by

ESA Mardiah*: Elegi Motor Butut Arie

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pemuda berwajah klasik itu berkali-kali mengelus motor antik di sampingnya. Tapi jangan bayangkan keantikannya sama dengan Harley Davidson atau Moge – moge lain yang bisa dipakai untuk keliling dunia. Yang satu ini jalannya dengan bebek asli di sawah saja mungkin masih kalah.

Entah cinta atau terpaksa, tapi motor ini adalah belahan jiwanya. Sahabat sejati di kala suka dan duka. Mengantar dia kuliah, kajian kemana-mana bahkan mengerjakan tugas negara. Ya seperti hari ini, kakak tercinta ingin ikut ke Cianjur dengan paket hemat, cepat, dan selamat.

Cianjur dan kota hujan adalah dua kota legenda. Ada Puncak yang keloknya seperti isyarat bahwa kehidupan seindah apapun, pasti berliku. Ada tanjakan, kemudian menurun.

Rentet kendaraan macet adalah pemandangan biasa, terlebih akhir pekan. Destinasi wisata murah meriah saat tak bisa menyewa Vila. Cukup ngopi dan jagung bakar di warung pinggir jalan yang berjajar.

Matanya memanas di antara peluh yang menderas. Tapi tatapannya tajam ke depan, masih berusaha tersenyum menutupi gelisah.

“Jangan _ngadat_ sekarang, pliss, kakakku yang rada-rada sok sibuk sedang terburu-buru…,” Jeritnya dalam hati sambil kembali menyela mesin sepeda motornya yang mendadak mati hampir tiap 30 meter sekali.

Parahnya saat jalan memasuki kawasan Puncak yang menanjak.

Ini adalah mogok yang ke dua puluh tujuh kali. Dan sesering itu pula Arie membujuk kakaknya untuk melanjutkan perjalanan dengan naik mobil angkutan umum saja. Atau taksi barangkali.

Tapi lagi-lagi sang kakak menggeleng pasti. Arie bingung tak mengerti, kakaknya ini pelit, ngirit atau tidak punya duit.

Langit Puncak mulai memekat, sedikit saja yang masih kemerahan di ufuk barat. Hari menjelang magrib.

Akhirnya tidak ada lagi mogok yang ke dua puluh delapan kali. Mesin benar-benar mati. Berharap menemukan bengkel las ketok pun rasanya tidak mungkin, ini kawasan kebun teh. Yang terdengar hanya suara jangkrik tertiup angin. Krik…krik…

Berjalan kaki menyusuri jalanan Puncak yang mulai gelap, dengan jalanan menanjak. Sementara di samping kanan masih harus memapah motor kesayangan.

Tidak ingin dia tinggalkan, walau sang kakak berkali-kali menyarankan. Sepertinya terlanjur sayang, seperti lagu Memes tahun 90-an. Ah…

*******

Bogor – Cianjur di hari Minggu.
Menuju Cianjur selalu membuat bersemangat. Dalam ingatan berjuta kenangan teramat lekat.

Di sana aku dilahirkan, tumbuh, masa-masa indah sekolah, pernah jatuh cinta, patah hati, bahagia dan sedih. Mengukir tawa sekaligus tangis. Sampai kemudian di kota hujan aku mengembara untuk kuliah.

Dan tepat tiga hari setelah aku wisuda, orang yang paling kucintai pergi untuk selamanya, mama…

Hari ini kusengajakan ikut adikku ke Cianjur. Kupikir bakal cukup hemat waktu karena sistem buka tutup satu arah kadang cukup merepotkan jika kita salah perhitungan.

Menunggu berjam-jam mobil bisa jalan tidak mungkin jika kita sedang terburu-buru. Bisa nangis bombay sambil nyanyi lagu lawas, Kisah Sedih Di Hari Minggu.

Niatku memenuhi undangan pernikahan sepupu, sekaligus berziarah ke makam mama, tapi kali ini aku juga sedang tidak bisa ke Cianjur berlama-lama bersama keluarga.

Jadi niatku pulang pergi dengan estimasi perjalanan sesingkat-singkatnya, boncengan dengan adikku tercinta, Arie, Arie Tanwirul Qulub namanya.

Mama, bayi kecil yang dulu tak sempat mengingat wajahmu ini kini sudah menjelma menjadi seorang pemuda kuat.

Dulu dia kugendong-gendong, kuajak kesana kemari, ke puskesmas, ke posyandu sampai untuk ngaji. Tapi kemudian akan kualihkan saat dia merengek ingin jajan.

Hari ini dia memboncengku, mengkhawatirkan urusanku.

Aku hampir frustrasi ketika motor itu mogok berkali-kali. Tapi kusembunyikan dan berusaha tetap tenang. Dalam hati beristighfar, duh jangan-jangan ini gegara berat badanku yang pesat lagi atau justeru dosaku yang menggunung tinggi.

Aku tahu Arie lelah, keringat membuat bajunya basah. Tapi yang kuperhatikan, tak sekalipun kudengar dari mulutnya keluh-kesah. Aku bangga.

Ketika aku masih tertinggal beberapa langkah di belakang, Arie menungguku sabar. Dan meminta agar aku berjalan lebih dulu di depan.Tapi baru beberapa kelokan, Arie tiba-tiba menghilang.

Aku panik mencari, ternyata Arie jatuh tertimpa motornya. Dia berusaha bangun dengan susah payah.

Sebenarnya aku tak tega. Tapi aku masih mencoba menguatkannya.
“Sabar, sebentar lagi ada turunan.”

Terselip rasa syukur tak terhingga. Arie bayi kecil yang mama titipkan sudah dewasa, bahkan lebih dewasa dari umurnya.

Saat dia menyambut kajian yang kutawarkan, untukku itu sudah membahagiakan. Saat kutahu dia mau dan tak malu kuliah sambil berjualan, untukku itu bonus kebaikan.

Menjual kerupuk, kerudung, apapun itu asal halal menurutmu. Bahkan ngojek syar’i pun kau jalani. (Hiii, seperti apa sih?

Ya, dia akan pilih penumpang laki-laki dan tidak akan mau jika perempuan tak muhrim) Sungguh bangga-ku tak terkata.

Seperti hari ini, percayalah kau tak akan pernah lupa. Kelokan panjang yang kau tempuh tanpa keluh, menunjukan kesiapanmu menghadapi hidup.

Saat satu waktu motormu berganti baru, atau paling tidak lebih baik dari hari ini, tetaplah menghargai hal kecil.

Karena pasti akan ada pelajaran besar yang bisa kau ambil. Nikmati prosesmu, agar suksesmu tak semu.[]

*Penulis seorang bidan

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 4 =

Rekomendasi Berita