Antara Kesempurnaan dan Keaslian

Opini1511 Views

 

Penulis: Dr. H. J. Faisal | Pensyarah UNIDA Bogor/ Pemerhati Pendidikan dan Sosial/ Director of Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS) / Anggota PJMI

Ketidaksempurnaan Merupakan Bagian Mendasar Dari Kealamian Manusia

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Suatu saat, saya pernah memberikan tugas menulis ilmiah kepada mahasiswa saya sebagai tugas individu. Ketika tiba saatnya presentasi, ada seorang mahasiswa, yang menurut saya secara pribadi, cukup bagus hasil penulisannya. Penjabarannya pun cukup baik.

Selesai presentasi, seorang mahasiswa lain mendekati saya, dengan nada sedikit protes. Dia berkata kepada saya, mengapa saya menerima presentasi kawannya – mahasiswa yang bagus hasil penulisannya tadi, karena dia curiga itu adalah penulisan hasil Aritificial Intelligent (AI). Bukankah saya sebagai dosen tidak ingin tugas ini dibantu oleh AI?

Kecurigaan teman-temannya terhadap mahasiswa yang bagus hasil penulisannya itu memang saya nilai wajar di saat teknologi maju seperti ini, karena mungkin terlihat begitu sempurna, seperti hasil penulisan yang dicopypaste langsung dari AI.

Itulah paradoksial dari dunia pendidikan saat ini. Ketika pendidikan modern menghendaki ‘kesempurnaan’ terhadap pola pikir dan akal, serta hasil belajar peserta didiknya, justru ketika dihadapkan dengan teknologi, malah dicurigai sebagai hasil rekayasa teknologi tersebut.

Bukankah selama ini peserta didik memang selalu dibentuk agar menjadi sempurna, seperti AI organik atau robot AI lainnya, dan tidak boleh membuat kesalahan yang terlalu banyak?

Jadi ketika pendidikan disandingkan dengan teknologi yang menghasilkan kesempuirnaan tersebut, mengapa kesempurnaan yang dihasilkan oleh manusia justru menjadi hal yang ‘harus’ dicurigai?

Sekali lagi, situasi yang saya ceritakan di atas memang menggambarkan paradoks besar dalam dunia pendidikan saat ini.

Di satu sisi, kita sebagai pendidik formal (baca: guru atau dosen) mendidik peserta didik atau mahasiswa untuk menghasilkan karya yang rapih, logis, dan mendekati ‘sempurna.’

Namun di sisi lain, ketika hasil itu benar-benar tampak sempurna, muncul kecurigaan bahwa itu bukan murni dari kemampuan manusia, melainkan bantuan teknologi seperti AI.

Menurut saya, fenomena ini sebenarnya menyingkap dua hal penting, yaitu: Pertama, standar kesempurnaan dalam pendidikan yang terlalu dipaksakan kepada peserta didik, atau dalam hal ini –  selama ini mahasiswa selalu didorong untuk menulis dengan struktur yang baik, argumentasi yang kuat, dan bahasa yang teratur, karena itu di’sahkan’ sebagai ciri khas penulisan akademik.

Kedua, bayangan teknologi, di mana kehadiran AI membuat ‘kesempurnaan’ seolah menjadi tanda bahwa karya itu bukan manusiawi. Padahal, bisa jadi mahasiswa tersebut memang sudah terlatih dengan baik, rajin membaca, dan mampu mengekspresikan pikirannya secara sistematis.

Paradoksnya, justru ketidaksempurnaan kini dianggap lebih ‘manusiawi.’

Kesalahan kecil, gaya bahasa yang khas, atau struktur yang tidak terlalu mulus menjadi bukti bahwa karya itu otentik. Dengan kata lain, kita sedang bergeser dari mengidealkan kesempurnaan menuju menghargai keaslian.

Dengan demikian, maka saya dan kita sebagai insan pendidikan, harus kembali bertanya – apakah tujuan pendidikan selama ini adalah menghasilkan kesempurnaan teknis atau membentuk keaslian berpikir yang tidak bisa digantikan oleh mesin?

Harus kita akui bahwa pendidikan sejak lama dipandang sebagai jalan untuk membentuk manusia yang utuh, berpengetahuan, dan terampil. Dalam proses itu, kesempurnaan teknis sering dijadikan tolok ukur, seperti tulisan yang rapi, argumen yang logis, bahasa yang sesuai kaidah akademik. Semua itu dianggap sebagai tanda keberhasilan pendidikan.

Namun, kehadiran teknologi kecerdasan buatan, alias AI, mengubah cara kita memandang kesempurnaan. Ketika sebuah karya tampak terlalu mulus, terlalu sistematis, dan hampir tanpa cela, muncul kecurigaan, apakah ini benar-benar hasil kerja manusia, atau sekadar produk mesin AI?

Tentu saja, paradoks ini menimbulkan dilema. Bukankah tujuan pendidikan memang melatih mahasiswa agar mampu menghasilkan karya yang baik? Tetapi mengapa ketika hasil itu benar-benar baik, justru dicurigai sebagai sesuatu yang tidak otentik?

Menuerut saya, di sinilah letak persoalannya, yaitu bahwa kesempurnaan teknis ternyata bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada hal lain yang lebih mendasar, yaitu keaslian berpikir.

Keaslian ini tidak selalu tampak dalam bentuk tulisan yang sempurna, melainkan dalam cara mahasiswa mengolah gagasan, menyusun argumen, dan mengekspresikan pandangan pribadinya.

Keaslian berpikir adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh mesin. AI mampu meniru gaya bahasa, menyusun struktur logis, bahkan menghasilkan teks yang tampak akademis. Tetapi AI tidak memiliki pengalaman hidup, intuisi, dan konteks personal yang membentuk cara berpikir manusia.

Justru di titik inilah pendidikan menemukan maknanya. Pendidikan bukan sekadar melatih keterampilan teknis, melainkan membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan reflektif.

Kesalahan kecil, gaya bahasa yang khas, atau cara berargumentasi yang unik adalah tanda bahwa karya itu lahir dari manusia.

Ketika mahasiswa menulis dengan bantuan AI, mungkin hasilnya tampak lebih sempurna. Tetapi ketika mahasiswa menulis dengan pikirannya sendiri, hasilnya mungkin lebih “kasar,” lebih tidak teratur, namun memiliki jejak keaslian yang kuat.

Ya, itulah yang membedakan manusia dari mesin.

Maka, tujuan pendidikan seharusnya bukan hanya mengejar kesempurnaan teknis, melainkan menumbuhkan keaslian berpikir.

Kesempurnaan teknis bisa dipelajari, bisa dilatih, bahkan bisa ditiru oleh mesin. Tetapi keaslian berpikir hanya bisa lahir dari manusia yang berani mengolah gagasan dengan caranya sendiri.

Dalam konteks ini, ketidaksempurnaan bukanlah kelemahan, melainkan bukti keaslian. Pendidikan perlu memberi ruang bagi mahasiswa untuk berbuat salah, untuk mencoba, untuk bereksperimen dengan ide-ide mereka. Dari proses itu lahirlah pemikiran yang otentik, yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Dengan demikian, maka sekarang manusia pada umumnya, dan kita sebagai insan pendidikan pada khususnya, menyadari, bahwa ketidaksempurnaan sesungguhnya merupakan bagian mendasar dari kealamian manusia.

Mahasiswa Bukanlah Tong Kosong

Jadi, pertanyaan berikutnya, apakah tujuan pendidikan adalah menghasilkan kesempurnaan teknis atau membentuk keaslian berpikir, jawabannya jelas, keduanya penting.

Tetapi keaslian berpikir adalah inti yang tidak boleh hilang. Kesempurnaan teknis hanyalah sarana, sedangkan keaslian berpikir adalah tujuan sejati.

Karena itulah, ketika dosen berhadapan dengan mahasiswanya, bukan mahasiswa yang harus dijejali dengan segala macam teori atau kisah-kisah heorik dosennya, tetapi dosenlah yang harus mampu membuka jalan pikiran mahasiswanya agar mau ‘bercerita’ mengeluarkan pemikirannya, dan dosen kemudian mengarahkannya menjadi sesuatu yang lebih baik.

Mahasiswa bukanlah tong kosong yang harus diisi oleh segala macam teori yang terkadang tidak berhubungan dengan masa depannya. Memang semua ilmu itu penting, namun mahasiswa bisa memilih ilmu yang terpenting dalam menunjang kehidupan di masa depannya.

Tidak semua ilmu akan menjadi bekal utama bagi setiap mahasiswa. Ada yang lebih membutuhkan keterampilan praktis, ada yang lebih tertarik pada riset mendalam, ada pula yang ingin menggabungkan keduanya.

Pendidikan yang baik memberi ruang bagi mahasiswa untuk memilih, menyaring, dan menentukan ilmu mana yang paling menunjang kehidupannya kelak.

Di sisi lain, peran dosen juga bukan sebagai “pengisi tong kosong,” melainkan sebagai fasilitator yang membuka jalan pikiran mahasiswa.

Pendidikan yang sehat memang tidak berhenti pada transfer teori, melainkan pada proses dialog yang membuat mahasiswa berani mengeluarkan gagasan, bahkan jika gagasan itu masih mentah.

Sekali lagi,mahasiswa bukanlah wadah kosong yang harus dijejali dengan kisah heroik dosennya atau teori yang kadang jauh dari relevansi masa depan mereka. Mereka adalah individu dengan potensi, pengalaman, dan arah hidup masing-masing.

Tugas dosen adalah membantu mereka menemukan relevansi ilmu, menghubungkan teori dengan praktik, dan mengarahkan agar gagasan mereka bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih matang.

Dengan cara itu, dosen tidak lagi menjadi “pemberi jawaban,” melainkan “pembuka pertanyaan.”

Mahasiswa diajak untuk bercerita, mengungkapkan pandangan, lalu bersama-sama mengolahnya. Dari proses ini, lahir keaslian berpikir yang tidak bisa digantikan oleh mesin atau teori yang kaku.

Paradigma ini juga sejalan dengan tantangan di era AI. Jika dosen hanya menekankan kesempurnaan teknis, mahasiswa bisa saja tergoda untuk menyerahkan tugasnya pada mesin. Tetapi jika dosen menekankan keaslian berpikir, mahasiswa akan merasa bahwa tugas itu adalah ruang untuk mengekspresikan dirinya, bukan sekadar memenuhi standar teknis.

Dengan demikian, pendidikan menjadi lebih manusiawi. Pendidikan tidak lagi sekadar mengukur kemampuan menghafal teori, tetapi menilai keberanian mahasiswa untuk berpikir, berpendapat, dan berkreasi.

Ketidaksempurnaan yang muncul dalam proses itu justru menjadi bukti bahwa karya tersebut lahir dari manusia, bukan dari algoritma.

Pendidikan Sejatinya Menuntut Dosen Untuk Terus Tumbuh, Bukan Berhenti Pada Pencapaian Administratif dan Media Sosial.

Namun yang menjadi pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah mahasiswa mampu berpikir otentik, tetapi apakah dosennya sendiri masih punya semangat untuk menjadi “penyambung pikiran” mahasiswa?

Bukankah jika dosen lebih sibuk mengejar sertifikasi, akreditasi, kredit poin jurnal, atau bahkan larut dalam hiburan instan seperti TikTok dan Instagram, maka fungsi sejatinya sebagai pendidik bisa tergeser?

Bagi saya, fenomena ini menimbulkan dua pertanyaan serius, yaitu bagaimana mungkin dosen bisa menginspirasi mahasiswa jika dirinya sendiri tidak lagi terinspirasi oleh ilmu?

Bagaimana mungkin dosen bisa membuka jalan pikiran mahasiswa jika pikirannya sendiri lebih sibuk dengan hiburan media sosial sesaat?

Sertifikasi dan akreditasi memang penting sebagai standar mutu, tetapi jika itu menjadi tujuan utama, maka dosen akan kehilangan ruhnya sebagai pembimbing intelektual.

Mahasiswa tidak butuh dosen yang sekadar mengoleksi poin. Mereka butuh sosok yang bisa membuka jalan pikiran, memberi arah, dan menantang mereka untuk berpikir lebih jauh.

Hal ini menunjukkan bahwa tantangan pendidikan bukan hanya pada mahasiswa, tetapi juga pada dosen. Dosen harus berani melawan arus distraksi, menyeimbangkan tuntutan administratif dengan pengembangan diri, dan tetap menjaga integritas intelektualnya.

Tanpa itu, dosen akan sulit menjadi teladan, apalagi menjadi fasilitator yang mampu menghidupkan pikiran mahasiswa.

Dengan kata lain, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas dosennya. Jika dosen hanya menjadi “pengumpul sertifikat,” maka mahasiswa akan kehilangan figur yang bisa menginspirasi.

Tetapi jika dosen mampu menjaga semangat belajar, membaca, menulis, dan berdialog, maka dia akan menjadi penyambung pikiran yang sesungguhnya.

Pendidikan sejatinya menuntut dosen untuk terus tumbuh. Dia tidak boleh berhenti belajar, tidak boleh berhenti membaca, tidak boleh berhenti menulis. Dosen yang berhenti belajar, tidak suka membaca, apalagi tridak suka menulis, pada dasarnya berhenti menjadi pendidik.

Ingat dan rasakanlah, mahasiswa bisa merasakan perbedaan antara dosen yang hidup dalam ilmu dan dosen yang sekadar menjalankan rutinitas.

Dosen yang hidup dalam ilmu akan memancarkan semangat, membuka ruang dialog, dan membuat mahasiswa merasa dihargai. Dosen yang sekadar menjalankan rutinitas hanya akan menambah beban administratif tanpa makna.

Jika dosen mampu menjaga semangat belajar, maka dia akan menjadi teladan. Dia akan menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar kumpulan teori, tetapi jalan hidup.

Mahasiswa akan melihat bahwa dosennya bukan hanya sekedar sebagai pengajar, tetapi juga pembelajar sejati yang memang patut untuk ditiru dan diteladani. Wallahu’allam bisshowab.[]

Comment