by

Ketika Sang Anak Bercerita, Dengarkanlah!

-Opini-14 views

 

 

Oleh: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd*

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Memang tidak mudah mendefinisikan makna cerita yang disampaikan oleh anak–anak. Namun, pada tahapan perkembangan inilah mereka mulai belajar bicara. Salah satunya dengan bercerita.

Cerita oleh anak-anak tidak bisa ditebak alurnya namun begitu, dalam cerita mereka ada unsur yang saling berkaitan. Mulai dari tokoh yang dibicarakan, latar yang ada di dalam cerita, bahasa penyampaiannya, dan tujuan yang ingin mereka sampaikan. Meski sering kali anak–anak bercerita dengan alur yang “ngalor ngidul” atau kesana kemari.

Pada seusia anak–anak, cerita yang mereka bawakan tentu berkisar tentang sekolah, mainan dan teman-temannya. Pastinya, masih berkaitan dengan dunia mereka.

Para orang tua sebagai pendengar cerita anak–anak mereka, wajib untuk mengawasi kata–kata yang mereka sampaikan. Filter jika ada kata–kata yang semestinya tidak ada pada usia mereka.

Dengan bercerita, anak–anak bisa melatih rasa percaya diri (self confident) untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benak mereka, sekaligus mengasah kemampuan dalam berbicara dan menambah ingatan mereka tentang kosa kata. Maka fungsi pendidikan dalam kondisi dan momen seperti ini yang harus dimunculkan.

Cerita juga bisa menjadi alat untuk mengungkapkan rasa batin anak–anak, atau bisa juga sebagai bentuk ekspresi diri.

Dengan bercerita, mereka mampu merasa bahwa dirinya eksis di lingkungannya. Keluargalah yang menjadi lingkungan utama membantu tumbuh kembang anak–anak.

Oleh karena itu, ketika mendapati anak–anak bercerita maka sebaiknya para orang tua hendaknya mendengarkan, menyimak cerita mereka dan menanggapi apa yang mereka ceritakan.

Dengan adanya interaksi antara anak dan orang tua, maka kedekatan batin juga akan terasa. Kenyamanan yang diperoleh saat bercerita dapat membuat kepercayaan diri sang anak semakin terasah.

Dalam pendidikan, kemampuan anak – anak dalam gaya belajar dibedakan menjadi tiga; visual, auditori, dan  kinestetik.

Untuk gaya belajar visual, biasanya anak–anak akan lebih memahami informasi melalui gambar, pola, bangun ruang, peta, dan lain-lain.

Adapun gaya belajar auditori, biasanya anak–anak cenderung menyukai musik atau suara. Biasanya juga anak yang auditori senang mendengarkan cerita atau merekalah yang bercerita.

Bagi anak kinestetik, mereka belajar dengan diiringi gerakan dan praktik secara langsung. Anak yang kinestetik tidak suka dengan satu posisi yang sama. Duduk berlama-lama atau hanya sekedar mendengarkan saja. Mereka akan cepat bosan dengan model pembelajaran monoton. Mereka akan lebih aktif jika mendapatkan informasi dengan gesture tubuh.

Untuk mengetahui gaya belajar anak, maka orang tua perlu serius dalam memperhatikan gerak gerik anak–anak mereka. Jika salah mengindera, bisa jadi penanganannya juga salah.

Maka bukan hal yang salah jika para orang tua selalu berusaha mendengarkan anak–anaknya bercerita. Justru dengan mendengarkan anak–anak bercerita, orang tua akan mampu mengenali gaya belajar anak mereka.

Namun tidak semua orang tua mampu melakukan hal ini. Tidak sedikit para orang tua yang menganggap bahwa mendengar anak bercerita adalah hal yang sia–sia. Karena mereka berpikir hanya membuang–buang waktu atau alasan–alasan lain.

Inilah awal mula anak – anak bisa insecure terhadap diri mereka, karena merasa tidak ada yang peduli dengan cerita mereka.

Secara alami,  anak–anak memang begitu. Mereka selalu ingin bercerita dan bertanya–tanya tentang suatu hal yang baru mereka alami. Semua ingin mereka ungkapkan dengan bercerita. Mereka tentu saja ingin ada orang yang mendengar cerita tersebut.

Jika sifat keingintahuannya sejak kecil tidak terpenuhi, maka selanjutnya akan sulit untuk mengembangkan informasi-informasi baru. Dengan kata lain, rentang “golden age” anak-anak tersebut tidak sempurna.

Oleh karena itu, para orang tua dan pendidik khususnya, tunaikanlah hak anak–anak dalam mengeksplorasi dirinya. Bantu mereka untuk berani bercerita mengungkapkan apa yang mereka pikirkan.

Berikan kepada mereka informasi–informasi baru untuk memperkaya kosa katanya. Jangan lupa juga untuk selalu menasihati tentang apa hal yang boleh dan tidak boleh mereka ceritakan.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 2 =

Rekomendasi Berita