Penulis: Ahmad Rifa’i Sidik | Mahasiswa UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Fakultas Dirasat Islamiyah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sejak lama, norma sosial menuntut pria untuk selalu terlihat tangguh, menahan tangis, dan menganggap emosi sebagai kelemahan. Seolah-olah menjadi kuat berarti harus mematikan bagian alami dari kemanusiaan kita.
Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa narasi “harus kuat dengan cara diam” ini justru berdampak buruk bagi pria, baik secara fisik maupun psikologis.
Ancaman bagi Kesehatan Jantung
Banyak pria menganggap menahan emosi adalah bentuk pengendalian diri yang hebat. Namun, menurut laporan dari Harvard Health Publishing, menekan emosi secara kronis merupakan beban berat bagi tubuh.
Ketika perasaan sedih atau stres dipendam, tubuh tetap berada dalam kondisi tegang yang meningkatkan tekanan darah dan detak jantung.
Penelitian medis menunjukkan bahwa kebiasaan menekan emosi ini berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Menangis, di sisi lain, membantu tubuh melepaskan hormon stres dan menenangkan sistem saraf. Dengan kata lain, memberikan ruang bagi emosi bukan hanya soal kesehatan mental, tetapi juga langkah nyata untuk menjaga kesehatan jantung.
Kerentanan Sebagai Ukuran Keberanian
Sering kali, pria merasa bahwa menunjukkan rasa takut atau sedih akan mengurangi nilai maskulinitas mereka. Namun, Dr. Brené Brown, seorang peneliti terkemuka tentang perilaku manusia, menemukan fakta yang sebaliknya.
Melalui riset ekstensifnya, Brown menegaskan bahwa kerentanan (vulnerability) bukanlah kelemahan, melainkan ukuran keberanian yang paling akurat.
Bagi seorang pria, mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada sekadar berpura-pura kuat.
Pria yang berani menunjukkan kerentanan dan jujur pada perasaannya justru mampu membangun hubungan yang lebih dalam, stabil, dan memiliki ketangguhan mental yang lebih autentik.
Memahami bahwa emosi adalah sinyal biologis—bukan tanda kerapuhan—membantu kita membongkar standar maskulinitas yang usang. Menangis tidak sedikit pun mengurangi harga diri seorang pria; justru itu menunjukkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Ketika kita berani mengakui emosi, kita tidak hanya menjadi lebih sehat secara fisik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih utuh dan berdaya.
Lantas kapan terakhir kali Anda memberikan izin pada diri sendiri untuk merasakan emosi tanpa menghakimi?[]











Comment