by

Nur Aliah, SKM*: Pejuang Covid-19 Minim Proteksi

-Opini-18 views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA -Saat semua menghilang, Kau tetap setia menjaga, Kau berkorban tanpa suara

Demi senyum yang lain……
Engkau Pahlawan Dunia
Tuhan yang ‘kan membalas semua
Jerih lelah yang tak ternilai
Demi Raga yang lain.

Lagu yang dinyanyikan Yessiel Trivena dipersembahkan untuk para tenaga medis yang berjuang digaris terdepan dalam memerangai covid-19. Lagu tersebut sungguh menyentuh dan menggambarkan betapa tenaga medis berkorban demi raga yang lain, mulai dari waktu, tenaga bahkan berkorban raga demi raga yang lain, gelar pahlawan dunia pun disematkan kepada mereka, atas segala jasa dan perjuangannya.

Berdasarkan data Kamis (7/5), penyakit Covid-19 telah merenggut 989 tenaga kesehatan di seluruh dunia. Tingkat kematiannya sebesar 0,37% dari total kasus. Dalam periode yang sama, setidaknya terdapat 55 tenaga kesehatan Indonesia yang dinyatakan meninggal dunia akibat Covid-19.

Menurut Ketua Departemen Manajemen Rumah Sakit, Universitas Hasanuddin, Irwandy, tingkat kematian tenaga kesehatan Indonesia mencapai 6,5%. Artinya tiap 100 kematian ada sekitar 6-7 tenaga kesehatan yang meninggal dunia.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menekankan pentingnya menjamin hak dan menjamin keselamatan tenaga medis yang berada di garis depan perang melawan Covid-19.

Akhirnya Presiden Joko Widodo pada 23 Maret silam, menjanjikan akan memberikan insentif dan santunan bagi tenaga medis yang menangani covid-19 dan telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan.

Sebagaimana yang dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan, sasaran pemberian insentif adalah tenaga medis, baik aparatur sipil Negara (ASN), non-ASN, maupun relawan yang menangani Covid-19 di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.

Fasilitas kesehatan itu antara lain, rumah sakit yang khusus menangani Covid-19, rumah sakit pemerintah dan swasta yang ditunjuk pemerintah untuk menangani Covid-19, kantor kesehatan pelabuhan (KKP), dinas kesehatan di tiap wilayah, puskesmas, dan laboratorium yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Adapun besaran maksimal insentif yang dijanjikan adalah sebagai berikut: Dokter spesialis sebesar Rp15 juta, Dokter umum dan gigi sebesar Rp10 juta, Bidan dan perawat Rp7,5 juta, Tenaga medis lainnya Rp5 juta. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan santunan kematian sebesar Rp300 juta kepada tenaga medis yang meninggal saat bertugas menangani pasien Covid-19 (bbc.com,27/05/2020).

Namun lagi-lagi realisasi tak semanis espektasi. Janji memang mudah namun butuh keseriusan untuk merealisasikan janji. Sejumlah tenaga medis di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran belum mendapatkan insentif keuangan yang dijanjikan oleh pemerintah. Salah satu tenaga medis di Wisma Atlet Kemayoran mengatakan, pencairan insentif terkendala akibat masa libur Lebaran (Merdeka.com,25/05/2020).

Disaat wabah semakin mengganas Sebanyak 109 tenaga medis di RSUD Ogan Ilir, Sumatra Selatan, justru dipecat karena melakukan aksi menuntut transparansi insentif dan alat pelindung diri (APD) demi keselamatan kerja, asupan vitamin dan rumah singgah yang layak. Bahkan, ketika mendapat kabar pemecatan ada yang sedang bertugas (bbc.com,27/05/2020).

Kondisi prihatin juga datang dari sejumlah perawat di ruang isolasi rumah sakit rujukan Covid-19 Cianjur, Jawa Barat, yang terpaksa menggadaikan barang berharga miliknya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ada yang menggadaikan motor bahkan meggadaikan mas kawinnya demi untuk memenuhi kebutuhan keluaga bahkan kadang mereka harus membeli APD sendiri ketika stok APD habis (Republika.co.id,07/05/2020).

Sungguh pilu melihatnya tenaga medis yang berjuang di garda terdepan dalam memerangi covid-19 justru minim proteksi, mereka yang seharusnya merasa aman dan nyaman dalam bertugas dengan terpenuhinya APD, Vitamin tubuh dan jaminan terhadap keluarga mereka, justru sebaliknya.

Negara wajib memenuhi hak-hak tenaga medis. Salah satunya dengan memberikan proteksi. Jika tidak, akan semakin banyak korban tenaga medis. Padahal gugurnya tenaga medis maka berkuranglah tentara kita dalam menghadapi covid-19.

Hingga kini masih ada rumah sakit yang kekurangan APD. Jika pun ada, APD seadanya, jauh dari standar APD penanganan Covid-19. Pemerintah hanya menyuplai APD ke sejumlah rumah sakit rujukan. Hal ini dikeluhkan oleh tenaga medis yang bertugas di rumah sakit non rujukan tapi harus merawat pasien yang terindikasi Covid-19.

Minimnya APD menjadi bukti Negara belum memberikan perlindungan yang utuh dengan kebijakan terintegrasi dalam penanganan wabah Covid-19. Bukan hanya minimnya proteksi diri, bahkan proteksi finansial yang dijanjikan juga belum dipenuhi.

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan mengungkapkan insentif bagi tenaga kesehatan (nakes) di daerah belum cair. Hal itu terkendala oleh data yang disetorkan masing-masing daerah kepada pemerintah pusat (detik.com,30/05/2020)

Bahkan ada pula yang terpaksa merumahkan tenaga medis karena terdampak Covid-19. Seperti yang terjadi di Rumah Sakit Metta Media yang merumahkan sementara 120 orang tenaga medis.

Adalah perilaku yang tidak patut dan proporsional jika tenaga medis minim mendapatkan proteksi.

Pandemi ini telah membuka mata kita, bahwa negara yang menerapkan sistem kapitalis telah gagal menjamin keselamatan rakyatnya, termasuk tenaga medis.

Gugurnya tenaga medis atau pemecatan sama dengan berkurangnya prajurit di garda depan dalam melawan Covid-19.

Berbeda dalam Islam penguasa sangat menyadari bahwa kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga mereka memimpin dengan ketakwaan. Penguasa dalam Islam akan mengutamakan nyawa rakyat dari kepentingan lain. Kebijakan yang diambil tentu semuanya atas pertimbangan yang matang dan demi kemaslahatan ummat tanpa mengabaikan nyawa rakyat.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Dalam menangani wabah, biaya hidup rakyat yang diberlakukan lockdown ditanggung oleh kas Negara (baitul mal). Segala fasilitas kesehatan seperti APD, masker, tenaga kesehatan yang profesional wajib disediakan Negara. Negara wajib membangun rumah sakit, sekolah kedokteran, perawat, apoteker, apotek, klinik, laboratorium, dan sebagainya, yang mendukung pelaksanaan kesehatan secara layak kepada masyarakat.

Tenaga medis, akan mendapatkan jaminan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Baik ketika ada wabah maupun tidak. Karena dalam kondisi normal pun kesejahteraan mereka senantiasa diperhatikan Negara. Apalagi di saat wabah menerpa. Sementara daerah lain akan tetap dibuka dan beroprasi sebagaimana sebelumnya agar ekonomi tetap berjalan.

Sebagai agama yang super sempurna, Islam memiliki solusi untuk semua persoalan termasuk di dalamnya bagaimana mengatasi wabah yang bersifat pandemi dan telah berhasil.

Maka saatnya kita kembali kepada Islam untuk menggapai kenyamanan hidup dengan mengimplementasikannya secara kaffah dalam seluruh dimensi kehidupan. Wallahu’alam bissawab.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − eleven =

Rekomendasi Berita