Penulis: Neno Salsabillah | Aktivis Muslimah & Muslimpreneur
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Derasnya waktu kembali mengantarkan kita ke ambang bulan yang paling dirindukan: Ramadhan 1447 H. Aroma kesucian bulan ampunan mulai terasa, diiringi persiapan spiritual umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Namun di tengah suka cita itu, ada nada lama yang hampir selalu hadir setiap tahun: potensi perbedaan penetapan awal puasa. Akankah kita memulai sahur pertama secara serempak, atau kembali terpisah oleh perbedaan kalender?
Dilema klasik ini seakan menjadi “menu pembuka” tahunan yang menguras energi umat. Padahal, jika ditelaah lebih jernih, perbedaan awal Ramadhan bukan semata persoalan teknis antara metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan). Ada persoalan yang lebih mendasar—bersifat politis dan sistemik—yang memengaruhi kehidupan umat Islam hari ini.
Sekat yang Membelah Umat
Secara faktual, perbedaan sering muncul bukan karena hilal enggan terlihat, melainkan karena umat terikat oleh batas-batas teritorial negara.
Dalam sistem sekuler modern, umat Islam terpecah dalam lebih dari 50 negara bangsa (nation-state). Penetapan awal Ramadhan pun menjadi otoritas masing-masing negara.
Hilal yang terlihat di satu wilayah kerap tidak diakui di wilayah lain hanya karena terhalang garis batas administratif.
Inilah konsekuensi dari sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan publik berskala global. Ukhuwah Islamiyah seolah harus tunduk pada kepentingan nasionalisme.
Padahal, umat ini memiliki Tuhan yang satu, kiblat yang satu, dan Al-Qur’an yang sama. Lalu mengapa dalam memulai ibadah agung seperti puasa, kita tetap terpisah?
Dalil Syariat dan Jejak Sejarah
Rasulullah ﷺ telah memberikan panduan yang jelas dalam menentukan awal Ramadhan. Sebagaimana ditulis HR. Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:
“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika mendung menghalangi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”
Redaksi hadits tersebut menggunakan kata ganti jamak (kalian), yang ditujukan kepada kaum Muslim secara umum tanpa batas geografis. Secara historis, selama berabad-abad dalam naungan kepemimpinan Islam, perbedaan wilayah tidak menjadi penghalang kesatuan ibadah.
Ketika hilal telah terverifikasi di satu bagian wilayah Islam, keputusan pemimpin (khalifah) berlaku bagi seluruh kaum Muslim di wilayah kekuasaannya.
Dalam khazanah fikih dikenal kaidah masyhur: Hukmul Imam yarfa’ul khilaf (keputusan pemimpin menghilangkan perselisihan). Keputusan politik yang berlandaskan syariat menjadi instrumen pemersatu, sehingga perbedaan pendapat tidak berlarut-larut di tengah masyarakat.
Islam Kaffah dan Kepemimpinan Tunggal
Lantas, bagaimana keluar dari lingkaran perbedaan yang terus berulang? Solusinya tidak cukup dengan imbauan toleransi atau penyamaan kriteria teknis semata. Islam kaffah—yang memandang agama sebagai sistem kehidupan menyeluruh—menawarkan pendekatan sistemik melalui institusi kepemimpinan global umat Islam.
Dalam perspektif ini, Islam tidak hanya mengatur ibadah individu, tetapi juga tata kelola kepemimpinan umat secara kolektif. Dengan adanya satu kepemimpinan tunggal bagi dunia Islam, kesatuan awal Ramadhan bukan sekadar harapan.
Negara memfasilitasi para ahli falak dan ulama dengan teknologi pemantauan hilal terbaik di berbagai titik strategis dunia. Ketika hilal terlihat di satu wilayah, pemimpin akan mengumumkan kepada seluruh kaum Muslim: “Besok kita berpuasa bersama.”
Sebuah gambaran persatuan yang menghadirkan kewibawaan dan kekuatan ukhuwah, melampaui sekat negara.
Momentum Perubahan
Ramadhan 1447 H semestinya menjadi momentum untuk tidak lagi terjebak dalam perdebatan yang berulang. Sudah saatnya umat menengok akar persoalan.
Kerinduan pada keseragaman awal puasa sejatinya mencerminkan kerinduan yang lebih dalam: persatuan umat dalam satu naungan kepemimpinan yang menerapkan syariat secara menyeluruh.
Menerapkan Islam secara kaffah berarti mengambil seluruh ajarannya, termasuk dalam aspek kepemimpinan dan tata kelola umat. Dengan demikian, syiar Islam dapat kembali memancarkan cahayanya secara utuh.
Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya membersihkan jiwa dari dosa, tetapi juga membuka kesadaran akan pentingnya persatuan umat yang hakiki.
Wallahu a’lam bish-shawab.[]









Comment