Penulis: Mekar Sari | Ibu Generasi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sebagaimana dilansir Tempo.com (5/3/2026), desakan agar Indonesia menarik diri dari forum Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) kian menguat pasca serangan udara Amerika Serikat bersama sekutunya, Israel, ke wilayah Iran. Operasi militer tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting Republik Islam Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khosseini Khamenei.
Peristiwa ini memicu gelombang kritik dari publik Indonesia. Mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), koalisi masyarakat sipil, akademisi, hingga mahasiswa, mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi bahkan mencabut keanggotaan Indonesia dalam BoP.
Diberitakan Kontan.co.id (8/3/2026), pemerintah Indonesia pun mengambil langkah sementara dengan menghentikan seluruh pembahasan terkait BoP. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa seluruh diskusi kini berada dalam status on-hold menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah.
Standar Ganda Amerika Serikat
Kebijakan BoP menuai kritik luas karena dinilai tidak menyentuh akar persoalan konflik global, bahkan berpotensi menambah polemik baru di tengah krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.
Desakan agar Indonesia keluar dari forum tersebut menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap arah kebijakan luar negeri pemerintah.
Sikap pemerintah yang masih bertahan memunculkan pertanyaan: adakah kepentingan politik atau tekanan tertentu di baliknya? Dalam prinsipnya, kebijakan publik semestinya berpihak pada kemaslahatan rakyat, transparan, serta terbuka terhadap kritik.
BoP sejak awal dipromosikan sebagai instrumen menciptakan stabilitas dan perdamaian dunia, khususnya di Gaza. Namun, fakta di lapangan menunjukkan kontradiksi. Ketika konflik meningkat, terutama antara Israel dan Iran, peran Amerika Serikat justru tidak menunjukkan netralitas.
Hal ini menguatkan dugaan bahwa BoP bukanlah instrumen murni perdamaian, melainkan bagian dari strategi geopolitik untuk menjaga dominasi dan kepentingan global tertentu. Narasi perdamaian kerap digunakan untuk membenarkan intervensi, sementara tindakan serupa dari pihak lain justru mendapat kecaman.
Negara-negara Muslim pun kerap menjadi objek kebijakan global yang tidak adil. Alih-alih menghentikan penderitaan, narasi perdamaian yang digaungkan justru sering memperpanjang konflik dalam bentuk lain.
Indonesia di Persimpangan Sikap
Fakta bahwa Amerika Serikat sebagai penggagas BoP juga terlibat langsung dalam konflik bersenjata menimbulkan krisis kredibilitas forum tersebut. Indonesia, sebagai anggota, dinilai tidak memiliki posisi tawar yang kuat untuk menentukan arah kebijakan, melainkan cenderung mengikuti agenda yang sudah ditetapkan.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Indonesia berada dalam bayang-bayang dominasi politik global. Jika benar demikian, maka diperlukan evaluasi menyeluruh agar kebijakan luar negeri tetap berpijak pada prinsip kedaulatan dan keadilan.
Pertanyaan besarnya, adakah negara yang berani bersikap tegas menghadapi dominasi kekuatan global seperti Amerika Serikat?
Perspektif Politik Islam
Dalam pandangan Islam, akar persoalan konflik di Palestina adalah penjajahan yang merampas kedaulatan dan hak hidup rakyatnya. Berbagai bentuk kekerasan dan genosida yang terjadi menjadi bukti nyata pelanggaran kemanusiaan yang serius.
Umat Islam dihadapkan pada pertanyaan besar: sampai kapan narasi “perdamaian” akan terus dipercaya, sementara penderitaan terus berlangsung?
Palestina tidak hanya membutuhkan simpati, tetapi juga perlindungan nyata. Kepemimpinan yang berani dan berpihak pada umat menjadi kebutuhan mendesak agar tragedi kemanusiaan tidak terus berulang.
Setiap individu memiliki peran—melalui lisan, tulisan, harta, maupun kontribusi nyata lainnya. Sebab, diam dalam ketidakadilan bukanlah pilihan tanpa konsekuensi.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nuur ayat 55: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi… dan Dia akan menukar keadaan mereka dari ketakutan menjadi aman sentosa.”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa perubahan membutuhkan iman, amal, dan kesungguhan dalam memperjuangkan keadilan. Allahu a’lam bishawab.[]









Comment