by

Lia Aliana: Mengenang  Pembantaian Muslim Di Srebrenica, Umat Butuh Pelindung

-Opini-45 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tak banyak muslim yang tahu bahwa ada peristiwa penting terjadi di bulan Juli. Sebuah tragedi besar sepanjang sejarah dunia Eropa telah menorehkan duka nestapa bagi seluruh dunia khususnya kaum muslimin. Malapetaka dahsyat memakan banyak korban hingga menghilangkan satu peradaban dunia.

Kisah pilu tersebut terjadi pada 11 Juli 1995 di kota Srebrenica pasca runtuhnya Yugoslavia. Pengepungan, pemberontakan hingga pembunuhan massal dilakukan oleh serdadu Serbia Bosnia kepada lebih dari 8.000 Bosniak (umat muslim Bosnia).

Tindakan sadis itu dikenal sebagai pembersihan etnis terhadap umat muslim yanng masih bagian dari Yugoslavia. Selama kurang lebih dua minggu secara sistematis juga bengis pasukan Serbia Bosnia melancarkan aksinya. Dipisahkannya pria dewasa dan anak laki-laki lalu ditembak, ribuan orang lainnya didorong ke kuburan massal untuk dibuldoser, sisanya dikubur hidup-hidup. Sementara perempuan dan anak-anak direnggut kehormatannya.

Meski kuburan massal itu terjadi berpuluh tahun silam, namun hingga kini kepedihan masih terngiang jelas. Duka dan air mata mengiringi proses peringatan 25 tahun pembantaian Srebrenica meski di tengah pandemi corona.

Dilansir dari CNN Indonesia, Sehad Hasanovic adalah salah satu dari sekitar tiga ribu kerabat korban yang menghadiri peringatan tersebut. Dia memiliki seorang putri berusia dua tahun, usianya sama ketika dia kehilangan ayahnya. “Sulit ketika kau melihat seseorang memanggil ayah mereka dan kau tidak memilikinya,” kata Hasanovic sambil menangis, dikutip dari AFP, Minggu (12/7).

“Para suami dari empat saudara perempuan saya terbunuh,” kata Ifeta Hasanovic, yang suaminya Hasib merupakan salah satu dari sembilan korban yang jasadnya telah diidentifikasi sejak Juli 2019. “Adikku terbunuh, begitu juga putranya. Ibu mertuaku kehilangan putra lain dan juga suaminya,” lanjutnya.

Menyakitkan mengenang peristiwa berdarah tersebut, jiwa manusia tak lagi berharga, kehidupan yang merupakan hak dasar setiap individu telah dirampas. Di mana pejuang hak asasi manusia? Mengapa bungkam atas kekejaman ini?

Ke mana kaum muslimin harus mengadu dan berlindung? Bukankah menurut Dewan Keamanan PBB Srebrenica merupakan daerah aman, bebas dari serangan bersenjata atau tindakan permusuhan lainnya? Nyatanya hal itu hanya isapan jempol. Bahkan PBB yang merupakan polisi dunia menutup mata atas kebiadaban tentara Serbia kala itu.

Dikutip dari laman BBC News.com, Pasukan penjaga perdamaian PBB yang memegang senjata ringan, yang ada di wilayah yang dinyatakan sebagai “daerah aman” PBB, tidak melakukan apa-apa ketika kekerasan berkobar di sekitar mereka.

Mantan Sekretaris Jenderal Kofi Annan kemudian menyatakan: “Tragedi Srebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB.”

Insiden ini mengerucut pada opini bahwa jargon keadilan yang diteriakan PBB hanyalah bualan. Justru nampak jelas lembaga perdamaian dunia ini menjadi alat untuk melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk melampiaskan hasrat kebenciannya terhadap Islam dan pengikutnya.

Bercermin dari kasus Srebrenica menjadi pelajaran berharga bagi generasi umat masa kini. Meski kaum muslim adalah mayoritas di dunia namun ketika kehilangan pelindung dan pengayom, tak ubahnya seperti buih dilautan. Lemah dan terombang ambing bagai anak yatim piatu kehilangan induknya. Ukhuwah Islamiah juga ikatan persaudaraan tak lagi mampu mengikat, karena tersekat oleh nasionalisme.

Ketiadaan penjaga umat (khilafah) menjadi pangkal permasalahan. Bak jamur di musim hujan, penjajahan dan penindasan tumbuh subur di negeri Islam. Palestina, Rohingya, Uighur, Suriah adalah korban kejahatan sistem yang telah menjerat kaum muslim.

Sungguh keadilan dan penjagaan Islam terhadap jiwa warga negaranya tak diragukan lagi. Yahudi, nasrani, muslim semua hidup damai berdampingan tanpa membedakan haknya. Hewanpun tak luput dari perhatian, Umar bin Khattab pernah berkata “jikalau ada jalan di daerah Irak rusak karena penanganan pembangunan yang tidak tepat, lalu seekor keledai terperosok kedalamnya, maka ia (Umar) bertanggung jawab karenanya.”

Kisah heroik lainnya terjadi di kota Amuriah (Turki). Almu’tashim billah pemimpin kaum muslim (khalifah) menyambut jeritan seorang budak muslimah yang dilecehkan oleh orang Romawi dengan puluhan ribu pasukan. Tentara kaum muslimin berbaris rapi memanjang dari gerbang istana Baghdad hingga kota Amuriah (Turki) untuk melindungi rakyatnya dari tindak kriminalitas.

Hati jadi sendu sekaligus rindu membayangkan ajaran Islam rahmatan lil alamin dapat dirasakan keagungannya di seluruh penjuru dunia. Dan dengannya pula kemuliaan dan martabat kaum muslimin terjaga. Karena kehadirannya berfungsi sebagai perisai, penjaga dan pemelihara umat.

Sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw ”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll). Wallahu a’lam bish shawab.[]

Refrensi :
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-53372241
https://m.cnnindonesia.com/internasional/20200712113724-134-523694/bosnia-peringati-25-tahun-pembantaian-muslim-di-srebrenica

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − seven =

Rekomendasi Berita