by

Rheiva Putri Rahmawati Sanusi*: Ke Mana Arah Kurikulum Moderasi Sesungguhnya?

-Opini-17 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Seperti yang kita ketahui libur sekolah ditengah pandemi corona saat ini telah selesai. Kemendikbud menetapkan bahwa tahun ajaran 2020/2021 akan tetap dimulai sesuai jadwal tapi masih dilakukan secara daring tanpa tatap muka.

Dengan adanya tahun ajaran baru, bukan Indonesia jika tak disertai aturan baru untuk sistem pendidikan di negeri kita ini.

Dikutip dari Detiknews.com, Memasuki tahun ajaran 2020/2021, madrasah menggunakan kurikulum Pendidikan Agama Islam atau PAI dan Bahasa Arab yang baru. Kurikulum tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Agama atau KMA 183 tahun 2019.

Lalu apa yang menjadi masalah? Bukankah hanya pergantian kurikulum? Apa yang menjadi penyesatan?

Perlu kita perhatikan disini bahwa kurikulum yang baru ini bukanlah bentuk perbaikan kurikulum menjadi lebih baik. Tapi adanya perubahan atau revisi dalam materi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab.

Di mana materi terkait Khilafah hanya dijadikan materi sejarah Islam saja serta materi Jihad ditulis dalam prespektif perjuangan membangun peradaban.

Dalam kurikulum ini sangat terlihat jelas penjauhan agama dari kehidupan (sekulerisme). Memang tak dihilangkan agama dari masyarakat, namun kian dirombak sesuai dengan jaman dan hanya sekedar ibadah individual saja.

Sekulerisme ini mulai dijejali sedikit demi sedikit dalam kehidupan dengan alasan moderasi beragama. Moderasi agama disini dapat dimaknai sebagai cara pandang, sikap dan perilaku dalam beragama yang selalu mengambil posisi ditengah tengah. Selain itu selalu bertindak adil, seimbang dan tidak ekstrim dalam beragama.

Moderasi beragama ini sungguh sangat bertentangan dengan Islam. Sebab dalam Islam tak bisa seorang muslim mengambil jalan tengah, Islam sudah mengatur dengan jelas yang benar dan salah langsung dari sang pencipta yang sangat tau akan apa kekurangan kita sebagai manusia.

Jika yang dimaksud “tidak ekstrim dalam beragama” adalah hanya boleh melakukan ibadah hanya yang sesuai dengan kondisi saat ini, itupun benar-benar salah. Sebab kita harus menerapkan Islam secara kaffah/menyeluruh.

Termasuk materi Khilafah dan Jihad ini sangatlah penting dalam Islam, dan tak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Sebab keduanya adalah hal yang wajib dalam Islam, jika keduanya dijauhkan atau hanya dipandang sebagai sejarah dan hanya sekedar dimaknai itu sangat berbahaya.

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai muslim untuk mewujudkan kehidupan islam, dan menciptakan masyarakat yang Islami. Maka tak seharusnya kurikulum seperti itu diterapkan di negeri dengan mayoritas muslim tersebut.

Hal ini tak menjadikan diskriminasi bagi para non muslim, toh semua itu dipelajari oleh orang-orang muslim saja tanpa harus memaksa non muslim untuk mempelajarinya.[]

*Mahasiswi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 16 =

Rekomendasi Berita