Ma’ruf Amin: Ekonomi Syariah Harus Jadi Pilar Utama Pembangunan Nasional

Ekonomi, Nasional874 Views

RADARINDONESIANEWS,COM, JAKARTA – Pengarusutamaan ekonomi syariah sebagai fondasi baru pembangunan nasional menjadi sorotan dalam Sarasehan 99 Ekonom Syariah yang digelar Selasa, 24 Februari 2026, di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan.

Wakil Presiden ke-13 RI, Ma’ruf Amin, yang juga Ketua Penasihat CSED INDEF, menegaskan ekonomi syariah bukan sekadar alternatif, melainkan kebutuhan mendesak di tengah tantangan global yang diwarnai ketimpangan dan krisis kualitas pertumbuhan.

“Dunia hari ini sudah seharusnya memiliki ekonomi yang berkualitas agar tidak terjadi ketimpangan. Ekonomi syariah hadir bukan hanya menciptakan pertumbuhan atau profit, tetapi juga menghadirkan keberkahan,” ujar Ma’ruf dalam pidato kuncinya.

Menurut dia, prinsip maqashid syariah—yang mencakup perlindungan agama, keturunan, dan harta—harus menjadi fondasi kebijakan publik. Ekonomi, kata dia, tidak cukup bertumpu pada angka pertumbuhan, tetapi juga harus menjamin distribusi yang adil dan kemaslahatan.

“Ekonomi syariah itu menjaga agama, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Karena itu ia tidak hanya bicara pertumbuhan, tetapi juga distribusi dan keberkahan,” katanya.

Ma’ruf mengibaratkan ekosistem ekonomi syariah seperti pesantren yang memiliki tiga elemen utama: santri, kitab, dan kiai. Kekuatan pesantren, menurut dia, bukan terletak pada fasilitas fisik, melainkan pada ruh dan nilai yang dipegang teguh.

“Ekonomi syariah itu seperti pesantren. Ada sumber daya manusianya seperti santri, ada ilmunya seperti kitab, dan ada penjaga arahnya seperti kiai. Bukan fasilitasnya yang menentukan, tetapi rohnya. Tanpa ruh, yang lahir hanya formalitas,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar pengembangan ekonomi syariah tidak berhenti pada simbol atau label. “Jangan sampai yang hadir hanya ekonomi yang berseragam syariah, tetapi kehilangan ruhnya,” kata dia.

Lebih jauh, Ma’ruf menekankan pentingnya integrasi dalam ekosistem ekonomi syariah. Industri halal, zakat, wakaf, dan sektor keuangan syariah tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Seluruhnya harus terhubung dalam satu sistem yang saling menopang.

“Industri halal tidak boleh berjalan sendiri. Zakat dan wakaf juga tidak boleh berjalan sendiri. Semua harus menjadi satu kesatuan dalam sistem ekonomi syariah,” tuturnya.

Ia menilai peran ekonom syariah krusial sebagai penjaga arah kebijakan sekaligus motor transformasi. Konsep, menurut dia, harus diikuti tindakan nyata. “Ekonom syariah harus menjadi penunjuk arah dan penggerak. Konsep tanpa aksi itu omong kosong,” ujarnya.

Ma’ruf optimistis Indonesia memiliki prasyarat kuat untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Dengan populasi Muslim terbesar, potensi filantropi Islam yang besar, serta pertumbuhan industri halal yang terus meningkat, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang kokoh.

Namun ia mengakui kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional masih perlu diperkuat.

“Ekonomi syariah sudah hadir dalam regulasi, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam kesadaran. Ini yang harus kita dorong bersama,” katanya.

Menurut dia, ada dua agenda besar yang harus dijalankan secara konsisten: memasyarakatkan ekonomi syariah dan mensyariahkan praktik ekonomi masyarakat.

“Kita harus memasyarakatkan ekonomi syariah agar dipahami, dan mensyariahkan ekonomi masyarakat agar praktiknya sesuai dengan nilai keadilan, amanah, dan kemaslahatan,” ujar Ma’ruf.

Di tengah dinamika global yang tidak menentu, ia menegaskan konsistensi dan keberanian dalam berprinsip menjadi kunci.

“Kalau kita konsisten dalam memasyarakatkan ekonomi syariah, insyaallah pertumbuhan ekonomi syariah akan tumbuh lebih maksimal dan menjadi pilar utama ekonomi negeri ini,” katanya menutup pidato.[]

Comment