Penulis: Sri Mulyati, S.IP | Komunitas Muslimah Coblong
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam merespons persoalan kesehatan jiwa anak di Indonesia. Keseriusan tersebut ditandai dengan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan pimpinan kementerian dan lembaga negara.
Seperti diberitakan Kompas.com (7/3/2026), penandatanganan tersebut melibatkan sejumlah pejabat penting, di antaranya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Kepala BKKBN Wihaji, serta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Langkah ini diambil seiring meningkatnya perhatian pemerintah terhadap kondisi kesehatan mental anak-anak di Indonesia.
Sebagaimana dilaporkan Antaranews.com (5/3/2026), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menyampaikan bahwa persoalan kesehatan jiwa anak kini berada pada tingkat yang sangat mendesak untuk ditangani. Ia menyoroti sejumlah kasus tragis yang belakangan terjadi, mulai dari anak yang mengakhiri hidupnya sendiri hingga tindakan kekerasan yang dilakukan anak terhadap orang tuanya.
Data yang dihimpun pemerintah juga menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Seperti dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melalui Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024, sekitar 7,28 persen anak di Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa.
Dari jumlah tersebut, sekitar 62,19 persen juga mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir, baik dalam bentuk kekerasan fisik, emosional, maupun seksual.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak tidak bisa dipandang sebagai masalah individu semata. Fenomena ini lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial yang muncul akibat perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat.
Anak-anak kini tumbuh di tengah lingkungan yang sarat tekanan, mulai dari tuntutan akademik, dinamika pergaulan yang semakin kompleks, hingga paparan media digital yang sangat masif.
Dalam situasi demikian, tidak semua anak memiliki kesiapan mental yang cukup untuk menghadapi berbagai tekanan tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesehatan mental anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, serta kondisi sosial yang lebih luas.
Sebagaimana dilaporkan United Nations Children’s Fund (UNICEF) dalam laporan The State of the World’s Children (2021), tekanan sosial, kekerasan, ketidakstabilan keluarga, serta paparan media digital tanpa kontrol dapat meningkatkan risiko gangguan mental pada anak dan remaja.
Di sisi lain, anak-anak saat ini hidup di tengah arus budaya global yang sangat kuat. Media sosial, film, musik, hingga berbagai konten digital membentuk cara pandang baru tentang kehidupan.
Sayangnya, nilai yang sering ditampilkan justru menonjolkan kebebasan tanpa batas, kesenangan instan, serta pencapaian materi sebagai tolok ukur keberhasilan hidup.
Akibatnya, tidak sedikit anak yang tumbuh tanpa fondasi nilai yang kokoh dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Ketika tekanan hidup semakin besar, sementara ketahanan mental tidak terbentuk secara kuat, anak-anak menjadi lebih rentan mengalami stres, kehilangan arah, bahkan keputusasaan.
Dampak sistem sekuler liberal
Jika ditelusuri lebih jauh, meningkatnya krisis kesehatan jiwa anak tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan yang saat ini melingkupi masyarakat, yakni sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.
Dalam sistem ini, nilai-nilai agama tidak lagi menjadi landasan utama dalam mengatur kehidupan individu maupun masyarakat.
Akibatnya, standar kebahagiaan dan keberhasilan hidup lebih banyak ditentukan oleh ukuran materi. Paradigma tersebut melahirkan budaya kompetisi yang sangat kuat. Anak sejak dini diarahkan untuk mengejar prestasi akademik, karier, dan keberhasilan ekonomi.
Keberhasilan kemudian diukur melalui nilai, gelar, pekerjaan, atau status sosial. Sementara pembentukan kepribadian dan ketahanan mental sering kali tidak mendapatkan perhatian yang seimbang.
Kondisi ini diperkuat oleh dominasi industri media global yang digerakkan oleh logika kapitalisme. Media tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, tetapi juga menjadi alat yang membentuk cara pandang masyarakat.
Banyak konten yang menonjolkan gaya hidup bebas, individualisme, serta pencarian kesenangan tanpa batas.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai cultural globalization, yakni penyebaran nilai-nilai budaya global yang sering kali menggeser nilai lokal maupun nilai agama.
Dalam masyarakat yang dipengaruhi nilai sekuler liberal, pendidikan pun cenderung berorientasi pada pencapaian duniawi. Pendidikan di keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosial tidak sepenuhnya berpijak pada pembentukan akidah dan nilai spiritual yang kuat.
Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan orientasi hidup yang sempit, yakni mengejar keberhasilan materi semata. Ketika harapan yang dibangun oleh sistem tersebut tidak tercapai, banyak anak merasa gagal, tertekan, bahkan kehilangan makna hidup.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan faktor psikologis, tetapi juga sangat terkait dengan sistem nilai dan arah kehidupan yang dibangun oleh masyarakat secara keseluruhan.
Mengembalikan sistem kehidupan berbasis syariat
Meningkatnya krisis kesehatan jiwa pada anak sesungguhnya menjadi alarm bagi masyarakat bahwa ada yang keliru dalam arah kehidupan yang dijalani saat ini. Islam memandang bahwa persoalan manusia, termasuk kesehatan mental, tidak bisa dilepaskan dari sistem nilai yang membentuk kehidupan mereka.
Karena itu, solusi yang ditawarkan Islam tidak hanya bersifat kuratif, yakni penanganan setelah masalah muncul, tetapi juga bersifat preventif dengan membangun sistem kehidupan yang sehat secara menyeluruh.
Pertama, Islam menempatkan akidah sebagai fondasi utama dalam membentuk kepribadian manusia. Anak-anak yang tumbuh dengan pemahaman akidah yang kuat akan memiliki cara pandang hidup yang lebih kokoh.
Mereka memahami bahwa kehidupan tidak semata-mata diukur dari keberhasilan materi, melainkan dari ketaatan kepada Allah SWT.
Al-Qur’an menegaskan bahwa ketenangan jiwa hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Kedua, keluarga dalam Islam memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter dan kesehatan jiwa anak. Orang tua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga membangun keimanan serta akhlak anak sejak dini.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun Islam tidak hanya membebankan tanggung jawab pada individu dan keluarga. Dalam pandangan Islam, negara juga memiliki kewajiban besar dalam menjaga masyarakat.
Rasulullah SAW menggambarkan peran pemimpin sebagai pelindung umat. Beliau bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam konsep tersebut, negara berfungsi sebagai ra’in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) yang memastikan masyarakat terlindungi dari kerusakan sistem maupun nilai yang merusak kehidupan.
Karena itu, dalam Islam negara berkewajiban menjaga generasi dari pengaruh nilai-nilai yang merusak, termasuk nilai sekuler liberal yang menempatkan kebebasan dan materi sebagai tujuan utama hidup. Negara juga harus memastikan bahwa sistem pendidikan, kesehatan, dan ekonomi berjalan selaras dengan syariat Islam.
Pendidikan tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk kepribadian Islam. Sistem kesehatan tidak sekadar mengobati penyakit, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental dan spiritual masyarakat.
Sementara sistem ekonomi dijalankan dengan prinsip keadilan agar masyarakat tidak terjebak dalam tekanan hidup akibat kesenjangan dan eksploitasi.
Dengan demikian, upaya mengatasi krisis kesehatan jiwa anak tidak cukup hanya melalui kebijakan administratif atau program jangka pendek. Diperlukan perubahan paradigma yang lebih mendasar dalam mengatur kehidupan masyarakat.
Islam menawarkan sistem kehidupan yang menyeluruh, yang tidak hanya memperhatikan aspek fisik manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kebutuhan material, spiritual, dan sosial.
Jika kehidupan kembali dibangun di atas nilai-nilai Islam, maka lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak dapat tercipta. Anak-anak akan tumbuh dalam suasana yang menumbuhkan ketenangan jiwa, rasa aman, serta tujuan hidup yang jelas.
Dari sinilah akan lahir generasi yang kuat secara mental, tangguh menghadapi kehidupan, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran.[]









Comment