by

Miris, Penyalahgunaan Narkotika Di Tengah Pandami Corona

-Opini-13 views

 

 

 

Oleh: Ammylia Ummu Rabani, Pendidik Generasi Qur’ani,  Komunitas Penulis Bela Islam

________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Diberi ujian dengan datangnya wabah Corona yang berkepanjangan, ternyata tidak lantas membuat semua orang mengencangkan amal kebaikan. Masih saja ada yang tak acuh untuk memikirkan solusi agar keluar dari permasalahan wabah ini.

Salah satunya adalah apa yang dilakukan seorang artis bersama pasangan dan supirnya yang justeru melakukan hal tak pantas saat pandemi.

Pasangan publik figur yang dikenal dengan ketenaran juga kekayaannya yang melimpah ruah tersebut terbukti bersalah karena penyalahgunaan narkoba jenis sabu seberat 0.78gr.

Dalam konferensi pers di Polres Jakarta Pusat (Sabtu, 10 Juli 2021) pasangan  selebritis tersebut menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh warga Indonesia, orang tua, sanak saudara, juga kepada ketiga anaknya yang seharusnya masih ada dalam pengasuhannya.

Dengan Isak tangis sebagai bentuk penyesalan, sang seleb menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan dengan suami dan supirnya bukanlah tindakan terpuji.

Inilah sekelumit peristiwa yang ikut mewarnai negeri tercinta di saat wabah Corona yang belum juga mereda.

Penyalahgunaan narkoba belum ada penyelesesaiannya disebabkan karena beberapa faktor berikut:

Pertama, semangat perdagangan kapitalisme yang mengadopsi supply and demand. Konsep di mana ada permintaan di sana ada penawaran, ternyata tidak hanya meliputi barang halal, tapi juga yang haram. Ini jelas berbenturan dengan pandangan Islam.

Adapun narkoba, ia memang digunakan dalam kebutuhan medis dalam skala yang telah ditentukan etika kedokteran. Namun, yang menjadi kesalahan ketika permintaan ini datang dari non medis. Narkoba acapkali digunakan untuk kemaksiatan. Sementara pengedarnya jelas meraup keuntungan yang melimpah tanpa hirau merusak moral masyarakat.

Beberapa berita pernah mengungkap bahwa pihak kepolisian berhasil menggagalkan impor sabu berton-ton dari Cina juga Afrika. Bahkan gembong narkoba pun pernah berhasil dijatuhi hukuman mati. Berharap ini akan menghentikan peredaran. Namun, sayang hal demikian belum menghentikan peredaran narkoba di Indonesia. Bukan hanya sabu tapi juga narkoba jenis lainnya.

Selama supply and demand ini masih dipertahankan, maka selama itu pula peredaran untuk penyalahgunaan narkoba akan tetap ada di Indonesia.

Faktor hedonistik di kalangan selebriti juga pablik figur telah nyata di mata masyarakat. Sebagian dari mereka akrab dengan pesta, mengikuti gaya kekinian, mendewakan kebebasan dalam kehidupan.

Mungkin mereka lupa atau bahkan tidak memahami bahwa hakikat penciptaan manusia sebenarnya bukan untuk menikmati hingar bingar gemerlap dunia. Sang Pencipta mengutus manusia hidup di bumi-Nya semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Tunduk patuh atas segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Seribu sayang, kini negeri tercinta dan negeri-negeri Muslim lainnya telah dijajah pemikirannya oleh berbagai pemikiran Barat yang jelas bertentangan dengan syariat.

Paham pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme) yang sejengkal demi sejengkal telah menyeret umat islam pada krisis akidah. Paham tersebut menghasilkan paham-paham rusak lainnya, seperti liberalisme, hedonisme, permisivisme dan lain sebagainya.

Tidak dipungkiri bahwa pasangan selebriti ini adalah orang yang dermawan, gemar berbagi kepada anak yatim juga dhuafa, bahkan pasangan ini telah beribadah haji ke Baitullah.

Namun, gempuran sekulerisme telah menjangkiti pola pikir mereka sehingga tak sadar mereka terseret dalam pusara sekulerisme.

Alhamdulillah, jika dalam konferensi pers pasangan ini menyesali kekhilafannya. Bertaubat kepada Allah adalah kunci utamanya dan mengikuti prosedur hukum yang berlaku adalah risiko yang harus diterima.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, dibutuhkan peran negara secara paripurna. Negara berkewajiban menjaga akidah umat agar tetap ada dalam keimanan yang mendalam. Negara juga berkewajiban menjadi institusi yang menerapkan aturan yang mampu meliputi upaya preventif dan kuratif.

Upaya pencegahan dilakukan oleh negara dengan menutup segala bentuk peluang terjadinya tindak menyimpang. Sementara upaya kuratif ditempuh jika tetap terjadi penyimpangan maka ada penjatuhan sanksi yang bersumber dari hukum Ilahi. Hukum yang berfungsi sebagai jawazir juga jawabir, yaitu penjera dan penebus dosa.

Potret negara semacam ini tidak akan ditampilkan oleh kepemimpinan yang berasaskan sekularisme. Hanya negara dengan model kepemimpinan Islam saja yang akan menunaikannya.

Sebagaimana yang pernah diteladankan Rasulullah Saw dan Khulafaur Rasyidin Radhiallahu ‘anhuma. Sehingga jerat narkoba karena life style hura-hura juga nafas ekonomi yang kapitalistik tidak akan kita jumpai di sana.Wallahu’alam bishowab.[]

 

Comment

Rekomendasi Berita