RADARINDONESIANEWS.COM, BANDUNG – Komunitas Kanjeng Massage Indonesia (KMI) bersama Pojok Sehat Batununggal (PSB) Bergelora menggelar pelatihan akupuntur dan pijat bayi sebagai pembekalan bagi peserta Lomba Pijat Nusantara Grand Master 3. Kegiatan berlangsung di Pasar Modern Batununggal Indah, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (30/5/2026).
Ketua KMI, R. Ds. H. Kanjeng Mas Bagusti, mengatakan pelatihan tersebut bertujuan memperkuat kemampuan peserta sebelum mengikuti kompetisi terapi pijat tingkat nasional tersebut.
“Pelatihan ini menjadi bagian dari fasilitas yang kami berikan kepada peserta. Bagi yang pernah belajar, ini menjadi sarana penyegaran. Bagi yang belum, tentu menambah wawasan dan keterampilan baru,” kata Bagusti.
Menurut dia, pelatihan akupuntur dan pijat bayi cukup diminati para terapis, baik perempuan maupun laki-laki. Meski tarif layanan pijat bayi relatif rendah, yakni berkisar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per sesi, layanan tersebut tetap memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.
“Kalau dikerjakan secara rutin, hasilnya cukup lumayan dibanding menunggu order pijat lain yang tarifnya lebih tinggi tetapi tidak selalu ada setiap hari,” ujarnya.
Peserta pelatihan mendapatkan sertifikat dengan biaya Rp100 ribu bagi peserta lomba dan Rp200 ribu untuk peserta umum. Setelah lomba selesai, peserta juga akan memperoleh pendampingan lanjutan dari PSB Bergelora untuk meningkatkan kemampuan praktik dan membuka peluang usaha mandiri.
“Melalui lomba ini kami bisa melihat kekurangan peserta sehingga dapat diberikan pembinaan lebih lanjut,” kata Bagusti.
Akupuntur untuk Gangguan Fisik dan Psikis
Pelatih akupuntur sekaligus perawat komplementer asal Bogor, Susintawati, menjelaskan bahwa akupuntur merupakan metode pengobatan yang telah dikenal selama ribuan tahun. Terapi ini bertujuan membantu mengembalikan keseimbangan fungsi tubuh.
“Kesehatan pada dasarnya adalah kondisi tubuh yang seimbang. Ketika keseimbangan itu terganggu, baik karena penyakit, faktor lingkungan maupun kondisi emosional, maka muncullah gangguan kesehatan,” ujarnya.
Menurut Susintawati, akupuntur tidak hanya digunakan untuk menangani gangguan fisik seperti stroke, hipertensi, gangguan lambung, sakit kepala, hingga masalah kesuburan.
Terapi tersebut juga dapat membantu mengatasi gangguan psikologis seperti stres dan kecemasan melalui stimulasi pada titik-titik tertentu di tubuh.
“Beberapa titik akupuntur dapat membantu memperbaiki kondisi psikis seseorang yang mengalami stres atau kecemasan,” katanya.
Ia menambahkan, akupuntur juga kerap dipadukan dengan terapi moksibusi atau moxa, yaitu teknik pemanasan titik akupuntur menggunakan gulungan herbal yang dibakar.
Meski demikian, terapi akupuntur tidak disarankan dilakukan pada orang yang sedang berada dalam kondisi emosional tidak stabil.
“Pasien yang sedang sangat gelisah atau marah sebaiknya tidak langsung menjalani terapi karena kondisi tubuhnya belum siap menerima stimulasi,” ujarnya.
Dorong Kolaborasi Antar Komunitas Terapi
Bagusti menilai perkembangan terapi tradisional dan komplementer di Indonesia semakin pesat. Berbagai metode terapi kini berkembang di tengah masyarakat dan diminati sebagai alternatif menjaga kesehatan.
Menurut dia, komunitas-komunitas terapi perlu memperkuat kolaborasi dan silaturahmi agar keberadaan profesi terapis semakin diakui masyarakat maupun pemerintah.
“Kita harus saling merangkul tanpa melihat latar belakang suku, agama, maupun komunitas. Tujuan kita sama, yaitu membantu menyehatkan dan menyejahterakan masyarakat,” katanya.
Ia berharap profesi terapis semakin mendapat pengakuan melalui peningkatan kompetensi, prestasi, dan standar layanan yang baik.
“Harapannya, para terapis bisa hidup lebih layak dan tidak lagi dipandang sebelah mata,” ujarnya.
Sementara itu, seorang terapis asal Bandung, Dindin, berharap keberadaan komunitas terapis dan herbalis dapat menjadi wadah silaturahmi, pembinaan, serta rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan komplementer.
“Kami berharap PSB Bergelora dapat menjadi pusat kaderisasi dan membuka peluang kerja bagi para terapis. Indonesia memiliki kekayaan metode pengobatan tradisional yang perlu terus dikembangkan,” katanya.[]













Comment