by

Lisnawati*: Mahar Sendal Jepit, Hinakah?

-Opini-67 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Beberapa hari lalu jagad maya dihebohkan dengan tersebarnya video yang berasal dari youtube yaitu pernikahan sepasang sejoli yang berasal dari Lombok Tangah, Nusa tenggara barat yang bernama Yudi Anggata dan Helmi Susanti.

Pasangan yang menikah pada hari Jumat, 03 Juli 2020 berhasil menarik perhatian netizen karena pada pernikahan mereka menggunakan mahar berupa sepasang sendal jepit dan segelas air putih.

Meninggalkan pro dan kontra pada kasus mahar sendal jepit. Lantas, bagaimana pandangan kita sebagai seorang muslim? mari kita pahami mahar yang baik dalam sudut pandang Islam.

Mahar adalah pemberian dari pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan. Dalam Islam hukum mahar adalah wajib – artinya, pengantin laki-laki terikat hukum syara yang kuat untuk memberikan mahar kepada pengantin perempuan dan akan mendapatkan siksa Jika dengan sengaja meninggalkannya.

Dalil Wajibnya Mahar Pernikahan dalam Islam Allah berfirman dalam surat
An-Nisa ayat 4:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

“Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (TQS. An-Nisa[4]: 4)

Mahar yang baik dalam Islam adalah yang tidak memberatkan pengantin laki-laki sebagaimana yang tertulis dalam salah satu hadist.

Rasulullah SAW pernah mengatakan:

‘‘Sebaik-baik wanita ialah yang paling mudah maharnya.’’ (HR. Ahmad, ibnu Hibban, Hakim & Baihaqi)

Islam memperbolehkan mahar dalam bentuk apa saja tidak hanya uang atau emas misal seperti sebutir kurma atau peralatan rumah tangga namun dalam hal ini pengantin wanita memiliki hak penuh untuk menentukan mahar.

Keridhaan dari pengantin wanita pulalah yang akan menentukan sah atau tidaknya mahar tersebut, karena tujuan mahar adalah untuk memuliakan pengantin wanita.

Maka dalam hal ini, adanya mahar memang menjadi syarat sah dalam suatu pernikahan tapi tidak menjadikan nilainya harus mewah atau bernilai mahal.

Karna perempuan shaleha akan meringankan mahar sebagai tanda tunduknya ia pada sunah Rasulullah SAW. Sedangkan laki-laki saleh akan berusaha untuk memperindah mahar sebagai wujud taat kepada perintah Allah SWT. Wallahu’alam.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − 2 =

Rekomendasi Berita