Penulis: Neno Salsabillah | Aktivis Muslimah, Muslimpreneur
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kejahatan yang dilakukan Zionis Israel di Gaza kian tak tertahankan. Serangan brutal disertai upaya pengambilalihan penuh wilayah terus berlangsung. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan, sebagaimana dilaporkan Republika.co.id, memerintahkan pasukannya merebut Kota Gaza dan memaksa warga sipil mengungsi dari rumah mereka.
Di tengah gelombang penindasan ini, solidaritas dunia, khususnya umat Islam, terus menguat. Misi kemanusiaan “Gaza Sumud Flotilla” yang dilaporkan Rri.co.id menjadi salah satu wujudnya, mengirim bantuan dan relawan dari berbagai negara untuk menembus blokade. Gerakan ini membawa harapan dan menegaskan kepedulian kemanusiaan.
Namun, kita perlu bertanya jujur: apakah langkah-langkah kemanusiaan semacam ini cukup menghentikan genosida yang sedang berlangsung?
Keterbatasan Solusi Kemanusiaan
Fakta di lapangan menunjukkan, seberapa besar pun bantuan dikirim, mesin perang Zionis tak surut. Aksi kemanusiaan yang mulia itu ibarat menambal luka tanpa menyentuh akar masalah. Selama penguasa-penguasa Arab dan komunitas internasional tetap bungkam, kejahatan Israel akan terus berulang. Diamnya sebagian pemimpin Muslim bahkan memberi ruang bagi agresi tanpa rasa takut.
Situasi ini menuntut pergeseran dari sekadar solusi kemanusiaan menuju langkah yang lebih tegas. Al-Qur’an mengingatkan:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat tersebut menegaskan kewajiban berjihad—perjuangan kolektif yang mencakup dukungan militer dan kekuatan politik untuk melawan penindasan. Jihad di sini bukan sekadar pertempuran, melainkan upaya syar’i menghentikan agresi dan membebaskan tanah suci.
Tuntutan Umat: Bantuan Militer
Karena itu, sudah saatnya umat Islam meningkatkan tuntutan. Bukan hanya mengirim makanan atau obat-obatan, tetapi menekan para pemimpin Muslim agar menggerakkan kekuatan militer melindungi rakyat Gaza. Misi seperti Gaza Sumud Flotilla patut diapresiasi, namun semestinya menjadi jembatan menuju desakan yang lebih besar.
Kesadaran umat harus! naik tingkat – dari empati dan donasi menjadi tuntutan nyata untuk menghentikan pembantaian dengan kekuatan militer yang sepadan. Hanya melalui solusi syar’i dan tindakan konkret rakyat Palestina dapat meraih kembali kemerdekaan untuk mengakhiri penderitaan. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]











Comment