Palestina dalam Derita, Sampai Kapan Dunia Diam?

Opini173 Views

Penulis: Della Amelia Pasha | Aktivis Remaja

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Penderitaan rakyat Palestina bukanlah peristiwa yang baru terjadi. Luka sejarah itu kembali menganga sejak serangan brutal Israel pada Oktober 2023, yang merenggut sedikitnya 65 ribu nyawa warga sipil.

Namun sejatinya, tragedi tersebut hanyalah satu bab dari rangkaian panjang penjajahan yang telah dialami Palestina selama puluhan tahun di bawah cengkeraman Zionis Israel.

Jauh sebelum itu, rakyat Palestina hidup dalam bayang-bayang ketakutan, kehilangan, dan ketidakadilan akibat pendudukan yang sistematis. Hak hidup, rasa aman, hingga akses terhadap kebutuhan dasar terus dirampas, sementara dunia internasional kerap memilih bersikap ambigu.

Kekejaman Yang Terus Berulang

Seperti dilaporkan Minanews.net (7/1/26), sejak diberlakukannya perjanjian gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, pasukan Israel tercatat telah melakukan sedikitnya 969 pelanggaran. Akibatnya, 418 warga Palestina tewas dan 1.141 lainnya mengalami luka-luka.

Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO) bahkan menggambarkan situasi di wilayah tersebut sebagai “kematian perlahan” selama 80 hari terakhir.

Pelanggaran gencatan senjata dilakukan melalui penembakan langsung terhadap warga sipil, serangan ke permukiman, pengeboman rumah-rumah penduduk, penghancuran infrastruktur secara masif, hingga penangkapan ilegal.

Di sisi lain, sebagaimana diberitakan Antaranews.com (31/12/25), Israel juga melarang 37 organisasi kemanusiaan internasional beroperasi di Palestina, khususnya Jalur Gaza.

Kebijakan ini dikecam keras oleh Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina, yang menegaskan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem.

Larangan tersebut dinilai sebagai bentuk pembajakan dan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, sekaligus upaya menghilangkan saksi atas kejahatan kemanusiaan yang terus dilakukan.

Mengapa Derita Ini Tak Berujung?

Penderitaan Palestina akan terus berlanjut selama Zionis Israel tetap dibiarkan eksis, diakui, dan dilindungi oleh tatanan global saat ini. Rekam jejak pengingkaran janji telah lama melekat pada Israel, bahkan dalam kesepakatan gencatan senjata sekalipun.

Ambisi mendirikan “Israel Raya” serta dominasi politik dan ekonomi global mendorong Israel untuk terus melakukan pelanggaran, tanpa menghiraukan nyawa warga sipil Palestina.

Semua ini terjadi dalam sistem kapitalisme sekuler yang menjauhkan dunia dari solusi yang bersumber pada nilai-nilai Islam.

Akibatnya, penyelesaian yang ditawarkan hanyalah solusi pragmatis dan semu. Gencatan senjata sering kali menjadi alat pencitraan, seolah Palestina telah aman, padahal di baliknya penderitaan terus berlanjut.

Tawaran damai yang dipimpin Amerika Serikat pun cenderung menempatkan Palestina dalam posisi yang semakin lemah dan tidak adil.

Sikap bungkam para penguasa Muslim turut memperpanjang tragedi ini. Kecaman dan kutukan tanpa tindakan nyata tidak akan pernah cukup untuk menghentikan kezaliman.

Islam Sebagai Solusi Hakiki
Sejarah mencatat, umat Islam pernah membebaskan Baitul Maqdis dari penjajahan pasukan salib di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al Ayyubi. Dengan izin Allah SWT dan persatuan kaum Muslimin, pembebasan itu menjadi nyata.

Hari ini, Palestina kembali terjajah. Rakyatnya membutuhkan solusi yang benar-benar mampu mengakhiri penderitaan, bukan sekadar menundanya. Islam menawarkan solusi yang menyentuh akar persoalan, bukan hanya gejala di permukaan.

Pengkhianatan para penguasa Muslim terhadap amanah kepemimpinan harus dihentikan. Mereka memiliki kekuatan dan kedaulatan, namun memilih diam. Kesadaran umat untuk bangkit dan bersatu di bawah satu kepemimpinan islam global sebagai junnah (perisai) harus terus digelorakan.

Perisai inilah yang mampu melindungi Palestina dari kezaliman dan agresi. Tanpa kekuatan politik Islam yang melindungi, penderitaan itu akan terus berulang.

Palestina adalah tanah milik seluruh umat Islam. Membiarkannya dirampas sama saja dengan membiarkan kehormatan dan amanah umat diinjak-injak. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab atas perjuangan ini, bukan hanya atas dasar kemanusiaan, tetapi juga akidah.

Pada akhirnya, semua sikap dan pilihan kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Wallahu’alam bishawab.[]

Comment