Senyum Naila (Cerbung bagian 4)

Cerpen746 Views

 

Oleh: Dewi Nila Kencana, Siswi SMPN 1 Simpang Empat, Tanah Bumbu

__________

Satu tahun berlalu setelah tragedi yang menimpa kakakku, terjadi pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Bisnis orang tuaku bangkrut, lagi-lagi lagi keluargaku ditimpa musibah. Ayahku menjadi buruh kasar di pasar untuk menghidupi keluarga kami. Aku bekerja paruh waktu untuk menambah pemasukan. Karena terlalu sibuk bekerja, nilaiku di sekolah semakin anjlok.

Setelah semua musibah yang menimpa keluarga kami, ayah dan ibuku menjadi sangat intens dengan nilaiku di sekolah. Mereka tidak sadar, sekeras apapun aku berusaha, nilai-nilaiku tetap tidak maksimal. Memang aku terlahir tidak cerdas. Tadinya aku mengira, sepeninggal kakakku, mereka akan lebih menyayangi aku. Namun itu tidak terjadi, mereka tetap saja membanding-bandingkan diriku dengan mendiang kakakku.

Keberadaanku seolah tak dianggap. Sekali lagi hatiku terluka. Mengapa aku tidak mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari kedua orangtuaku.

Mereka menuntutku untuk mendapatkan beasiswa masuk ke perguruan tinggi. Karena orangtuaku tidak akan sanggup membayar biaya kuliahku nantinya mengingat kondisi ekonomi keluarga kami saat ini.

“Naila, kan Ayah sudah bilang perbaiki nilai jamu. Kenapa masih belum ada perubahan?” reaksi ayah ketika melihat nilai ulanganku tempo hari.

Ayah tidak mengetahui kalau aku bekerja paruh waktu.

Ibu pun menimpali ucapan ayah.
“Iya kamu nggak bisa terus- terusan seperti ini Nai, mau dapat beasiswa tidak?” ucap ibu.

“Maaf Yah, Naila kurang maksimal belajarnya” sahutku.

“Ulangan selanjutnya kalau nilai kamu masih kurang maksimal Ayah sita ponselmu!” ucap ayah.

Setelah percakapan itu aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku menyalahkan diriku sendiri karena nilaiku yang sangat menurun. Aku menangis sambil menyetel musik agar tangisanku tidak terdengar oleh ayah dan ibu.

Mengapa aku terlahir tidak cerdas seperti kakakku? Mengapa pula orangtuaku tak kunjung menyayangiku. Mengapa mereka tidak adil padaku?

Sekarang aku duduk di bangku kelas XII. Aku belajar semaksimal mungkin agar bisa memenuhi ekspektasi orangtuaku untuk mendapatkan beasiswa. Waktu semakin dekat menjelang pendaftaran masuk ke jenjang perguruan tinggi.

Saat di sekolah aku berbincang dengan Tari.

“Kamu rencana kuliah mau ambil jurusan apa Tar?” tanyaku.

“Kedokteran sih rencananya tapi kalau bisa sih ha..ha..ha.m. soalnya masuknya lumayan susah, kalau kamu bagaimana Nai?” Tari membalikkan pertanyaannya kepadaku.

“Kalau aku sih rencananya mau mengambil les vokal saja sesuai bakat aku terus lanjut nanti cari kerja, tapi nggak direstui orang tuaku. Mereka maunya aku masuk kedokteran seperti mendiang kakakku dulu” balasku.

“Kenapa nggak masuk kedokteran saja kalau begitu? Kan bagus juga kedokteran” balas Tari.

“Nggak bisa Tari, ekonomi keluargaku lagi sulit. Seandainya aku diterima pun, orang tuaku tidak akan mampu membayar biayanya, jalan satu satunya beasiswa. Tapi melihat kemampuanku, sepertinya agak sulit untuk dapat beasiswa kan aku nggak sepintar Kkmu” sahutku menyanjung Tari.

“Kamu jangan begitu dong, aku bisa terbang nanti ha..ha..ha.. ayo semangat. Pasti bisa kok, nanti kita belajar bareng ya” ucap Tari.

“Kan kenyataan, ha..ha..ha… Ok nanti kita belajar bareng.” balasku sekaligus mengakhiri percakapan kami yang cukup panjang.

Aku menyiapkan diri untuk mendaftar program beasiswa yang diinginkan oleh orangtuaku. Hanya tersisa beberapa minggu menjelang tes tahap satu dimulai.

Aku bekerja paruh waktu menjadi penyanyi di salah satu restoran. Suaraku cukup bagus hingga membuatku diterima bekerja di bidang itu. Suatu hari saat aku sedang bekerja, aku bertemu dengan tetangga yang tinggal di dekat rumahku sekaligus teman ibuku. Ternyata ia mengenaliku.

“Kamu Naila anak ibu Sri kan?” tanya tetanggaku.

Sebenarnya aku tidak terlalu mengenalnya secara dekat, tetapi ibuku sangat dekat dengannya.

“Iya Bu, ” jawabku
“Kamu kerja di sini Nak?” tanyanya lagi
“Iya Bu, lumayan buat tambah pemasukan.” ucapku

“Oh oke deh, Ibu mau pesan dulu ya?” ucap teman ibuku

“Oh iya Bu, silakan.” jawabku mengakhiri percakapan

Setelah pekerjaanku selesai, aku segara berkemas untuk pulang. Sesampainya di rumah, aku melihat ayah dan ibu berada di kamarku.

Ternyata mereka menemukan nilai yang kusembunyikan. “Wah habis aku hari ini.” batinku.

“Nilai kamu bukannya meningkat malah semakin menurun.” ucap ayahku yang sangat emosi.

“Kemana saja kamu sampai jam begini baru pulang?” ucap ibuku menyambung perkataan ayah.

“A..aku tadi mengerjakan tugas kelompok di tempat Tari.” Aku terpaksa berbohong karena apabila mereka tahu aku bekerja maka orangtuaku akan marah besar. Apalagi nilaiku yang tidak ada perubahan dari minggu sebelumnya.

“Bohong lagi, bohong lagi, Kamu kayanya sering banget ya bohong sama orangtua” aku terkejut mendengar respon ayah.

Mengapa ayah tahu aku berbohong apakah ayah sudah tahu sejak awal.

“Maksud Ayah apa?” tanyaku
“Ini foto apa Naila? Kamu kerja kan? Ngaku saja, tadi teman ibu liat kamu lagi kerja di restoran pas dia makan.” ucap ibu sambil menyodorkan ponselnya yang berisi fotoku saat sedang bekerja.

Sudah kuduga ternyata ada yang mengadukanku, siapa lagi kalau bukan tetanggaku.

“Memangnya kamu mau beli apa sih sampai pakai acara kerja segala, uang saku yang Ayah kasih memangnya nggak cukup?”  tanya ayah.

“Bukan begitu Ayah, Naila hanya mau menabung untuk berjaga-jaga saja.” jawabku. Aku sangat takut melihat orangtuaku marah.

“Mulai besok jangan bekerja di tempat itu lagi, dan satu lagi ponselmu akan Ibu sita, biar Kamu fokus dengan tes masuk perguruan tinggi, ” balas ibu

Setelah itu ibu keluar dari kamarku.
Aku tidak membalas ucapan ibu dan langsung berbaring ke atas kasur. Aku teringat kakakku.

“Apakah kalau saat ini dia masih ada keadaan akan berbeda dari sekarang?” batinku.

Air mata bercucuran tanpa dikomando.
Temaram malam menambah pilu, meninggalkan kepedihan yang semakin menyiksa. [SP]

(Bersambung)

Comment