Mission Impossible dan Harapan Kebangkitan Peradaban Islam

Opini1393 Views

 

Penulis: Yuli Juharini | Pegiat Literasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tulisan ini terinspirasi dari film Mission Impossible, yang mengisahkan seorang agen rahasia bernama Ethan Hunt. Ia bekerja untuk dinas intelijen Amerika, IMF (Impossible Missions Force), dan menjalankan berbagai misi berbahaya melawan musuh yang tampaknya mustahil dikalahkan.

Dalam setiap tugasnya, Ethan Hunt menghadapi ancaman besar untuk mencegah krisis global dan membongkar konspirasi yang tersembunyi di balik layar.

Bahkan, tidak jarang ia harus menanggung risiko dituduh sebagai teroris atau pengkhianat demi menuntaskan misinya.

Gambaran tersebut, dalam sudut pandang tertentu, dapat dianalogikan dengan situasi yang dirasakan sebagian umat Islam saat ini.

Sejak runtuhnya Kekhilafahan Islam pada 3 Maret 1924, umat Islam yang jumlahnya sangat besar tidak lagi dapat menjalankan syariat secara menyeluruh dalam kehidupan bernegara.

Sistem yang berlaku lebih banyak diatur oleh pemikiran manusia. Dalam wacana pemikiran modern, kondisi ini sering disebut sebagai sekularisme, yakni pemisahan agama dari urusan kehidupan publik.

Dengan jumlah yang begitu besar, umat Islam di berbagai belahan dunia kerap digambarkan seperti buih di lautan—banyak secara kuantitas, tetapi lemah dalam pengaruh. Arus opini dan kekuatan global sering kali menentukan arah, sehingga suara mayoritas pun tidak selalu memiliki daya tawar yang kuat.

Ironisnya, di negeri yang dikenal sebagai negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia, tidak semua orang merasa leluasa menyuarakan pandangan yang diyakininya sebagai kebenaran.

Perbedaan pandangan, tekanan sosial, hingga kompleksitas birokrasi kerap menjadi tantangan tersendiri.
Berbagai persoalan sosial, politik, dan kemanusiaan terus bermunculan tanpa penyelesaian yang benar-benar tuntas.

Bahkan untuk membantu saudara seiman di negeri sendiri, terkadang harus menghadapi prosedur yang berbelit-belit. Apalagi untuk menolong saudara yang mengalami penindasan di belahan dunia lain.

Di tengah situasi tersebut, masih ada orang-orang yang dengan tulus dan penuh keyakinan berjuang menyuarakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.

Mereka meyakini bahwa suatu saat peradaban Islam dapat kembali memberikan kontribusi besar bagi dunia, sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah.

Keyakinan itu didasarkan pada harapan bahwa ketika nilai-nilai syariat diterapkan secara adil, kehidupan masyarakat akan lebih damai, berkeadilan, dan sejahtera. Bukan hanya bagi kaum Muslim, tetapi juga bagi seluruh manusia tanpa memandang latar belakang agama.

Tentu saja, jalan menuju cita-cita tersebut bukanlah jalan yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, keteguhan hati, dan konsistensi dalam menyampaikan kebaikan. Mereka yang menempuh jalan ini ibarat menjalankan sebuah misi yang oleh sebagian orang dianggap mustahil.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 104: “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa selalu ada sekelompok orang yang terpanggil untuk menyampaikan kebenaran, meskipun harus menghadapi berbagai rintangan.

Dalam analogi film Mission Impossible, Ethan Hunt selalu berhasil menyelesaikan setiap misinya, betapapun sulitnya tantangan yang dihadapi.

Begitu pula para penyeru kebenaran. Mereka tidak gentar menghadapi hambatan, tidak mudah goyah oleh tekanan, dan terus melangkah dengan keyakinan.

Sebab bagi mereka, keyakinan itu sederhana namun kuat: suatu hari nanti nilai-nilai Islam dapat hadir dan memberikan warna dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Wallahu a’lam.[]

Comment