Melemahnya Rupiah dan Ancaman Krisis bagi Masyarakat Menengah Bawah

Opini24 Views

 

Penulis: Wulan Shavira Nopa | Mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing bukan sekadar persoalan ekonomi nasional, melainkan persoalan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya terlihat dari meningkatnya harga kebutuhan pokok, naiknya biaya hidup, hingga menurunnya daya beli masyarakat. Kondisi ini paling dirasakan oleh kelompok menengah bawah yang memiliki penghasilan terbatas, sementara kebutuhan hidup terus meningkat.

Sebagaimana ditulis BBC News Indonesia pada 16 Mei 2026 melalui laporan Tri Wahyuni dan M. Irham, nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.600 per dolar AS memberi dampak besar terhadap kehidupan masyarakat, terutama kalangan menengah bawah. Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor membuat biaya produksi di berbagai sektor industri ikut meningkat sehingga harga barang kebutuhan pokok pun terdorong naik.

Dalam laporan tersebut dijelaskan, pelaku usaha terpaksa menaikkan harga barang atau mengurangi ukuran produk demi menekan kerugian. Situasi itu memperlihatkan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya memengaruhi sektor ekonomi makro, tetapi juga langsung menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat.

Akibat kenaikan harga pangan, energi, dan kebutuhan dasar lainnya, biaya hidup masyarakat semakin berat. Di tengah pendapatan yang stagnan, sebagian masyarakat akhirnya mencari jalan cepat melalui pinjaman online demi mempertahankan kebutuhan hidup sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang semakin besar di lapisan masyarakat bawah.

Di sisi lain, pemerintah masih menilai kondisi ekonomi nasional berada dalam keadaan aman dan terkendali. Namun, keresahan masyarakat terus meningkat akibat menurunnya daya beli serta ketidakpastian ekonomi yang belum juga mereda. Perbedaan antara kondisi riil di masyarakat dan narasi optimisme pemerintah inilah yang memunculkan kritik dari berbagai kalangan.

Merujuk sejumlah analisis ekonomi internasional, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kondisi geopolitik global, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu ketidakstabilan pasar dunia. Ketidakpastian global membuat arus investasi cenderung keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi nasional tidak berdiri sendiri. Faktor eksternal memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri. Meski demikian, pemerintah tetap dituntut menghadirkan kebijakan yang mampu melindungi masyarakat dari dampak krisis, terutama kelompok rentan yang paling merasakan tekanan ekonomi.

Sebagian kalangan menilai kebijakan ekonomi yang ada belum sepenuhnya mampu memberikan solusi efektif terhadap persoalan masyarakat. Beban kenaikan biaya hidup akhirnya lebih banyak ditanggung rakyat, sementara utang negara yang terus meningkat juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi pada masa mendatang.

Dalam perspektif Islam, persoalan melemahnya nilai mata uang dan meningkatnya beban hidup masyarakat dipandang dapat diselesaikan melalui penerapan sistem ekonomi berbasis syariat. Islam menawarkan konsep mata uang yang memiliki nilai stabil, seperti berbasis emas dan perak, sehingga tidak mudah terpengaruh gejolak ekonomi global.

Selain itu, Islam menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab menjaga kestabilan harga dan kesejahteraan rakyat. Mekanisme seperti larangan riba, pengaturan kepemilikan, hingga distribusi kebutuhan pokok menjadi bagian penting dalam menciptakan keadilan ekonomi dan mencegah ketimpangan sosial.

Dalam ajaran Islam, pemimpin merupakan ra’in (pengurus rakyat) sekaligus junnah (pelindung) yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, negara tidak boleh membiarkan rakyat menghadapi kesulitan ekonomi tanpa menghadirkan solusi nyata yang mampu memberikan perlindungan dan kepastian hidup bagi masyarakat. Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment