by

Nurul Puji Astuti*: Pentingnya Konsistensi Penanganan Wabah Pandemi

-Opini-40 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Akhir akhir ini kita disuguhkan berita pro kontra tentang pilkada di saat pandemik. Di satu sisi ada yang mendukung dan di sisi lain ada pula yang menolak. Salah satu alasan mereka yang menolak adalah kekhawatiran bahwa di masa pandemi covid saat ini terus memakan korban jiwa.

Menyikapi hal ini, statement gubernur Jawa Barat,  Ridwan Kamil menjadi sorotan.

“Hari ini COVID-19 tidak bisa dikendalikan dengan modal ‘handphone’ atau ‘vidcon’ (video conference) saja. Memang ada hal teknis dan biasanya dalam suasana yang sedih, stres, kehadiran pemimpin itu penting,” kata Ridwan Kamil yang biasa disapa Emil dalam wawancara dengan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro di kantor presiden Jakarta, Jumat.

Di satu sisi, pilkada  harus berjalan dan di sisi lain pandemi covid tidak bisa dianggap enteng alias butuh perhatian.

“Jabar itu kan penanggulangan COVID-nya terbagi tiga geografis ya karena berbeda-beda, tiap tipe demografis membutuhkan penanganan beda-beda,” ungkap Emil.

Geografis pertama adalah zona yang menempel Jakarta yaitu Bodebek, kedua ibu kota Jawa Barat dan sekitarnya dan sisanya 27 kabupaten/kota.

“Di Depok karena setiap hari 75 persen kasus Jawa Barat itu datangnya dari zona Bodebek. Kadang 70, kadang 73, kadang 75. Kedua, Depok lagi Pilkada. Saya ingin memastikan bisa penuh konsentrasi ngurusin yang 75 persen itu sambil memastikan pilkada lancar, tidak ada pelanggaran protokol, naudzubillah istilahnya jangan sampai ada klaster baru,” jelas Emil.

Setiap minggu, satu-dua hari ia mengaku mengkonsolidasikan dukungan.

“Contoh, di Depok kan tingkat hunian rumah sakit tinggi, kita koordinasi dengan pemerintah pusat, provinsi kasih 40 ruangan ICU tambahan. Hal-hal itu memang harus kita koordinasikan,” tambah Emil.

Emil mengaku bahwa COVID-19 dapat dimenangkan hanya saat masyarakat bekerja sama dengan pemerintah.

“Makanya saya ibaratnya gini, COVID-19 itu ibarat perang. Coba bayangkan kita lagi perang, kalau lagi perang, siapakah yang harus turun? Ya semua orang. Kalau dulu kita perang konvensional, tentara di depan, sekarang kan dokter, tenaga kesehatan. Kalau lagi perang, yang punya harta menyumbang harta. Sekarang juga sama. Ayo dukung menyumbang APD, menyumbang masker,” ungkap Emil.

“Terakhir yang tidak bela negara dengan harta, ilmu, dan tenaga, bela negaranya jangan jadi korban gitu. Caranya jauhi kerumunan, plus 3M: pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, semua harus turun. sebagai pemimpin aura saya harus optimistis. Namanya jenderal kan harus tetap semangat memimpin,” tegas Emil.

Kekonsistenan pemimpin dalam penanganan wabah sangat penting demi keutuhan pemahaman warga akan bahayanya wabah ini, seperti jaga jarak, memakai masker, dan menghindari kerumunan adalah hal penting dalam penanganan wabah ini.

Namun terlihat adanya inkonsistensi kebijakan dalam tatsran praktis. Menolak ketumunan tapi pilkada yang menyebabkan kerumunan itu tetap dilaksanakan.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi mengakui, penerapan protokol kesehatan menjadi tantangan terbesar dalam gelaran Pilkada 2020. Ia pun mengakui bahwa yang paling sulit dilakukan di lapangan saat Pilkada adalah menghindari kerumunan dan menjaga jarak.

“Jadi memang tantangan terbesar adalah ketaatan tentang protokol itu sendiri. Jadi yang paling sulit di lapangan adalah bagaimana menghindari kerumunan dan menjaga jarak, itu yang saya lihat di lapangan,” kata Raka dalam sebuah diskusi virtual, Kamis (1/10/2020).

“Tapi kalau kemudian tentang masker dan lain sebagainya itu di sejumlah daerah sudah sebagian besar terlaksana meskipun ada juga yang belum, tapi menjaga jarak ini sangat sulit,” tuturnya.

Wabah covid dengan segala penanganan dan kesulitan ini harus menjadi perhatian penting oleh pemimpin maupun penguasa. Harus betlaku konsisten dalam menerapkan kebijakan. Akan sangat sulit menemukan titik capaian secara tuntas bila satu kebijakan bertabrakan  dengan kebijakan lain.

Pandemi dan wabah covid ini membutuhkan penjagaan jarak (social distance) sedangkan pelaksanaan  pilkada sendiri sangat sulit menjaga jarak.

Penanganan wabah dengan kebijakan protocol kesehatan,  PSBB, minilockdown dan istilah lainnya tidak menyelesaikan inti persoalan. Solusi yang ditempuh oleh dan cara pandang negara kapitalisme saat ini tidak menyentuh hal mendasar.

Perlu digaris bawahi bahwa kita membutuhkan sebuah teknik dan strategi yang pernah diimplementasikan oleh islam dahulu. Memang sejatinya kita harus kembali ke dalam islam yang diterapkan secara utuh (kaffah).

Banyak yang bisa diambil sebagai pelajaran tentang bagaimana penerapan Islam dulu terkait penanganan wabah. Islam bukan agama ritual yang mengatur ibadah saja namun juga mengatur kehidupan secara keseluruhan.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × five =

Rekomendasi Berita