by

Mala Oktavia*:Mustahil Menciptakan Generasi Beradab di Alam Pendidikan Sekuler

-Opini-21 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setiap kali melihat perkembangan sains dan teknologi, justru semakin bertambah pula krisis moral multidimensi.

Tidak hanya pada skala individu, tetapi kerusakan moral telah menyusupi pikiran masyarakat dan negara. Sekolah dan universitas pencetak generasi beradab telah kehilangan arah mewujudkan cita-cita besar tersebut.

Hanya lahir generasi dengan lembaran ijazah tanpa kualitas memadai dan kosong akan moral. Padahal kurikulum telah diubah dan direvisi berulang kali.

Namun, nyatanya tak memberi dampak yang signifikan pada siswa. Kebobrokan adab justru semakin menambah panjang daftar masalah generasi bangsa ini.

Ekspresi kaum muda kini berubah menjadi liar ala kebebasan Barat. Mereka tak malu lagi menunjukkan kebobrokan sikap, baik di depan guru ataupun masyarakat umum. Bullying, kebohongan, seks bebas, pacaran, narkoba, gaya berpakaian yang erotis, dan sejumlah sikap amoral lain nampak membudaya pada generasi belakangan ini.

Paparan tsaqofah Barat yang dengan gencarnya masuk ke dalam pikiran generasi muda, membuat mereka jauh dari Islam, bahkan “phobia” dengan Islam. Mereka lebih terobsesi pada kebebasan ala Barat yang dipandang maju dan modern.

Dalam sekolah-sekolah pun pendidikan dengan kurikulum sekuler Barat tak memberikan ruang yang berarti bagi kehadiran Islam.

Pendidikan Islam hanya diajarkan dua jam pelajaran, sangat jauh berbeda dengan porsi ilmu umum lainnya yang diberikan waktu lebih banyak.

Alhasil, seorang Muslim output-nya pun banyak yang tidak memahami agamanya sendiri. Mereka hanya mempelajari dan lulus dengan membatasi bidang keilmuan pada kemampuan sektoral. Kekacauan yang melanda generasi muda ini tentu membawa pilu yang amat besar. Menyebabkan luka yang menganga kala fakta membenturkan masalah dengan solusi yang pragmatis.

Di lain sisi, sifat amoral semakin diperparah dengan stimulus dari pendidikan sekuler yang membangun cita-cita bersifat komersial dan material belaka. Alam pendidikan ala Barat sekuler telah mencetak lulusan sekolah sebagai pekerja-pekerja yang menjadi pelayan para Kapitalis.

Maka benar yang disampaikan oleh Fika Komara, seorang Muslimah, penulis, dan pegiat media lulusan UGM, bahwa generasi yang tumbuh di zaman kapitalis-sekuler ini telah dipaksa hidup menjadi sekrup-sekrup Kapitalis. Menjadi pekerja di sektor industri tanpa tahu kapan akan berhenti menjadi pelayan mereka.

Ketika cita-cita keilmuan yang dimiliki dibentuk di atas nalar sekuler Barat yang rusak dan keliru, maka tidak akan lahir generasi yang mampu membawa perubahan besar di tangannya. Alhasil, mustahil melahirkan generasi beradab dari rahim alam pendidikan sekuler.

Berbeda halnya ketika sistem pendidikan Islam yang memiliki metode khusus dan unik dalam membentuk karakter dan mentalitas seorang siswa.

Islam tidak menjadikan ilmu dipelajari hanya sebagai tumpukan informasi di dalam otak, melainkan sebagai tsaqofah yang ditelaah, dipahami, dan dipraktikkan dalam kehidupan. Sehingga ilmu itu benar-benar memberikan perubahan yang nyata dan membekas bagi yang siapapun mempelajarinya.

Maka tidak heran jika banyak ilmuwan berkelas lahir dari sistem pendidikan Islam, mereka tidak hanya sangat mahir dalam ilmu umum, tetapi juga mumpuni dalam bidang agama. Sebut saja misalnya Imam al-Bukhari, Imam as-Syafi’i, Muhammad al-Fatih, Syeikh Taqiyyudin an-Nabahni, dan ilmuan-ilmuwan besar lainnya.

Lebih dari itu, dasar aqidah yang dijadikan tumpuan dalam menuntut ilmu dalam sistem pendidikan Islam menjadikannya berbeda dengan sistem sekuler yang hanya bertumpu pada sektor kebebasan dan material belaka. Dalam Islam, mempelajari ilmu bukanlah sebagai sarana untuk mendapatkan pekerjaan atau uang semata, tetapi sebagai tuntutan kewajiban syariat yang dibebabankan Allah SWT kepada setiap umat-Nya. Sehingga siapapun yang mengaku beriman kepada Allah SWT akan berusaha mencintai dan memperoleh ilmu dengan cara yang terbaik.

Maka, saat ini perlu perubahan yang mendasar dan revolusioner untuk menciptakan generasi yang dicita-citakan Islam, yaitu genersi yang beradab dan berkualitas dari segi moral maupun keilmuan melalui sistem pendidikan Islam. Sebab sistem pendidikan Islam lahir dari Sang Pencipta yang tahu segala hal yang dibutuhkan dan terbaik bagi manusia.

“…Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Alllah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (TQS al-Baqarah [2] : 216).

Imam Fakhrudin ar-Razi di dalam Mafatih al-Ghayb menyatakan, “Seolah Allah SWT berfirman : Hai hamba, ketahualiah bahwa pengetahun-Ku lebih sempurna dari pengetahuan kalian. Karena itu sibuklah kalian menaati-Ku dan jangan menuruti tuntutan tabiat kalian.”

Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsir Ibni Katsir juga menegaskan, “WalLah ya’lamu wa antum la ta’lamun bermakna : Dia Mahatahu atas akibat perkara kalian. Dia pun Mahatahu atas apa saja yang di dalamnya ada kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat. Karena itu penuhilah seruan-Nya dan patuhilah perintah-Nya supaya kalian mendapat pentunjuk.”

Karena itu, maka sebenarnya wajib bagi kita untuk taat dan merealisasikan kembali sistem pendidikan Islam sesuai dengan yang Allah SWT syariatkan. Sebab dengan wujud ketaatan itulah Allah akan memberikan petunjuk dan kemudahan untuk mendidik generasi yang berkualitas dan beradab.

Dalam buku “Menjadi Muslimah Negarawan” karya Ustadzah Fika Komara disebutkan bahwa upaya melindungi generasi dari kebobrokan moral dan pemikiran tidaklah bisa dilakukan secara sektoral ataupun temporal, apalagi indvidual. Upaya itu harus dilakukan secara integral dan simultan. Sedangkan upaya integral dan simultan membutuhkan visi yang komprehensif.

Di sinilah Islam telah memberikan visi komprehensif yang akan memberikan kekuatan besar dalam membentuk mentalitas generasi. Sistem ini tiada lain adalah sistem pemerintahan Islam (Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah). Sebuah sistem yang menyajikan rancangan strategi pendidikan (dalam sistem pendidikan Islam) yang jelas untuk menjamin lahirnya generasi cemerlang pada bangsa ini.

Upaya membebaskan generasi dari alam pendidikan sekuler ala Barat harus diawali dengan upaya intelektual dengan melawan berbagai konsep keliru di masyarakat, menguak berbagai penyimpangan, kesalahan dan kontradiksinya dengan Islam.

Tentu perubahan besar menjadikan tatanan hidup sempurna di bawah aturan Islam.

Sebuah upaya menuju perubahan yang revolusioner tentu membutuhkan tahapan yang besar. Dalam hal ini Rasulullah SAW telah memberikan gambaran yang begitu jelas melalui sirah nabawiyyah kala beliau membangun kehidupan Islam di Madinah.

Upaya yang dilakukan adalah dakwah (menyeru) sebagaimana yang Rasulullah SAW lakukan, yaitu : (1) selalu memulai dakwah dari penguatan aqidah umat sehingga terbentuk umat yang tunduk secara totalitas kepada syariat Islam; (2) menguatkan pemahaman umat terkait syariat Islam hingga menjadi pemahaman yang utuh beserta dengan metode penerapan syariat oleh negara; (3) membina kesadaran (politik) umat agar mau diatur dengan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan mereka; dan (4) menguatkan pemahaman aspek dakwah sehingga umat bersama-sama mau menjalankan kewajiban dakwah untuk mewujudkan masyarakat dan sistem Islam.

Maka telah jelas, dengan berbagai tahapan di atas, untuk menuntaskan problem gagalnya alam pendidikan sekuler melahirkan generasi beradab adalah dengan kembali menggunakan sistem pendidikan Islam dalam negara yang memberlakukan sistem Islam pula.
Wallah a’lam bi ash-shawab.[]

*Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 17 =

Rekomendasi Berita