Krisis Dunia dan Absennya Kepemimpinan Global yang Berkeadilan

Opini59 Views

Penulis: Ikfa Asifal | Aktifis Muslimah, Finance Admin

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dominasi Amerika Serikat dalam bidang ekonomi, militer, dan budaya selama beberapa dekade kerap dipuja sebagai simbol kemajuan dunia modern. Namun di balik itu, ideologi kapitalisme yang menjadi fondasinya justru melahirkan ketimpangan struktural.

Negara-negara berkembang semakin terpinggirkan, dilemahkan, dan dipaksa beradaptasi dengan sistem global yang lebih berpihak pada akumulasi keuntungan ketimbang keadilan dan kemanusiaan.

Kapitalisme sekuler tidak hanya meminggirkan negara-negara lemah, tetapi juga mendorong pemisahan agama dari kehidupan publik. Nilai-nilai spiritual diposisikan seolah menjadi penghambat kemajuan, padahal justru di sanalah letak keseimbangan moral dan keadilan sosial.

Akibatnya, umat manusia—termasuk umat Islam—kehilangan panduan etik dalam mengelola kehidupan ekonomi, politik, dan sosial.

Berbagai krisis global hari ini tidak bisa dilepaskan dari arah kebijakan negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat, yang kerap abai terhadap tanggung jawab ekologis dan kemanusiaan.  Arogansi geopolitik tercermin dari berbagai intervensi, tekanan, hingga ancaman terhadap negara lain.

Venezuela hanyalah salah satu contoh terbaru, sementara banyak negara berkembang—terutama di dunia Islam—telah lama menanggung dampak eksploitasi sumber daya alam dan ketidakadilan global akibat kepemimpinan kapitalisme liberal.

Dalam konteks umat Islam, dampaknya jauh lebih mendalam. Kapitalisme sekuler liberal secara perlahan menggerus sendi-sendi akidah dan jati diri umat. Islam direduksi sebatas agama spiritual, terlepas dari perannya sebagai pedoman hidup yang mengatur urusan sosial, ekonomi, dan politik.

Akibatnya, praktik muamalah dipenuhi ketidakadilan, ketidakjujuran, serta penyalahgunaan kekuasaan demi kepentingan elite. Hukum tajam ke bawah, namun tumpul ke atas.

Tidak dapat dimungkiri, upaya memecah belah umat Islam juga menjadi bagian dari strategi global untuk menguasai sumber daya alam di negeri-negeri Muslim. Negara-negara berkembang dieksploitasi, sementara persatuan umat dilemahkan melalui sekat ideologi, politik, dan kepentingan jangka pendek.

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang meyakini?” (TQS Al-Maidah: 50).

Ayat ini menegaskan bahwa hukum Allah adalah landasan terbaik dalam mengatur kehidupan manusia secara adil dan bermartabat.

Islam sejatinya menawarkan solusi komprehensif melalui penerapan nilai dan hukum ilahiah dalam seluruh aspek kehidupan. Kepemimpinan Islam global yang berlandaskan wahyu bukanlah utopia, melainkan kebutuhan mendesak di tengah krisis dunia yang kian kompleks.

Kepemimpinan inilah yang berpotensi menghadirkan tatanan kehidupan yang penuh rahmat, tidak hanya bagi penguasa, tetapi bagi seluruh umat manusia—sebagaimana misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Karena itu, kebangkitan umat tidak cukup dengan kritik terhadap kapitalisme global semata. Ia harus dibarengi dengan kesadaran, pembelajaran, dan dakwah yang konsisten untuk menghadirkan kembali kepemimpinan Islam yang adil, berdaulat, dan berorientasi pada kemaslahatan semesta.
Wallahu a‘lam bish-shawab.[]

Comment