Muhasabah Agar Tidak Ingkar, Sombong dan Berdusta

Opini45 Views

Penulis: Prof. Bustanul Arifin
Disarikan dari Ta’lim Ba’da Subuh Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, M.Sc, Masjid Al-Hijri 2 UIKA Bogor, Ahad 8 Februari 2026

Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Mursalat: 16–34

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah, tetapi juga kitab sejarah dan peringatan. Hampir setiap surat di dalamnya memuat kisah umat-umat terdahulu sebagai cermin bagi generasi setelahnya.

Surat Al-Mursalat ayat 16–34 yang dikaji oleh Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, M.Sc dalam Ta’lim Bakda Subuh di Masjid Al-Hijri 2 UIKA Bogor menjadi pengingat keras tentang akibat dari sikap ingkar, sombong, dan dusta terhadap kebenaran.

Allah SWT mengingatkan bagaimana umat-umat terdahulu dibinasakan karena kedurhakaan mereka. Kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun adalah contoh nyata. Mereka memiliki kekuatan teknologi, kemiliteran, dan kekuasaan yang luar biasa.

Namun semua itu runtuh karena kesombongan dan kezaliman yang mereka lakukan. Sejarah membuktikan bahwa kemajuan tanpa nilai hanya akan melahirkan kehancuran.

Kehidupan manusia sejatinya adalah pengulangan. Substansinya sama, hanya bentuknya yang berubah. Apa yang terjadi hari ini sering kali merupakan reinkarnasi dari kesalahan masa lalu.

Bahkan ibadah puasa yang akan kita jalani adalah kelanjutan dari tradisi umat-umat sebelumnya. Karena itu, Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi direnungi agar kesalahan sejarah tidak kembali terulang.

Kerusakan (al-fasād) yang disebut Al-Qur’an bukan sekadar bencana alam. Ia adalah akibat langsung dari ulah manusia. Banjir besar, banjir bandang, dan kerusakan lingkungan hari ini kerap lahir dari kerakusan, penebangan hutan tanpa kendali, dan eksploitasi alam yang melampaui batas.

Sebagaimana ditegaskan dalam Surat Ar-Rum ayat 42, kerusakan di darat dan laut terjadi karena perbuatan tangan manusia sendiri. Jika manusia tidak ingin dihancurkan oleh Allah, maka satu syarat –  jangan membuat kerusakan di muka bumi.

Manusia juga diingatkan agar tidak bersikap sombong. Sebab asal penciptaannya sangatlah lemah, dari air yang hina. Namun Allah menempatkan manusia di tempat paling kokoh, rahim seorang ibu, memberinya kehidupan, akal, dan nikmat yang tak terhitung. Ironis jika makhluk yang hidupnya singkat—rata-rata hanya 60 hingga 70 tahun—justru merasa paling berkuasa dan paling benar.

Bumi ini pun Allah jadikan sebagai tempat berkumpul, bagi yang hidup dan yang mati. Air tawar disediakan, gunung ditegakkan, dan seluruh sistem kehidupan ditata dengan sempurna. Semua itu seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan atau kedustaan.

Dalam ta’lim tersebut, Prof. Dr. KH Didin, M.Sc juga menekankan pentingnya pendidikan karakter, khususnya dalam mendidik anak hingga usia dewasa dan mahasiswa.

Pendidikan tidak pernah berhenti. Ia bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan kepribadian. Anak lahir dalam keadaan fitrah, dan orang tualah yang menentukan arah hidupnya.

Pendidikan yang efektif membutuhkan motivasi, pembiasaan kebaikan, keteladanan nyata, serta keseimbangan antara penghargaan dan sanksi.
Etika berjanji pun menjadi sorotan.

Ucapan “insya Allah” bukan formalitas, apalagi alat untuk menghindari tanggung jawab. Ia adalah adab kepada Allah, pengakuan bahwa manusia tidak memiliki kuasa atas masa depan. Bermain-main dengan janji, meski dibungkus kata religius, tetaplah sebuah kedustaan.

Di ranah global, fenomena Board of Peace (BoP) juga perlu disikapi dengan kritis. Persoalan Palestina bukan hanya isu politik, tetapi menyangkut dimensi agama, kemanusiaan, konstitusi, dan penjajahan.

Keberadaan Indonesia dalam forum yang diinisiasi Amerika Serikat dan Israel, tanpa melibatkan Palestina secara utuh, menimbulkan tanda tanya besar. Apalagi jika disertai komitmen dana yang sangat besar.

Sikap waspada dan pengawasan publik menjadi keniscayaan agar Indonesia tidak terjebak dalam agenda yang justru merugikan perjuangan rakyat Palestina.
Pada akhirnya, pesan utama Surat Al-Mursalat sangat jelas: celakalah mereka yang mendustakan kebenaran.

Muhasabah ini seharusnya tidak berhenti di mimbar pengajian, tetapi menjelma menjadi sikap hidup—tidak ingkar, tidak sombong, dan tidak berdusta—baik sebagai individu, keluarga, maupun bangsa.

Semoga catatan ini menjadi pengingat bagi kita semua. Wallahu a’lam.[]

Comment