Penulis: Ismail Siregar | Diaspora Indonésia di Belgia
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Di tengah dinamika dunia Islam yang kerap dipenuhi berbagai tantangan global, sebuah peristiwa sederhana namun sarat makna hadir dari jantung peradaban Islam dunia, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Pada momentum wisuda Al-Azhar November 2025, seorang mahasiswi asal Indonesia, Yelly Putriyani, tampil menyampaikan pidato dan menyentuh hati banyak hadirin.
Yelly, putri daerah Balaigurah, Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dipercaya menjadi perwakilan mahasiswi asing.
Kepercayaan tersebut bukan semata lahir dari kefasihan berbahasa Arab yang ia miliki, melainkan dari perjalanan akademik dan prestasi yang mencerminkan esensi pendidikan Islam: perpaduan antara ilmu, adab, dan keteladanan.
Alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek itu dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an yang menorehkan prestasi internasional. Ia pernah meraih juara pertama lomba tahfiz Al-Qur’an di Mesir, mengungguli puluhan peserta dari berbagai negara.
Prestasi ini menegaskan bahwa tradisi pesantren Indonesia memiliki daya saing global dan mampu berkontribusi di pusat-pusat keilmuan dunia Islam.
Yang membuat momen tersebut begitu membekas bukanlah kemegahan seremoni wisuda, melainkan pesan yang disampaikan Yelly dalam pidatonya. Ia menekankan pentingnya rasa syukur, kesabaran dalam menuntut ilmu, serta penghormatan kepada guru sebagai sumber keberkahan ilmu. Pesan yang terdengar sederhana, namun justru semakin relevan di tengah budaya instan dan orientasi hasil semata.
Tak sedikit wisudawan dan hadirin yang menitikkan air mata. Pidato itu seakan menjadi pengingat bahwa pendidikan Islam sejatinya bukan hanya tentang capaian akademik, tetapi proses panjang pembentukan akhlak dan tanggung jawab moral. Tak mengherankan jika momen tersebut mendapat perhatian luas, termasuk dari media internasional seperti Aljazeera Mesir.
Bagi Indonesia, kisah Yelly Putriyani lebih dari sekadar cerita sukses individu. Ia mencerminkan potensi besar generasi muda Muslim Indonesia—lahir dari daerah, ditempa di pesantren, lalu berkiprah di pusat peradaban Islam dunia.
Pada titik inilah, kisah tersebut menjadi ruang refleksi bersama tentang bagaimana negara dapat hadir lebih kuat dalam mendukung lahirnya prestasi-prestasi serupa.
Seyogianya seluruh pemangku kepentingan, khususnya pemerintah, terus mendorong dan memfasilitasi anak-anak bangsa agar memiliki akses yang lebih luas untuk menimba ilmu dan berprestasi di kampus-kampus ternama di Timur Tengah.
Penguatan skema beasiswa, pendampingan akademik, serta diplomasi pendidikan berbasis nilai keislaman dapat menjadi investasi strategis bagi masa depan bangsa.
Beberapa waktu lalu, menjelang kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke London, publik mencatat langkah dialogis dengan mengumpulkan sekitar 1.200 akademisi dari berbagai kampus ternama di Indonesia guna menyatukan visi kebangsaan.
Pendekatan kolaboratif semacam ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan pula dalam konteks kunjungan kerja Presiden ke Kairo, Amman, dan negara-negara Timur Tengah lainnya, terutama dengan melibatkan tokoh-tokoh ulama pesantren dan akademisi perguruan tinggi Islam Indonesia.
Momentum kunjungan ke kawasan yang menjadi pusat peradaban Islam tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi keilmuan, menyatukan visi pendidikan Islam Indonesia, serta memperluas peran strategis umat Islam Indonesia di tingkat global.
Langkah ini bukan semata simbolik, melainkan bagian dari ikhtiar jangka panjang membangun kualitas sumber daya manusia dan peradaban bangsa.
Di tengah kebutuhan akan figur teladan yang membumi sekaligus berwawasan global, kisah Yelly Putriyani menghadirkan optimisme. Bahwa dengan ketekunan, adab, dan dukungan ekosistem yang tepat, generasi muda Indonesia mampu tampil percaya diri di panggung dunia.
Tantangannya kini adalah bagaimana prestasi semacam ini dapat terus ditumbuhkan, diperluas, dan dijadikan gerakan kolektif yang berkelanjutan, demi masa depan Indonesia yang berilmu, beradab, dan berdaya saing.[]










Comment