by

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd* Posisi Indonesia di Tengah Konflik Laut China Selatan

-Opini-20 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Laut China Selatan menjadi isu terpanas akhir-akhir ini yang didominasi kisruhnya batas maritim dan klaim teritorial negara-negara sekitar. Kekuatan maritim besar (AS dan China) telah memperebutkan dan menjadikan fokus geopolitik strategis Laut China Selatan.

Aksi militer manuver Tiongkok telah memanfaatkan kekosongan selama masa pandemi covid-19. Sehingga menjadikan AS gusar dan terpaksa turut serta menjalankan aksi militer dengan menggandeng Australia dan sekutunya.

Isu Laut China Selatan selama ini telah memperkeruh hubungan Tiongkok dengan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia meskipun menyatakan tak turut persengketaan terkait isu tersebut.

Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya selama ini berupaya menghindari isu Laut China Selatan (yang banyak diklaim Tiongkok) karena akan berpengaruh terhadap hubungan diplomatik dan ekonomi.

RI sebagai negeri mayoritas muslim mempertegas pertahanan militer di Natuna terkait respon isu Laut China Selatan. Anggota Komisi I DPR RI Sukamta meminta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengerahkan kapal perang dan pesawat pengintai ke Laut China Selatan demi menjaga wilayah kedaulatan Indonesia dari agresifitas Beijing di dekat perairan tersebut.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan kembali Indonesia menolak bernegosiasi dengan China terkait batas maritim di Laut China Selatan dalam jumpa pers virtual di Istana Kepresidenan.

“Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait Hukum Kelautan (UNCLOS) 1962, Indonesia tidak memiliki klaim wilayah yang tumpang tindih dengan China. Karena itu, tidak relevan bagi kami (RI-China) untuk berdialog terkait batas kemaritiman dan delimitasi batas wilayah,” paparnya menambahkan. (CNN.com, 14/06)

Negeri-negeri muslim di kawasan Laut China Selatan selama ini hanya mampu sebagai penonton dan bermasalah terkait batas wilayah semata tanpa mampu bersaing dengan Tiongkok dan Amerika Serikat.

Posisi Laut China Selatan sangat strategis dan mirip Laut Mediterania pada abad pertengahan yang memiliki peran penting terhadap kekuatan negara-negara adidaya saat itu(Islam, Bizantium dan Latin).

Pada abad pertengahan kaum muslim memiliki kekuatan maritim yang kuat karena masih memiliki kepemimpinan Islam global yang bervisi maritim Islam. Sehingga mampu mengontrol dan menguasai Laut Mediterania.

Adapun saat ini negeri-negeri Islam terpecah belah tanpa memiliki satu kepemimpinan dengan cengkeraman sistem kapitalis demokrasi sehingga tak memiliki visi maritim Islam yang tangguh.

Visi maritim Islam didukung politik luar negeri Islam yang bertumpu pada prinsip Dakwah dan Jihad. Sehingga kekuatan armada laut negeri Islam memiliki kekuatan besar dan berjaya saat itu. Misalnya pada masa Kesultanan Utsmaniyah, lahirlah mujahid-mujahid maritim yang menggentarkan musuh-musuh Islam seperti Heyreddin Barbarosa, Hasan Khairuddin, Kilij Ali, Piri Reis, Hasan Ath Thusi, Zaganos Pasha, dan Turgut Reis.

Pada masa Mu’awiyah, pasukan Islam pertama kali melakukan ekspedisi penaklukan kota konstantinopel dan berhasil memosisikan diri sebagai salah satu pemain maritim yang diperhitungkan, bukan sekadar penonton seperti negeri-negeri Islam saat ini.

Para penguasa negeri-negeri Islam di sekitar Laut Cina Selatan seharusnya mengadopsi kembali visi maritim Islam yang akan membebaskan tanah dan laut mereka dengan menerapkan syariah Islam dalam institusi negara dari ketundukan terhadap negara kafir penjajah.

Negara yang bervisi Islam akan menjadikan dorongan iman, jihad, dan ketakwaan sebagai fondasi, bukan keserakahan dan penjajahan ekonomi kapitalis seperti saat ini.

Keutamaan jihad di lautan dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

غَزْوَةٌ فِي الْبَحْرِ خَيْرٌ مِنْ عَشْرِ غَزَوَاتٍ فِي الْبَرِّ، وَمَنْ أَجَازَ الْبَحْرَ فَكَأَنَّمَا أَجَازَ الأَوْدِيَةَ كُلَّهَا، وَالْمَائِدُ فِيهِ كَالْمُتَشَحِّطِ فِي دَمِهِ

“Satu kali berperang di lautan itu lebih baik dari sepuluh kali berperang di daratan. Orang yang berlayar di lautan [dalam jihad] adalah seperti orang yang telah mengarungi seluruh lembah [daratan]. Dan orang yang mabuk di lautan [dalam jihad] adalah seperti orang yang bersimbah darah [dalam jihad].” (HR Al-Hakim no. 2634 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir. Waallahu a’lam.[]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + 17 =

Rekomendasi Berita