Ketika Muslim Menang di Amerika: Zohran Mamdani dan Ghazala Hashmi di Peta Politik Baru AS

Internasional349 Views

 

RADARINDONESIANEWS. COM, NEW YORK — Di bawah sirene kota yang tak pernah benar-benar tidur, New York menulis bab baru dalam politik Amerika. Udara musim gugur yang dingin tak menghalangi warga untuk mengantre di tempat pemungutan suara.

Dari Bronx hingga Staten Island, antrean terasa hangat oleh percakapan dan kecemasan—sebuah pemandangan yang menandai momentum politik baru di negeri itu.

Untuk pertama kalinya, seorang Muslim menjadi kandidat terkuat dalam pemilihan wali kota New York. Nama itu: Zohran Mamdani, politisi Partai Demokrat keturunan Uganda-India, aktivis vokal yang selama ini dikenal di Queens karena advokasinya soal perumahan rakyat, transportasi publik, dan keadilan sosial.

Malam penghitungan suara berjalan tegang. Di markas kampanye Mamdani, layar besar berulang kali menampilkan tulisan “Too Early to Call.” Namun, data sementara segera menunjukkan arah yang jelas.

Zohran Mamdani (D): 486.741 suara (50,2%)

Andrew Cuomo (I): 396.177 suara (40,8%)

Curtis Sliwa (R): 79.281 suara (8,2%)

Dengan total suara mendekati satu juta, Mamdani berada di posisi terdepan. Jika hasil ini dikonfirmasi, ia akan menjadi salah satu wali kota Muslim pertama dalam sejarah New York—sebuah tonggak yang memperlihatkan wajah baru politik Amerika: lebih majemuk dan representatif.

Ghazala Hashmi: Akademisi Muslim di Kursi Eksekutif Virginia

Sementara New York menahan napas, Virginia sudah berpesta. Di sana, Ghazala Hashmi resmi dinyatakan menang sebagai Letnan Gubernur dengan perolehan 54,2 persen suara (1.483.910 suara), mengalahkan kandidat Partai Republik John Reid yang meraih 45,5 persen.

Hashmi—seorang akademisi kelahiran India—menjadi perempuan Muslim pertama yang menempati jabatan tinggi eksekutif di negara bagian itu. Dua dekade lalu, di tengah bayang-bayang Islamofobia pasca 9/11, hal seperti ini nyaris mustahil dibayangkan.

Kampanyenya sederhana namun fokus: pendidikan, kesehatan, dan hak sipil. Dukungan besar datang dari pemilih muda dan komunitas imigran di wilayah urban dan pinggiran kota Virginia.

Gelombang Baru Representasi

Kemenangan Hashmi dan Mamdani tidak hanya menandai keberhasilan personal, tapi juga perubahan lanskap politik Amerika. Masyarakat mulai memilih berdasarkan kinerja, bukan identitas. Muslim kini hadir di ruang pengambilan keputusan, membawa warna baru dalam sistem politik yang lama didominasi narasi mayoritas.

Di komunitas Muslim New York dan Virginia, malam kemenangan itu penuh air mata dan pelukan. Banyak imigran generasi pertama menyadari: anak-anak mereka kini tumbuh di negeri yang mulai mengakui keberagaman bukan sebagai ancaman, melainkan kekuatan.

“Selama bertahun-tahun kami selalu menjadi warga, pembayar pajak, dan pekerja keras,” kata seorang relawan kampanye di Queens. “Hari ini, kami merasa benar-benar menjadi bagian dari negara ini.”

Tahun 2025 boleh jadi tercatat sebagai momentum penting dalam sejarah politik Amerika Serikat—ketika dua tokoh Muslim terpilih bukan karena agama, tapi karena gagasan dan integritas. Di tengah dunia yang terbelah oleh polarisasi, kisah Mamdani dan Hashmi menunjukkan bahwa demokrasi masih bekerja, selama rakyat berani berharap.[]

Sumber:

1. The New York Times – “Voting Trends in NYC” (nytimes.com).

2. The Washington Post – “Suburban Shift in Virginia Politics” (washingtonpost.com).

3. NPR – “Muslim Representation in U.S. Politics” (npr.org).

4. Zohran Mamdani – New York State Assembly Biography (assembly.state.ny.us/mem/Zohran-K-Mamdani).

5. Ghazala Hashmi – Virginia Senate Official Page (apps.senate.virginia.gov)

Berita Terkait

Baca Juga

Comment