Otokritik Kaum Muslimin yang Tertidur: Sibuk Berselisih, Lupa Introspeksi

Opini385 Views

Penulis: Rais Hidayatullah | Mahasantri Mahad Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Hari ini, di negeri mayoritas Muslim, kita menyaksikan begitu banyak masjid berdiri megah dan lantunan azan berkumandang hampir setiap saat. Namun di tengah suasana religius itu, nilai-nilai Islam justru tampak kian terasing dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.

Kita sering melihat pertentangan di antara kaum Muslimin hanya karena perbedaan pendapat dalam hal-hal furu’iyah. Saling serang, saling hujat, bahkan memutus silaturahmi. Padahal, jika menengok teladan Rasulullah ﷺ, kita tak akan menemukan sikap seperti itu.

Rasulullah tidak bersikap keras terhadap perbedaan. Beliau justru memberi ruang bagi ijtihad dan hikmah. Kita tahu bagaimana beliau menerima usulan strategi dari Salman Al-Farisi saat perang, bagaimana beliau tetap tenang ketika seorang Yahudi menarik sorbannya dengan kasar saat menagih utang, hingga membiarkan bekas di lehernya.

Kita juga tahu bagaimana beliau bersabar ketika diboikot selama tiga tahun di Makkah—padahal beliau bisa saja berdoa agar Allah menghancurkan musuh tanpa peperangan sekalipun.

Rasulullah tidak pernah menuntut umatnya untuk selalu menang atau menjadi yang terbaik, tetapi meneladankan keteguhan, kesabaran, dan kerja keras. Beliau mengajarkan agar umat Islam berjuang dengan ikhtiar dan keteguhan hati, bukan sekadar menakar hasil.

Kini, prinsip-prinsip dasar dalam berislam mulai luntur sejak tidak adanya pemimpin yang menyatukan kaum Muslimin. Kita kehilangan arah dalam memahami Islam secara utuh, kehilangan kekuatan untuk melindungi sesama, dan kehilangan semangat menuntut ilmu.

Banyak yang menganggap urusan agama tidak perlu dibawa ke ranah publik, seolah kepatuhan kepada Allah hanya sebatas ritual pribadi.

Kondisi inilah yang sejatinya telah Rasulullah ﷺ peringatkan berabad-abad lalu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا…

Rasulullah ﷺ bersabda, “Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang hendak makan saling mengajak menuju piring besar mereka.”

Seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?”

Beliau menjawab, “Tidak. Kalian banyak, tetapi bagaikan buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian dan menimpakan penyakit wahn di hati kalian.”

Para sahabat bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud, no. 4297).

Hadis ini terasa sangat relevan dengan kondisi kita hari ini. Berdasarkan data Global Muslim Population yang dipublikasikan laman Times Prayer (2 Februari 2024), jumlah pemeluk Islam di dunia mencapai 2.022.131.798 jiwa dari total populasi dunia 8.088.527.193 jiwa.

Namun, betapa ironisnya—jumlah besar itu tidak berbanding lurus dengan kekuatan. Kita masih lemah di hadapan zionis yang hingga kini membantai rakyat Palestina. Umat Islam di berbagai negara belum mampu menegakkan perjuangan hakiki jihad fi sabilillah.

Kelemahan itu bukan hanya karena hilangnya kekuatan politik, tapi juga karena minimnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang kaffah.

Maka, yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar kemarahan atau celaan, melainkan kesadaran dan solusi bertahap. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri: dari kesadaran individu terhadap nilai-nilai Islam yang mulai ditinggalkan, hingga perjuangan kolektif untuk menegakkan syariat Islam secara menyeluruh.

Menegakkan syariat bukan hal mustahil. Rasulullah telah menunjukkan jalannya: dengan ikhtiar, keteguhan, dan tawakal kepada Allah.

Perjuangan ini memang tidak mudah, dan mungkin tidak selesai dalam waktu singkat. Tapi jarak yang jauh bukan berarti mustahil. Tidak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan Yang Maha Besar. Wallahu a‘lam.[]

Comment