Senyum Naila (Cerbung)

Cerpen785 Views

 

 

Oleh: Dewi Nila Kencana, Siswi SMP Negeri 1 Simpang Empat, Tanah Bumbu

___________

 

Kring… kring… kring…, aku terbangun dari mimpi indah setelah mendengar bunyi alarm yang sangat keras. Sesaat, aku melihat ke arah alarm dan mematikannya. Jantungku seolah keluar dari tempatnya, debarannya terasa sangat kencang.

“Astaghfirulah! Aku telat.” teriakku, sembari melompat dari kasur. Nanar pandanganku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7 45 menit.
Aku pun bergegas mandi dan bersiap untuk ke sekolah.

Seperti biasa, aku berjalan kaki ke sekolah karena jarak sekolah sangat dekat dengan rumahku. Sesampainya di sekolah, ternyata aku terlambat. Aku mendapatkan sanksi 20 poin sesuai dengan peraturan di sekolahku.

Seketika rasa sedih menggelayut dalam hati, wajahku pun berubah murung. Aku merasa sangat kesal dan kecewa kepada diriku sendiri.

“Mengapa aku tidak bisa disiplin dalam masalah sekecil ini?” batinku di dalam hati.

Sesampainya di kelas aku melihat sahabat karibku yang bernama Tari berdiri di depan kelas.

“Kenapa Naila ? Masih pagi sudah cemberut saja,” tanya Tari.

“Iya nih Tar, lagi badmood, tadi terlambat lima menit datang ke sekolah dapat poin dua puluh.” jawabku.

“Ooh… terlambat! biasa itu, aku juga sering terlambat, santai saja dong, hahaha.” balas Tari.

Aku tidak melanjutkan percakapan dan segera berjalan ke arah tempat dudukku karena masih kesal dengan kejadian tadi.

Pelajaran pertama pun dimulai. Matematika! Rasanya keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku, sudah terlambat dan mendapatkan poin, masih harus berhadapan dengan mata pelajaran yang sangat aku sangat benci. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, lengkap sudah derita.

“Baik anak-anak, hari ini ada ulangan ya!” ucap guru matematika.

Aku tercengang karena tidak mengingat bahwa hari ini akan diadakan ulangan. Walaupun sudah memahami materi cukup baik, itu saja tidak cukup untuk membuat nilaiku memuaskan. Karena biasanya, sebelum diadakan ulangan aku belajar untuk mengingat kembali materi yang akan diuji.

Daya ingatku memang sangat terbatas. Ulangan berlangsung selama satu jam setelah selesai dikoreksi, nilai pun dibagikan. Aku mendapat nilai 75.

“Anak- anak, nilai batas tuntas untuk pelajaran matematika adalah 75. Bagi yang merasa nilainya di bawah batas tuntas, silakan mengikuti remedial minggu depan!” seru Bu Siti, guru matematikaku.

Alhamdulillah, nilaiku pas dengan batas tuntas. Walaupun tidak begitu memuaskan, setidaknya aku tidak perlu mengikuti remedial minggu depan.

Setelah jam pelajaran di sekolah berakhir, aku berjalan pulang bersama sahabatku, Tari. Rumah Tari tidak jauh dari rumahku. Aku selalu pulang bersamanya. Namun ketika berangkat sekolah, dia jarang bersamaku karena ia lebih sering berangkat sekolah bersama ayahnya. Kami berjalan sambil membicarakan ulangan matematika yang dilaksanakan di sekolah tadi.

“Nilai ulanganmu tadi bagaimana Tar,” tanyaku.

“Lumayan sih, nilaiku 90, kamu gimana?” balas Tari

“Aku tidak belajar, nilaiku hanya 75. Tapi alhamdulillah masih tuntas,” jawabku.

“Tidak apa-apa, yang paling penting kita tidak remedial.” balas Tari lagi.

Tari memang salah satu murid berprestasi di sekolah, Ia mendapat peringkat 1 paralel sejak kelas VII sampai sekarang duduk di kelas IX.

Tidak terasa aku sudah sampai di depan rumah, setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Tari, aku pun segera masuk rumah.

“Assalamualaikum.” salamku sambil memasuki rumah.

“Waalaikumsalam.” balas ibu dan kakakku.

“Dek! lihat deh Kaka dapat apa?” ucap kakakku sambil memamerkan tropi besar yang baru didapatkannya dari lomba debat di kampus.

“Dek, lihat kakakmu itu lho menang lomba lagi, kamu bisa nggak kayak kakakmu.” balas ibuku.

“Iya, Kakak kan emang pinter nggak kaya Adek!” jawabku yang iri dengan kecerdasan kakakku.

“Jangan berkecil hati gitu dong! Makanya belajar lebih giat lagi biar bisa menang lomba juga!” balas kakakku.

Kakakku yang bernama Regina ini sangat pintar dalam berbagai hal, multitalent. Dia kuliah di umur 18 tahun karena program akselerasi yang bisa membuat dia lulus lebih cepat dari orang seumurannya.

Dia sangat baik kepadaku, kadang ia membantuku mengerjakan tugas ketika kesulitan. Orangtuaku sering membandingkan kecerdasannya denganku. Aku memang tidak secerdas kakakku. Orang tuaku bahkan menganggapku anak yang tidak punya keistimewaan apa-apa.

Sedih sekali bila mengingat hal itu. Sering aku menyesali diriku yang terlahir bodoh. Mengapa aku tidak seperti kakakku? Apalagi jika kakakku meraih suatu prestasi, orang tuaku pasti akan memojokkanku.

“Tuh Naila! Lihat kakakmu! Dia meraih IPK 4.00 lagi. Kamu kapan bisa berprestasi seperti kakakmu?” kalimat yang sering kali dilontarkan bahkan mulai menghantuiku

Mataku mulai berembun, siap memuntahkan banjir air mata. Keberadaanku memang seolah tak berarti apa-apa bagi orangtuaku. Ingin rasanya kuakhiri saja hidup ini.

(Bersambung)

Comment