Memahami Akar dan Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan

Opini307 Views

 

 

Oleh : Alfiah, S.Si, Pegiat Literasi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA —- Setiap bulan November digelar  peringatan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, (16HKtP) 25 November – 10 Desember.  Kampanye Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung sejak 2001, namun kekerasan terhadap perempuan terus saja terjadi, bahkan ketika UU TPKS sudah disahkan.

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyerukan agar setiap tanggal 25 November, negara pihak Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) menyampaikan laporan terkait upaya-upaya pencegahan dan penanganan femisida. Dalam kalender HAM internasional, tanggal 25 November tercatat sebagai awal dari 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP).

Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan ini diperingati sebagai bentuk penghormatan terhadap tiga perempuan, Mirabal bersaudara, pegiat HAM yang tewas dibunuh (femisida) karena perjuangan mereka menegakkan HAM di negara Dominika.

Komnas Perempuan kemudian mendefinisikan femisida sebagai “pembunuhan terhadap perempuan yang dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung karena jenis kelamin atau gendernya dan berlapis, yang didorong superioritas, dominasi, hegemoni, agresi maupun misogini terhadap perempuan serta rasa memiliki perempuan, ketimpangan relasi kuasa dan kepuasan sadistik”.

Definisi tersebut merupakan sintesa dari definisi oleh WHO, Pelapor Khusus PBB untuk Kekerasan terhadap Perempuan, Deklarasi Wina, UN Women, dan UN ODC.

Deklarasi Wina mencatat 9 kategori femisida  yaitu: (1) femisida pasangan intim, (2) femisida budaya (femisida atas nama kehormatan, femisida terkait mahar, femisida terkait ras, femisida terkait tuduhan sihir, femisida terkait pelukaan dan pemotongan genitalia perempuan/P2GP, femisida terhadap bayi perempuan),(3) femisida dalam konteks konflik sosial bersenjata dan perang, (4) femisida dalam konteks industri seks komersial, (5) femisida terhadap perempuan dengan disabilitas, (6) femisida terhadap orientasi seksual dan identitas gender, (7) femisida di penjara, (8) femisida non intim, dan (9) femisida terhadap perempuan pembela HAM.

Pendalaman pengetahuan femisida tahun 2022 dilakukan oleh Komnas Perempuan melalui pemantauan media daring rentang Juni 2021 – Juni 2022 dan penelitian atas putusan pengadilan yang difokuskan pada femisida pasangan intim sebagai eskalasi KDRT yang berujung pembunuhan.

Hasil pemantauan media daring mencatat 84 kasus femisida pasangan intim baik yang dilakukan oleh suami maupun mantan suami korban. Sedangkan penelitian atas putusan pengadilan yang didasarkan tiga kata kunci (korban adalah istri, pembunuhan terhadap istri, dan penganiayaan terhadap istri) menemukan 15 kasus pembunuhan terhadap istri sejak 2015.

Temuan Komnas Perempuan mencatat, pembunuhan oleh mantan pacar ataupun mantan suami menggambarkan fenomenapost separation abuse  atau penganiayaan pasca perpisahan, dengan berbagai konteks motif yang melatarbelakangi.

Hal ini meneguhkan temuan dalam Catatan Tahunan (CATAHU) bahwa rumah tangga dan relasi intim merupakan tempat yang tidak aman bagi perempuan. Kerentanan perempuan terhadap kasus femisida bertambah ketika ada perbedaan jauh usia korban dengan pelaku.

Tak hanya Komnas Perempuan yang bersuara. Organisasi Perempuan Mahardhika juga melakukan aksi nasional untuk memperingati 16 Hari Antikekerasan terhadap Perempuan. Aksi ini digelar di 4 kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Banjarmasin, Makassar, dan Samarinda (tempo.co  27/11/2022).

Akar Penyebab Kekerasan Perempuan

Sebenarnya, penyebab mendasar timbulnya kekerasan atau ketertindasan perempuan saat ini adalah penerapan sistem kapitalisme liberal. Kapitalisme tanpa sadar telah menjerumuskan kaum perempuan pada lingkaran masalah yang tidak ada akhirnya.

Sejatinya sistem kapitalismelah yang telah memicu kekerasan tidak hanya pada perempuan, tetapi juga laki-laki. Sistem ekonomi kapitalis telah memaksa para perempuan keluar dari kodratnya. Mereka ada yang terpaksa bekerja mencari nafkah. Di dunia kerja, sering mereka mendapatkan pelecehan atau kekerasan. Tak sedikit ibu yang melakukan tindak kekerasan pada anak mereka karena stres akibat himpitan ekonomi. Karena tekanan ini juga ada istri yang membunuh suami, atau suami membunuh istri.

Islam Memuliakan Perempuan

Islam hadir untuk memuliakan perempuan. Dalam Islam, perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga dan dilindungi. Untuk itulah Islam memiliki seperangkat aturan sempurna untuk melindungi perempuan. Sehingga perempuan selamat dari berbagai bentuk kekerasan.

Islam memandang bahwa peran utama perempuan adalah sebagai ummun warabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Rumah adalah tempat teraman bagi perempuan. Sementara kewajiban bekerja dan memenuhi nafkah ada pada pundak laki-laki.

Dengan pemahaman ini maka perempuan akan terjaga di rumahnya tanpa harus bekerja dan berdesak-desakan dengan laki-laki. Kalaupun perempuan bekerja, tetap kewajiban sebagai ibu dan pengatur rumah tangga tidak terabaikan.

Islam juga mewajibkan perempuan untuk menggunakan pakaian sempurna ketika keluar rumah, yairu jilbab/baju kurung yang panjang (QS Al Ahzab :59) dan kerudung (QS An-Nur : 31). Dengan memakai pakaian yang sempurna dan menutup aurat tentu perempuan akan terhindar dari pelecehan atau kekerasan.

Islam juga melarang wanita bepergian jauh seorang diri tanpa temani mahram mereka. Rasulullah SAW bersabda : “Tidak halal wanita yang mengimani Allah dan Hari Akhir melakukan (safar 1 hari 1 malam) tanpa disertai mahram”.

Islam juga melarang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram melakukan khalwat (berdua-duan) atau berpacaran. Saat ini banyak kekerasan dan pembunuhan justru dilakukan oleh pacar, mantan pacar atau selingkuhan. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda:

“Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim).

Masih banyak seperangkat aturan Islam yang lain untuk melindungi perempuan, diantaranya larangan tabarruj (menampakkan kecantikan) di depan laki-laki asing, larangan ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan) dan lain-lain.

Demikianlah sempurnanya Islam untuk menyelamatkan kehormatan dan kemuliaan perempuan. Tidak ada solusi yang lebih tepat untuk menyelamatkan perempuan dari kekerasan selain dengan penerapan syariah secara kaafah. Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]

Comment