Penulis: Dr. Imam Shamsi Ali, Lc | Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Al-Qur’an adalah kitab petunjuk bagi kehidupan manusia. Meskipun di dalamnya termuat beragam aspek—mulai dari ilmu pengetahuan, hukum, ekonomi, sejarah, hingga politik dan tata kelola pemerintahan—hakikat Al-Qur’an bukanlah buku sains, hukum, atau sejarah dalam pengertian teknis.
Seluruh kandungannya bermuara pada satu tujuan utama: menjadi sumber inspirasi dan bimbingan hidup (hudan linnaas).
Salah satu kandungan penting Al-Qur’an adalah kisah-kisah sejarah. Di antara kisah yang paling banyak diulang dan dijelaskan secara panjang lebar adalah kisah Nabi Musa.
Sejak masa kelahirannya yang penuh ancaman, dihanyutkan ke Sungai Nil, diasuh di lingkungan istana Fir’aun, hingga diangkat menjadi nabi dan rasul, kisah ini terus dihadirkan sebagai pelajaran lintas zaman.
Pertanyaan yang kerap muncul adalah: mengapa kisah Nabi Musa mendapatkan porsi yang begitu besar dalam Al-Qur’an? Mengapa bukan kisah Nabi Adam sebagai manusia pertama, atau Nabi Ibrahim sebagai bapak para nabi?
Setidaknya terdapat beberapa alasan yang dapat dipahami.
Pertama, adanya kedekatan teologis antara Islam dan Yahudi. Kedua agama ini, khususnya dalam tradisi ortodoksnya, sama-sama menegaskan tauhid dan menolak segala bentuk kemusyrikan.
Keduanya juga memiliki sistem hukum agama yang tegas dan komprehensif. Dalam Islam dikenal konsep syariat, sementara dalam tradisi Yahudi dikenal sebagai Halacha.
Dalam praktik keseharian, misalnya, umat Islam mengenal konsep halal, sementara umat Yahudi memiliki konsep kosher.
Kedua, terdapat kemiripan karakter kepemimpinan antara Nabi Muhammad dan Nabi Musa (alaihimas salam). Keduanya lahir secara alami dari ayah dan ibu, mengalami fase kehidupan awal yang penuh ujian, serta diangkat sebagai rasul yang membawa hukum dan membimbing umat.
Mereka bukan hanya nabi, tetapi juga pemimpin masyarakat yang memikul tanggung jawab sosial dan politik.
Ketiga, relasi historis antara umat Islam dan Yahudi yang berlangsung panjang, dengan dinamika yang kompleks—baik dalam bentuk kerja sama maupun konflik.
Sejak interaksi Rasulullah SAW dengan komunitas Yahudi di Madinah hingga realitas geopolitik kontemporer, hubungan ini kerap diwarnai ketegangan yang belum sepenuhnya menemukan titik damai.
Kisah penyelamatan Bani Israil
Salah satu episode penting dalam kisah Nabi Musa adalah pembebasan Bani Israil dari penindasan Fir’aun. Mereka hidup dalam perbudakan yang panjang di bawah kekuasaan tiranik Mesir, hingga Allah mengutus Nabi Musa untuk membebaskan mereka. Dalam tradisi Yahudi, peristiwa ini dikenal sebagai Exodus, yakni keluarnya Bani Israil dari Mesir menuju kebebasan.
Al-Qur’an mengisahkan peristiwa ini dalam berbagai ayat, di antaranya Surah Al-Baqarah ayat 49–50 dan Surah Al-A’raf ayat 141. Kata yang digunakan adalah najja—menyelamatkan—yang menunjukkan pembebasan dari penindasan yang sistemik.
Peristiwa ini mencapai puncaknya ketika Bani Israil terdesak di tepi Laut Merah, sementara Fir’aun dan pasukannya mengejar dari belakang. Dalam situasi yang tampak tanpa jalan keluar, sebagian dari mereka mulai goyah dan ingin menyerah.
Namun Nabi Musa tetap teguh dengan keyakinannya seraya berkata bahwa pertolongan Allah pasti hadir. Atas perintah-Nya, laut pun terbelah, membuka jalan keselamatan bagi Bani Israil.
Kejujuran dalam beragama
Namun, esensi utama dari kisah ini bukan sekadar pada aspek historisnya. Yang lebih penting adalah pesan moral dan spiritual yang dikandungnya, terutama tentang kejujuran dalam beragama.
Al-Qur’an menegaskan bahwa fondasi keberagamaan adalah sidqan wa ‘adlan—kejujuran dan keadilan. Tanpa kejujuran, agama hanya menjadi pengakuan kosong tanpa makna substantif.
Dari peristiwa pembebasan Bani Israil, kita dapat menarik pelajaran bahwa kemerdekaan dan kemuliaan manusia adalah hak asasi yang tidak boleh dirampas. Penindasan yang dialami Bani Israil merupakan salah satu catatan kelam dalam sejarah peradaban manusia. Karena itulah Allah mengutus Nabi Musa untuk membebaskan mereka dan mengangkat martabat kemanusiaan.
Dalam konteks kekinian, ketika umat Yahudi memperingati peristiwa pembebasan tersebut melalui perayaan Passover, semestinya momen itu juga menjadi refleksi universal tentang pentingnya kebebasan dan martabat manusia bagi semua, tanpa kecuali.
Perayaan kemerdekaan sejatinya tidak cukup dimaknai secara historis dan simbolik semata. Ia harus melahirkan kesadaran etis bahwa setiap bentuk penjajahan dan penindasan, di mana pun dan terhadap siapa pun, adalah pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung oleh agama.
Tanpa kesadaran itu, peringatan atas pembebasan hanya akan menjadi ritual tanpa ruh. Bahkan, dapat terjebak pada ironi: merayakan kebebasan di satu sisi, namun abai terhadap penderitaan dan ketidakadilan di sisi lain.
Di sinilah pentingnya kejujuran dalam beragama—menjadikan nilai-nilai ilahi sebagai prinsip yang hidup, bukan sekadar simbol yang diperingati. Semoga kesadaran itu tumbuh, dan agama benar-benar menjadi jalan pembebasan bagi seluruh manusia.[]









Comment