Krisis Kesehatan Jiwa Anak dan Kegagalan Sistem Sekuler

Opini768 Views

Penulis: Novita Darmawan Dewi | Mahasiswi Jurusan Manajemen, Universitas Terbuka

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pemerintah baru-baru ini menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak yang melibatkan sembilan kementerian dan lembaga negara.

Seperti dilaporkan ANTARA News, penandatanganan tersebut dilakukan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, serta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya persoalan kesehatan jiwa anak di Indonesia.

Laman ANTARA News dan  kesprimkom.kemkes.go.id mengungkapkan pemerintah mengakui bahwa kesehatan mental anak telah menjadi persoalan serius.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus bunuh diri pada anak serta berbagai bentuk kekerasan yang melibatkan anak menunjukkan tren peningkatan sehingga membutuhkan penanganan lintas sektor.

Melalui SKB tersebut, pemerintah berupaya memperkuat koordinasi antar kementerian dan lembaga dalam melakukan pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan masalah kesehatan jiwa anak secara lebih terintegrasi.

Sejumlah data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan faktor-faktor yang mendorong munculnya keinginan mengakhiri hidup pada anak.

Berdasarkan layanan kesehatan mental dan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pemicu terbesar berasal dari konflik keluarga yang mencapai sekitar 24–46 persen. Faktor lain yang turut berkontribusi antara lain masalah psikologis (8–26 persen), perundungan atau bullying (14–18 persen), serta tekanan akademik (7–16 persen).

Data ini memperlihatkan bahwa anak-anak hari ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks dari berbagai sisi kehidupan.

Pertanyaannya kemudian, apakah kebijakan administratif seperti SKB cukup untuk menyelesaikan persoalan yang begitu mendasar ini?
Krisis mental anak dan sistem kehidupan sekuler

Meningkatnya krisis kesehatan jiwa anak sejatinya tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan yang sedang berjalan. Sistem sekuler liberal yang mendominasi peradaban modern memisahkan agama dari kehidupan publik.

Dalam kondisi ini, nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat lebih banyak ditentukan oleh logika materi dan kepentingan ekonomi, bukan oleh nilai spiritual dan moral yang kokoh.

Akibatnya, standar kebahagiaan dan kesuksesan pun bergeser menjadi sangat materialistik. Anak-anak sejak dini didorong untuk mengejar prestasi akademik, popularitas sosial, serta capaian materi.

Ketika mereka tidak mampu memenuhi standar tersebut, tekanan mental pun muncul. Fenomena ini turut menjelaskan mengapa tekanan akademik dan praktik perundungan di lingkungan sekolah menjadi salah satu pemicu utama gangguan kesehatan jiwa anak.

Di sisi lain, keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertama perlindungan anak justru semakin rapuh. Konflik keluarga menjadi faktor terbesar dalam berbagai kasus keinginan bunuh diri pada anak.

Hal ini menunjukkan bahwa keluarga modern sedang mengalami krisis nilai dan fungsi. Dalam sistem kapitalistik, orang tua kerap disibukkan oleh tuntutan ekonomi sehingga waktu, perhatian, dan proses pendidikan bagi anak menjadi semakin terbatas.

Tidak berhenti di situ, hegemoni media global yang digerakkan oleh kepentingan industri kapitalisme turut mempercepat krisis nilai tersebut. Anak-anak terus-menerus terpapar konten digital yang sarat dengan kekerasan, gaya hidup hedonistik, serta budaya individualisme.

Tanpa filter nilai yang kuat, generasi muda mudah mengalami kegelisahan, kesepian, bahkan kehilangan makna hidup.

Pada titik ini, jelas bahwa persoalan kesehatan jiwa anak bukan sekadar masalah psikologis atau teknis kesehatan. Ia merupakan gejala dari krisis sistemik yang berakar pada paradigma sekuler liberal yang mengatur kehidupan masyarakat.

Islam menawarkan solusi sistemik
Karena akar masalahnya bersifat sistemik, solusi yang ditawarkan pun harus bersifat sistemik. Islam memandang negara memiliki tanggung jawab besar sebagai ra’in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi rakyatnya, termasuk dalam menjaga generasi muda dari kerusakan nilai dan lingkungan.

Dalam Islam, pendidikan tidak sekadar  menghasilkan tenaga kerja tetapi membentuk kepribadian Islam yang kokoh. Kurikulum disusun berlandaskan akidah Islam sehingga sejak dini anak memahami tujuan hidup, makna keberadaan manusia, serta tanggung jawabnya sebagai hamba Allah.

Dengan landasan spiritual yang kuat, anak memiliki ketahanan mental dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

Keluarga juga ditempatkan sebagai institusi utama dalam pembentukan generasi. Negara dalam sistem Islam memastikan kondisi sosial dan ekonomi yang memungkinkan keluarga menjalankan fungsi pengasuhan secara optimal.

Sistem ekonomi Islam menghapus eksploitasi kapitalistik sehingga orang tua tidak harus terjebak dalam tekanan ekonomi yang berlebihan.

Selain itu, negara juga mengatur media dan ruang publik agar tidak merusak moral masyarakat. Konten yang merusak akhlak, menormalisasi kekerasan, atau mempromosikan gaya hidup hedonistik tidak akan dibiarkan berkembang bebas.

Dengan demikian, lingkungan sosial menjadi lebih kondusif bagi pertumbuhan mental anak yang sehat.
Lebih dari itu, sistem kesehatan dalam Islam bersifat komprehensif.  Pelayanan kesehatan tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan.

Negara memastikan layanan kesehatan dapat diakses seluruh masyarakat tanpa komersialisasi. Pendekatan kesehatan jiwa pun tidak semata menekankan aspek psikologis, tetapi juga aspek spiritual dan moral.

Karena itu, krisis kesehatan jiwa anak sejatinya menjadi alarm keras bagi masyarakat untuk mengevaluasi sistem kehidupan yang ada. Selama paradigma sekuler liberal kapitalistik tetap menjadi dasar pengaturan kehidupan, berbagai kebijakan teknis hanya akan menjadi solusi tambal sulam yang tidak menyentuh akar persoalan.

Umat Islam perlu menyadari bahwa sistem sekuler liberal yang merusak nilai keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial harus dikritisi secara mendasar. Perjuangan dakwah tidak cukup berhenti pada perubahan individu semata, tetapi perlu diarahkan pada perubahan sistem menuju penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan Khilafah.

Dengan sistem yang berlandaskan wahyu, negara dapat menjalankan perannya secara utuh sebagai pelindung generasi. Anak-anak tidak hanya tumbuh sehat secara fisik dan mental, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, tujuan hidup yang jelas, serta kesiapan menjadi generasi penerus peradaban Islam.

Krisis kesehatan jiwa anak yang terjadi hari ini seharusnya menjadi momentum bagi umat untuk kembali menata kehidupan berdasarkan nilai-nilai Islam.

Sebab hanya dengan sistem yang bersumber dari syariat Allah, generasi dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat, bermakna, dan penuh harapan.
Wallahu a’lam.[]

Comment