by

ODGJ Meningkat, Darurat Penerapan Syariat

-Opini-30 views

 

 

Oleh: Ammylia Ummu Rabani, Muslimah Peduli Umat

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pandemi begitu alot untuk diakhiri. Virus terus saja bermutasi, tetapi dirasa buntu solusi. Kehidupan masyarakat kian hari kian miris. Tak jarang merasakan tekanan bertubi-tubi hingga berujung depresi kehilangan akal juga nurani.

Barisan pengangguran menjadi padat, bahkan jumlah ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) pun meningkat. Angka peningkatan keberadaan OGJD di Kabupaten Bandung sekitar 20 persen jika dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Keberadaan OGJD yang ditangani Dinsos kebanyakan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Jika telah mendapat rekomendasi dari Dinsos, maka pasien yang dinyatakan ODGJ tersebut akan ditangani secara gratis.Tutur Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Bandun,g Rahmattulah Mukti Prabowo. (Jabar Ekspres/17/1/2022)

Beban yang tak kunjung terurai, lama-kelamaan akan bertumpuk dan menjadi masalah bagi jiwa dan mental. Pandemi telah mengoyak kesehatan badan juga kejiwaan masyarakat.

Sektor ekonomi yang kapitalistik telah menyumbangkan dampak tekanan yang luar biasa kepada masyarakat kecil. Kebijakan penguasa pun dinilai condong kepada pengusaha, dibandingkan untuk bertugas menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

Jadilah masyarakat semakin pekat dalam tekanan, bagi mereka yang lemah iman dan larut dalam beban pikiran hingga sampai pada titik kehilangan kewarasan. ODGJ yang meningkat, darurat solusi tepat.

Sebagai seorang Muslim, sudah sewajibnya untuk mendudukkan setiap permasalahan agar ditinjau dari sudut pandang yang sahih. Tak lain adalah mencari solusinya dalam syariat. Hal demikian karena Islam hadir sebagai agama sekaligus pandangan hidup yang solutif bagi setiap umat.

Peningkatan ODGJ di masa pandemi dapat dipicu dari beberapa faktor. Pertama, tekanan yang bertubi-tubi dan lemahnya tali temali dengan Ilahi Rabbi.

Bagi sebagian orang, pandemi dianggap sebagai kutukan yang menyengsarakan. Kehidupan berubah dengan signifikan. Hilangnya pekerjaan yang berimbas pada minimnya sumber pemenuhan kehidupan. Tak jarang rumah tangga pun berujung pada perceraian.

Namun, sebagai seorang Muslim, ada perkara yang sering diluputkan, yaitu ruh. Bukan makna ruh yang mendampingi jasad, tapi dengan makna idrak silah billah, yaitu kehendak berhubungan dengan Allah Ta’ala.

Manusia kadang lupa bahwa ia adalah makhluk yang diciptakan oleh Khaliq. Hakikatnya makhluk itu lemah dan terbatas. Maka dia membutuhkan kepada Sang Pencipta, termasuk saat dilanda berbagai tekanan di saat pandemi maupun di luar pandemi.

Manusia masa kini pun ada dalam posisi disorientasi kehidupan. Sehingga kala digoyang kantung ekonominya dia rentan depresi. Padahal hakikat ujian adalah bentuk perhatian Allah Ta’ala agar manusis bisa peka guna kembali ke jalan-Nya, agar senantiasa beribadah kepada-Nya. Sebagaimana hakikat penciptaan manusia.

“Dan tidaklah Allah menciptakan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya” (Q.S. Adz-Dzariyat:56).

Kedua, corak masyarakat yang individualistik. Masyarakat yang hidup di bawah payung sistem kapitalisme sarat dengan kehidupan yang individualistik. Hanya memikirkan keselamatan, kecukupan diri sendiri. Sikap kerjasama dalam keberlangsungan hidup menjadi terkikis. Semua menjadi dilema.

Di tengah kesulitan masyarakat, masih saja ada oknum yang dengan teganya meraup manfaat. Sebagaimana, terbongkarnya bisnis PCR atau skandal korupsi dana bansos. Kepedulian terhadap sesama anggota masyarakat menjadi sekarat karena ulah sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab.

Ketiga, buruknya penerapan sistem dan potret kepemimpinan. Sistem kapitalisme-sekukar yang diterapkan di negeri ini telah gagal total dalam upaya menjaga kesehatan jiwa dan raga masyarakat yang dipimpinnya.

Sistem kapitalisme yang menjadikan manfaat meski mengundang mudarat telah membebani sebagian besar masyarakat. Kehidupan masyarakat miskin semakin menganga, tapi mereka malah menggelontorkan dana untuk pembangunan yang tidak mendesak adanya.

Pemindahan ibu kota, proyek kereta cepat, jalan tol, sungguh menjadi bukti nyata bahwa sistem Kapitalisme telah menghasilkan kepemimpinan yang tidak peka terhadap rakyatnya.

Berbanding terbalik dengan potret kepemimpinan di dalam Islam. Sistem yang sahih akan menghasilkan pemimpin yang salih.

Sosok pemimpin yang amanah dan peduli akan penderitaan rakyatnya. Sebagaimana Rasulullah Saw yang begitu telaten memperhatikan kebutuhan umat yang dipimpinnya. Bukan hanya dari kesejahteraan fisik, tapi pemenuhan naluri juga kesehatan akal dan keselamatan akidah pun diperhatikan.

Selain itu, Umar bin Khatab Ra pun telah memberikan keteladanan. Di tengah pekatnya malam, ia rela memanggul sekarung gandum dari Baitul Mal karena mendapati rakyatnya yang kelaparan.

Masyaallah, pemimpin yang amanah akan lahir jika ia mengenali jati dirinya sebagai hamba dari Ilahi Rabbi. Ia paham betul bahwa hidup hanya untuk mengemban amanah dari yang Mahapencipta.

Rasulullah Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya menyampaikan bahwa seorang hamba yang diberi amanat menjadi seorang pemimpin oleh Allah SWT, tapi tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik atau tidak amanah, maka dia tidak akan mencium bau surga.

Ubaidullah bin Ziyad mengunjungi Ma’qil bin Yasar ketika sakit yang membuatnya mati, lantas Ma’qil mengatakan kepadanya.

“Saya sampaikan hadits kepadamu yang aku dengar dari Rasulullah SAW.”
Aku (Ma’qil) mendengar Nabi SAW bersabda:

“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, selain tak bakalan mendapat bau surga.” (HR Bukhari).

Sehingga tak ada lagi alasan untuk kita membiarkan permasalahan semakin padat. Begitupun dengan ODGJ yang kian meningkat.

Sungguh, ini darurat diterapkannya syariat. Kembali kepada seruan Allah Ta’ala agar negeri ini menjadi negeri yang diberkahi. Wallahu’alam bishowab.[]

Comment

Rekomendasi Berita