Palestina 2026: Kuburan Massal Diplomasi dan Perisai yang Hilang

Berita93 Views

Penulis: Neno Salsabillah | Aktivis Muslimah & Muslimpreneur

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Layar ponsel kita nyaris tak pernah berubah. Setiap hari, publik disuguhi potret yang sama: bangunan runtuh, jeritan ibu yang kehilangan anaknya, serta barisan jenazah berbalut kain kafan yang seolah tak berujung.

Sebagaimana ditulis detikNews (9/1/2026), data awal tahun ini mencatat jumlah korban jiwa di Gaza telah melampaui 71.000 orang. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan penanda runtuhnya nurani dunia internasional.

Ironisnya, di tengah tragedi kemanusiaan itu, sikap agresor justru kian menunjukkan wajah aslinya.

Sebagaimana dilansir detikNews (31/12/2025), rezim zionis melarang 37 lembaga bantuan kemanusiaan beroperasi di Gaza. Bantuan diblokade, akses ditutup, sementara bom terus dijatuhkan.

Namun, di balik deretan angka dan kebijakan represif itu, muncul pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan: mengapa 1,9 miliar umat Islam di dunia—dengan puluhan negara dan jutaan tentara—tampak tak berdaya menghadapi satu entitas penjajah?
Akar Masalah: Sekularisme dan Nasionalisme

Tragedi Palestina sejatinya adalah potret telanjang kegagalan tatanan dunia sekular. Selama puluhan tahun, umat berharap pada Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi yang lahir hanyalah resolusi tanpa daya paksa.

Harapan pada mediasi Amerika Serikat pun berujung pada keberpihakan yang telanjang. Allah SWT telah mengingatkan kondisi semacam ini jauh hari:

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Sesungguhnya kekuatan itu seluruhnya milik Allah.” (QS. An-Nisa: 138–139).

Penyakit utama umat hari ini adalah ‘ashabiyah—nasionalisme sempit yang memecah belah. Umat Islam terkungkung oleh sekat-sekat negara, sementara tentara di negeri-negeri Muslim sekitar Palestina hanya bisa menyaksikan pembantaian saudara mereka dari balik batas perbatasan.

Solusi Kemanusiaan Tak Lagi Cukup

Mengirim bantuan pangan dan obat-obatan tentu merupakan amal mulia. Namun, dalam konteks penjajahan brutal, langkah itu tak lebih dari solusi darurat. Warga Palestina diberi makan hari ini, hanya untuk kembali dibombardir esok hari.

Selama akar persoalan—yakni eksistensi entitas zionis penjajah—tidak diselesaikan, penderitaan Palestina akan terus berulang. Dunia internasional pun tak bisa diharapkan banyak, sebab Israel telah lama menjadi “anak emas” kepentingan politik dan ekonomi global.
Islam Kaffah dan Urgensi Perisai yang Hilang

Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan persoalan akidah dan kepemimpinan politik umat. Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah—milik umat Islam—yang pembebasannya meniscayakan kekuatan politik dan militer yang mandiri.

Islam tidak diturunkan hanya untuk mengatur ibadah ritual, tetapi juga untuk mengatur kehidupan dan negara secara menyeluruh (Islam kaffah).
Rasulullah SAW telah memberikan gambaran yang sangat jelas:

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai (junnah). Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tanpa junnah berupa kepemimpinan politik umat, umat Islam akan terus menjadi sasaran empuk kekuatan global. Sistem pemerintahan Islam global yang akan menyatukan potensi militer, memutus ketergantungan ekonomi pada Barat, serta menghadirkan perlindungan nyata bagi Al-Aqsa.

Saatnya Bangun dari Tidur Panjang
Sudah saatnya umat berhenti sekadar berduka dan mengutuk. Penderitaan Palestina hanya akan berakhir ketika lahir kekuatan yang berani berdiri menantang tirani dengan hukum Allah.

Memperjuangkan tegaknya Islam kaffah dalam bingkai pemerintahan Islam global bukan romantisme sejarah, melainkan kewajiban syar’i sekaligus kebutuhan geopolitik yang mendesak.

Jangan biarkan Palestina terus menjadi luka terbuka sepanjang zaman. Berhentilah menjadi penonton pasif dalam sejarah. Pelajari Islam secara utuh, kaji sistemnya yang paripurna, dan perjuangkan kembalinya kemuliaan umat.

Hanya dengan itulah bendera kalimat tauhid akan kembali berkibar di atas menara Al-Aqsa yang merdeka.
Wallahu a‘lam bish-shawab.[]

Comment