Pameran “BUMI”: Ajak Publik Menyentuh Ulang Relasi Manusia dan Tanah

Daerah, Surabaya392 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, SURABAYA – Pameran seni bertajuk BUMI: Integralitas Tubuh–Rasa resmi dibuka di Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) pada Ahad (1/12/2025) malam.

Sejak hari pertama, gelaran ini langsung menyita perhatian publik karena menawarkan pengalaman artistik yang menyorot isu ekologi melalui pendekatan lintas disiplin. Pameran berlangsung selama sepekan, 1–7 Desember 2025, dengan menghadirkan puluhan seniman dari berbagai kota.

Pembukaan dilakukan oleh seniman sekaligus tokoh seni Surabaya, Syaiful Mudjib. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pameran ini menjadi ruang penting untuk membaca kondisi bumi dengan bahasa kesenian. Menurutnya, karya-karya yang ditampilkan memberi sudut pandang baru tentang kerusakan ekologis tanpa bersifat menggurui.

Pameran BUMI menampilkan lebih dari 35 karya dari sejumlah nama seperti Uret Pariono, Caulis Itong, Radillah, Hananta, Merlyna AP, Adhik Kristiantoro, Risdianto, Hicak, Lanjar Jiwo, Efka Mizan, S.E. Dewantoro (Gepeng), Imam Rastanegara, Bang Toyib, Hendra Cobain, Agus Cavalera, Ibob Susu, Robi Meliala, Dani Croot, Afif, Helmy Hazka, Suki, Rinto Agung, Susilo Tomo, Dwest, Biely, Bayu Kabol, Anggoro, Mie Gemes, Gopel, Rusdam, Miki, Boy Tatto, Arsdewo, Heri Purnomo, Syalabia Yasah, Hallo Tarzan, hingga sejumlah komunitas seperti BAKAR (Batalyon Kerja Rupa), SeBUMI, Family Merdeka, Injak Tanah, MOM, Bombtrack, dan ATOZ.

Gelaran ini mendapat dukungan penuh dari Dewan Kesenian Surabaya, Dewan Kesenian Jawa Timur, Slamet Gaprax, Irma, Paksi, AKA Umam, komunitas Pengamen Bungurasi A-Minor, Pokemon, Mak Yati (Teater Api), House of P Studio, Pena Hitam, Kopi Sontoloyo & Sontoloyo Gubeng, Organized Chaos Sound, Art Cukil Tshirt, serta sejumlah pihak lain.

Ruang galeri dipenuhi instalasi, lukisan, teks, arsip suara, puisi, hingga performance yang bergerak di antara tema tubuh, tanah, dan krisis ekologis. Kurator pameran, Hari Prajitno, M.Sn, menegaskan bahwa konsep tersebut berangkat dari gagasan bahwa tubuh manusia dan bumi memiliki keterhubungan material.

“Tubuh dan tanah bukan dua hal yang terpisah. Kita berasal dari tanah, dan kelak kembali ke tanah,” ujarnya.

Salah satu sudut yang menyedot perhatian pengunjung adalah instalasi visual yang menampilkan citra tanah retak, tekstur bumi yang rusak, serta bunyi-bunyian yang menggambarkan suasana ekologis mutakhir.

Karya-karya itu menciptakan pengalaman imersif, membuat pengunjung merasakan kondisi bumi secara langsung tanpa perlu didahului slogan kampanye. Selain pameran karya, panitia juga menyelenggarakan kegiatan penanaman pohon di Hutan Kota, workshop cukil dan batik di kawasan Dolly, serta diskusi seni.

Pada malam pembukaan, film dokumenter karya Daniel Rudi Haryanto ikut diputar. Film itu menyajikan potret kerusakan lingkungan di berbagai daerah tanpa narasi berlebih, namun berhasil menguatkan kesadaran penonton. Tepuk tangan panjang mengiringi akhir pemutaran.

Panggung performance juga diisi oleh Pandai Api, Family Merdeka, Bombtrack, Magixridim, Arul Lamandau, serta Aulia. Mereka tampil dengan gaya khas masing-masing dan memperkuat pesan utama pameran: manusia dan bumi tak dapat dipisahkan, krisis lingkungan adalah krisis tubuh itu sendiri. Acara dipandu oleh Deni Indrayanti dan Caulis Itong.

Pameran ini sengaja tidak menampilkan poster ajakan menyelamatkan lingkungan ataupun slogan-slogan klise. Pesan ekologis hadir lewat pengalaman inderawi: suara gesekan, cahaya temaram, tubuh performer, aroma material bumi, hingga jeda hening yang disusun secara penuh kesadaran. Pendekatan ini membuat BUMI tampil berbeda dari pameran lingkungan pada umumnya.

Pengunjung yang hadir terlihat menikmati karya sembari berdiskusi santai. Beberapa di antaranya mengaku memperoleh pengalaman baru dalam memahami isu lingkungan. “Rasanya seperti diajak melihat bumi dari dalam tubuh sendiri,” ujar seorang pengunjung.

Pameran BUMI: Integralitas Tubuh–Rasa masih berlangsung hingga 7 Desember di Galeri DKS, Jl. Gubernur Suryo No. 15, Embong Kaliasin, Surabaya. Panitia memastikan gelaran dibuka setiap hari hingga penutupan.

Di penghujung tahun, pameran ini menjadi salah satu agenda seni paling reflektif—seolah mengingatkan bahwa bumi sedang berbicara, dan manusialah yang menentukan apakah ia ingin mendengarkannya atau tidak.[]

Jika Bos ingin dibuatkan versi Reels, caption pendek, atau versi Kompas, tinggal perintah saja.

Comment