by

Pannindya Surya Rahma Sari Puspita*: Sikap Rasis Tidaklah Etis

-Opini-29 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Sikap rasis sering menjadi momok yang manakutkan manusia di seluruh penjuru dunia. Perlawanan terhadap sikap rasis sering disuarakan di berbagai belahan dunia tak tetkecuali di Indonesia.

Perilaku rasis aparat negara dan warga sipil ke orang sipil memang bukan barang baru. Menyoal tentang perbedaan warna kulit, ras, suku, budaya, dan juga agama.

Semua orang pada asalnya sama kedudukannya dan memiliki hak-hak dasar kemanusiaan yang sama serta tidak boleh dibedakan, satu di istimewakan dan satu lagi dihinakan hanya karena alasan perbedaan suku, ras, warna kulit, dan agama.

Jika seseorang atau suku dan.bangsa di dunia ini dihinakan atau didiskriminasi dikarenakan warna kulit maka umat Islam didiskriminasi karena agamanya.

Mereka yang selalu terdepan dalam menggaungkan toleransi, mereka yang berbicara untuk saling menghargai dan menerima perbedaan, tapi mereka juga yang memantikkan api menyebarkan ujaran kebencian dengan alasan perbedaan yang tak bisa mereka terima.

*Analisis*
Sistem Kapitalisme tidak berkutik banyak menyoal isu rasisme ini, semua karena aqidah mereka menggunakan liberalisme, kebebasan, salah satunya kebebasan menyuarakan pendapat, jika golongan yang didiskriminasi tak terima, maka mereka hanya akan mengatakan ” This is my opinion”.

Kebebasan berpendapat justru disalah artikan dan dipergunakan menuruti hawa nafsunya, menyuarakan kebencian pun tak akan menjadi salah jika liberalisme menjadi landasannya.

*Solusi*
Dulu pada masa Islam ada sahabat yang berkulit hitam legam bernama Bilal bin Rabah, seorang sahabat yang mulia. Beliau adalah mantan budak, tetapi kedudukan beliau tinggi di antara para sahabat. Beliau telah dipersaksikan masuk surga secara khusus yang belum tentu ada pada semua sahabat lainnya. Beliau juga adalah sayyid para muadzzin dan pengumandang adzan pertama umat Islam.

Perlawanan terhadap sikap rasis dalam Islam telah nampak dari salah satu ayat al-Qur’an sebagaimana ayat berikut:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (Al – Hujurat: 13).

Nilai ketaqwaan sama sekali tidak dipengaruhi oleh warna kulit, entah itu hitam atau putih, suku, bangsa, laki-laki atau perempuan.

Namun yang membedakan setiap orang yang dianggap mulia adalah dilihat dari hati serta kertaqwaan.

Seseorang akan dianggap mulia ketika dapat menghargai satu sama lain, menerima kekurangan dan berupaya saling membenahi dan melengkapi demi menciptakan masyarakat yang adil dan damai.

Islam sesungguhnya memandang bahwa perbedaan itu pasti ada, keragaman antara manusia juga pasti akan sering kita temukan dalam hal bersosialisasi dan bermasyarakat. Perbedaan harusnya menjadi alat untuk saling mengenali satu sama lain.

Dengan perbedaan membuat seseorang memiliki ciri khas sendiri sebagai pembeda dengan masyarakat lain sehingga mudah untuk saling mengenali tanpa harus saling menjatuhkan.

Islam telah mengajarkan umat manusia untuk berlaku adil kepada seluruh umat manusia serta mengahargai perbedaan, mulai dari suku, budaya, ras, bahasa, warna kulit dan perbedaan lainnya. Islam adalah agama yang memanusiakan manusia salah satunya dengan tidak menilai sisi baik dan buruk seseorang hanya karena dia berbeda dengan diri kita. Bukankah perbedaan itu indah?[]

*Mahasiswa UIN SMH Banten

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 4 =

Rekomendasi Berita