Minyak Goreng: Harga Tinggi Panik, Turun Harga Malah Panic Buying

Opini1549 Views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tiap pergantian tahun baru masyarakat dibuat pusing dengan kenaikan harga komoditi termasuk harga minyak yang tinggi. Banyak yang mengeluhkan hal ini termasuk para pedagang pasar.

Menanggapi sistem satu harga pada minyak goreng, Sekretaris jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat (PP) Ikatan Pedagang Perdagangan Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan mengatakan, pemerintah tidak serius menstabilkan harga. (tintasiyasi.com)

Belum lagi ketika ditetapkan harga terbaru yang murah, membuat trend baru yakni panic buying.

Panic Buying

Panic buying merupakan tindakan membeli sejumlah besar produk atau komoditas tertentu, karena ketakutan tiba-tiba akan kekurangan atau terjadi kenaikan harga di waktu yang akan datang. (kompas.com)

Harga minyak melambung tinggi hingga Rp. 28.000, sehingga ketika pemerintah mensubsidi dan memberlakukan kebijakan minyak goreng dengan satu harga di seluruh Indonesia sebesar Rp 14.000 per liter. Warga banyak yang membelinya. (kompas.com)

Distribusi tidak merata

“Pemerintah tidak bisa melakukan maping,” komentar Reynaldi melihat distribusi komoditas yang surplus di daerah tertentu, namun kurang di daerah lain.

“Seharusnya ada subsidi silang,” imbuhnya. Menurutnya, pemerintah belum mampu mengintervensi para pengusaha, sehingga mampu mengendalikan pasar. Selain itu, juga distribusi yang terlalu panjang sebelum masuk ke pedagang pasar berakibat harga juga naik. (tintasiyasi.com)

Termasuk kondisi panic buying ini membuat siapa saja yang membeli termasuk para tengkulak. Sehingga tidak tepat pada sasaran, yakni rakyat miskin yang membutuhkan.

Solusi Islam Bukan Tambal Sulam

Ketidakstabilan harga yang selama ini tidak dapat disolusi dengan menurunkannya dan kemudian menaikkan kembali suatu saat. Solusi ini bersifat temporal, sehingga menambal sulam solusi yang ada selama ini.

Akar masalahnya salah satunya adalah distribusi. Islam menggambarkan bagaimana mendistribusikan komoditas yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan baik.

Khalifah Umar RA, berkeliling ke negerinya memastikan rakyatnya sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Bahkan pernah memasakkan sendiri gandum untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga yang kelaparan.

Subsidi silang pun terjadi, bagi wilayah yang surplus bisa didistribusikan ke wilayah yang minus. Sehingga tidak terjadi kelangkaan yang berakibat harga mahal.

Mekanisme pasar pun terjadi yakni tawar menawar sehingga sama – sama ridho antara pembeli dan penjual. Selain itu juga ada Qodli pasar yang selalu berada di pasar untuk melihat dan menindak kecurangan serta menstabilkan harga agar tidak terlalu rendah atau tinggi.

Begitulah sedikit gambaran ekonomi Islam mungkin bisa dijadikan alternatif solusi untuk menstabilkan harga. Wallahu’alam bi sowab.[]

Comment