by

Nama Mustafa Kemal Mengundang Kontroversial

-Opini-16 views

 

 

Oleh: Rima Septiani, Pegiat Literasi

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Rencana perubahan nama salah satu jalan di DKI Jakarta menjadi Mustafa Kemal Ataturk menuai polemik. Nama Presiden pertama Turki itu dinilai hanya akan mencederai perasaan umat Islam di Indonesia. Sebab, Ataturk adalah tokoh sekuler di Turki Yang sangat memusuhi Islam.

Sejumlah penolakan terkait hal ini bermunculan dari sejumlah pihak. Misalnya datang dari Wakil Ketua MUI Anwar Abbas. Sebagaimana dikutip kumparan.com (19/10/2021), penolakan Anwar Abbas pun dapat dipahami mengingat Ataturk dikenal tak dekat dengan Islam. Fadli Zon hingga PKS pun menyatakan menolak nama Mustafa Kemal sebagai nama jalan di Ibu Kota. Mereka justru mengusulkan nama tokoh Turki lain seperti Mehmed Al Fatih sebagai penggantinya.

Mustafa Kemal Ataturk merupakan sosok yang dikenal sebagai peletak dasar sekularisme di Turki yang sangat anti islam. Ia lahir pada 1881 di daerah Salonika. Ayahnya, Ali Riza bekerja sebagai pegawai kantor di kota itu. Dikenal sebagai pecandu alkohol. Sebagian penulis Barat menyebutkan Kemal Ataturk adalah anggota Freemasonry, organisasi rahasia Yahudi yang berdiri di London pada 1717.

Selain itu, Mustafa Kemal tidak hanya merupakan sosok yang sangat sekuler. Ia pun dikenal dengan sejarahnya yang menghapuskan sistem kekhilafahan di Turki pada 3 Maret 1924.

Melalui kebijakannya, sekolah berbasis Islam hingga penerapann Islam di ranah negara dihapuskan. Sehingga UU Eropa kemudian diadopsi di Negara Turki saat itu.

Dengan cara itu pula, Turki dicap sebagai negara sekuler. Urusan agama dipisahkan dari kehidupan publik, layaknya negara-negara Barat penganut Demokrasi Sekuler. Di tangan Ataturk pula, Al-Qur’an dan adzan untuk pertama kalinya diterjemahkan dalam bahasa Turki. Kemudian, kalender Islam pun diubah menjadi kalender Masehi.

Di samping itu, Mustafa Kemal Ataturk memulai ide gagasan Turki sebagai negara sekuler. Perlahan, satu per satu simbol agama ia ganti dengan simbol peradaban modern. Hingga Runtuhnya Turki Utsmani sekaligus mengakhiri peradaban Islam di dunia.

Maka ketika umat Islam mempelajari sejarah di masa lalu, tentu mayoritas umat Islam akan menolak pemberian nama jalan tersebut, sebab sosok Mustafa Kemal Ataturk adalah tokoh yang mengacak-acak ajaran Islam hingga ke akar-akarnya. Tak selayaknya menjadikan pengkhianat sebagai ikon di negeri mayoritas muslim.

Inilah pentingnya kita melihat sejarah secara utuh. Kita harus memahami betul sosok Mustafa Kemal Attaturk sebagai musuh seluruh kaum muslimin. Jangan sampai negeri berpendudukan mayoritas muslim ini, salah menilai tokoh yang sebenarnya dalang di balik runtuhnya peradaban Islam dan  Kekhalifahan Utsmani.

Benar bagi kalangan sekuler, Mustafa Kemal adalah sosok yang dipuja-puja, keberaniannya menghilangkan peran agama dalam kehidupan bernegara di Turki saat itu membuat dirinya dijuluki sebagai sosok pahlawan, bapak pembaharu Turki, dan tokoh revolusioner. Jasa-jasanya yang berhasil menghapus sistem kekhilafahan Islam terkenang di benak para pemimpin sekuler saat ini.

Program kepemimpinannya adalah menjauhkan syariat Islam di kehidupan rakyat Turki. Menghapus sistem kekhilafahan adalah agenda utamanya. Pasda awalnya Turki diterangi cahaya Islam, kini menjadi gelap gulita. Ia mengganti wajah Turki menjadi sekuler. Aturan yang berbau Islam dirombak secara keseluruhan berdasarkan kepemimpinan ala Barat.

Berkat peran besar Kemal dan segala konspirasinya, ia meruntuhkan sistem Islam yang sudah ratusan tahun menaungi Turki. Kemudian disusul dengan terpecah-belahnya negeri Islam lainnya.

Sejak awal kepemimpinanya, Kemal menginginkan Turki yang kental dengan Islam berubah menjadi sekuler mencontoh peradaban Barat yang ia junjung.

Oleh karena itulah, umat Islam wajib menolak wacana pemberian jalan di daerah Jakarta dengan nama Mustafa Kemal Attaturk. Sosoknya tak layak untuk dijadikan cermin bagi kaum muslim. Perbuatannya yang keji sejatinya menorehkan luka mendalam bagi umat Islam. Perangainya yang buruk tak pantas dijadikan role model.

Sungguh, dosa Attaturk yang menghapus sistem kepemimpinan Islam tak termaafkan. Kini umat Islam tak lagi memiliki kepemimpinan yang satu, umat Islam tercerai berai tak memiliki pelindung. Karena tanpa adanya Khilafah, berbagai negeri Islam dilanda kemunduran dan kesenjangan serta mengalami berbagai konflik yang tiada henti.

Dengan demikian, melihat rekam jejaknya yang begitu keji, sungguh tidak layak sosok seperti Mustafa Kemal diabadikan sebagai nama jalan di negeri mayoritas Muslim. Karena hal tersebut sungguh akan menyakiti hati umat Islam. Wallahu a’lam.[]

Comment

Rekomendasi Berita