ada hal-hal yang mau tidak mau, harus kamu terima, karena itu sudah ketentuan Allah. Tanpa ada kuasa diri kita untuk memilihnya.

Lingkaran qodho ini tidak akan dihisab oleh Allah, alias di akhirat nanti kamu tidak akan ditanya perihal fisikmu yang sudah dari sana diciptakan, “kenapa kamu kulitnya coklat, rambutnya ikal, jenis kelaminnya perempuan, lahir dari keluarga bersuku atau berbangsa tertentu, dsb”.

Tidak bakal ditanya demikian. Jadi kamu kudu menerima kondisi fisikmu dengan lapang dada.

Kedua, meyakini bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah Swt, bukanlah yang paling cantik, ganteng, kaya raya, terkenal, melainkan yang paling bertaqwa sebagaimana firman Allah Swt.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti. [QS. Al-Hujurât: 13]

Jadi standar mulia remaja Islam itu harus benar. Khawatirlah jika kita tidak berada dalam golongan yang Allah Swt maksud.

Ketiga, fahami peranmu sebagai kaum muda yang memiliki segudang potensi dan  harus memiliki level berpikir berbeda dengan anak-anak.

Remaja adalah agen of change (agen perubahan),  harus berada dalam berpikir serius, produktif, solutif dan inovatif untuk kebaikan diri, keluarga dan lingkungan masyarakat bahkan bangsanya.

Jadi selalu mengasah diri dengan pemikiran yang produktif alias pemikiran yang tidak hanya sekedar berkhayal tanpa ada action nyata untuk kemaslahatan, apalagi melakukan aktivitas unfaedah yang tidak membuat dirimu lebih baik.

Keempat,  galilah potensi dirimu secara jujur, bahwa usiamu muda, energimu banyak, waktumu luang, tubuhmu sehat, fisikmu kuat, kamu dinamis, gerakmu cepat, daya ingatmu tidak lola, wah semua itu potensi diri yang harus produktif. Segala kekurangan diri bisa di perbaiki dengan kelebihan dirimu sendiri.

Hmm, aku orangnya pemalu, tidak pandai mendaratkan kata-kata dengan lisan. Jadikan malu itu untuk menghasilkan karya, kamu bisa menggoreskan hasil pikiranmu dalam aksara, sehingga banyak orang yang tercerahkan.

Sebaliknya, aku orangnya ramai, suka ngomong, jadikan gayamu yang suka ngomong sebagai motivator atau penyemangat di sekeliling teman-teman dalam kebaikan.

Agar lisan produktif, tidak cuma keluar kata-kata unfaedah yang dapat menyakiti orang lain bahkan menimbulkan dosa, akibat aktivitas gibah yang jadi habit.

Kelima, bergaullah dalam komunitas taat dan kreatif. Aura komunitas produktif itu pastinya sangat beds dan selalu fastabiqul khoirot, memikirkan bagaimana cara memperbaiki diri, meningkatkan potensi diri, memiliki karya, dan bermanfaat bagi sesama.

Kerennya komunitas dengan label taat dan kreatif ini saling mensupport, memotivasi, mengingatkan dalam segala amalan faedah. Inilah yang membuat pola pikir kaum muda terus berkembang dan  sehat.

Keenam, berdoalah kepada Sang Pemilik jiwa yang dapat membolak balikkan hati, agar diri berada dalam ketenangan dalam setiap kondisi apapun.

Fokus mentaati segala perintah dan menjauhkan segala larangan serta hanya menyibukkan diri dengan perbuatan yang disunnahkan Rasulullah, serta pandai memilih perbuatan yang mubah. Hal ini membuat diri semakin jelas menjalankan segala aktivitas dengan  konsekuensinya, sehingga usia muda memiliki target kebaikan yang bernilai amal sholih.Wallahu’alam bishowab.[]

*Founder Sekolah Srikandi

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − 6 =

Rekomendasi Berita