Pemberdayaan Kaum Perempuan Tangsel

Opini104 Views

 

 

Penulis: Andini Handayani, S.T. |Arsitek,  Caleg DPRD kota Tangsel dapil 4 Kec. Serpong Utara dari Partai Ummat

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Tangerang Selatan (Tangsel) adalah wilayah yang sebagian besarnya merupakan perkotaan yang berdampingan dengan kawasan perdesaan.

Sebagai kawasan yang didominasi oleh berbagai wujud arsitektur perkotaan oleh beberapa Pengembang besar, maka infrastruktur jalannya nyaris semua tertata rapi, yang kemudian mendayagunakan juga jalan berbayar (jalan tol).

Demikian pula dengan masalah sanitasi pribadi, air bersih, dan penyediaan listrik, semuanya tersedia dengan memadai.

Ini mengindikasikan pengelolaan wilayah Tangerang Selatan, walau dengan pendekatan komersial, telah berjalan sebagaimana perpaduan antara perencanaan publik (pemerintah) dan perencanaan korporasi.

Kondisi ini juga ditandai dari banyaknya penduduk yang mempunyai rumah milik sendiri sebanyak 83,77%, yang menyewa 11,03%, bebas sewa 4,63% dan rumah dinas/lainnya 0,57%.

Sementara jumlah pengangguran terbanyak ada pada kelompok penduduk yang lulus SMTA (11%) dan sarjana (9%) dengan tingkat pengangguran terbuka pada 2023 sebesar 5,81%. Data ini konsisten dengan rata-rata pengeluaran penduduk sebesar 40% untuk makanan dan 60% untuk non makanan.

Data yang agak sedikit miring adalah mengenai lebih banyaknya perempuan yang sakit, yaitu 4,31% terhadap jumlah penduduk dan lelaki 3,95%. Sedangkan perempuan kawin pada usia kurang dari 19 tahun mencapai 18,79%. Karena itu penggunaan suntikan KB dan spiral bagi perempuan makin hari makin meningkat diikuti dengan penurunan penggunaan pil KB dan bagi pria menurun pula penggunaan kondom.

Sebagaimana kita ketahui, ada sektor-sektor besar yang berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi, yakni sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, serta reparasi dan perawatan mobil-sepeda motor, serta lapangan usaha lainnya.

Dari meningkatnya pendapatan, membaiknya angka partisipasi sekolah, maka berimbas pada angka harapan hidup rata-rata usia perempuan yang mencapai 75 tahun sedangkan lelaki 71 tahun.

Uraian di atas menunjukkan bahwa Tangerang Selatan makin hari makin dinamis. Kebutuhan fasilitas sosial dan sarana umum makin tidak terhindarkan.

Tangerang Selatan harus belajar dari Jakarta yang ruang terbuka hijaunya terbatas, fasilitas sosial dan sarana umumnya tidak sejalan dengan padatnya penduduk, dan akhirnya menghadapi masalah ketimpangan sosial yang relatif tinggi.

Guna mencegah hal itu, kerjasama pemerintah, korporasi, dan masyarakat harus ditingkatkan.

Peranan perempuan dalam memberdayakan masyarakat tertinggal, tersisa, atau terkalahkan kerena persaingan, pantas menjadi program kerja pemerintah kota. Karena keberhasilan perempuan dalam mengelola rumah tangganya akan berdampak positif pada keharmonisan lingkungan sosialnya. Hasilnya adalah lingkungan yang baik sebagai tempat tinggal untuk bertumbuhnya generasi Indonesia Emas.

Untuk kepentingan masyarakat seperti itulah saya hadir sebagai calon legislatif Partai Ummat untuk kota Tangerang Selatan, dapil 4, kec. Serpong Utara.

Selain berkepentingan untuk memberdayakan kaum perempuan (woman empowering), saya juga berpandangan bahwa Tangerang Selatan khususnya di kec. Serpong Utara layak menjadi perkotaan yang perempuannya mencitrakan kedamaian dan ketentraman karena kerjasama segenap warga dengan keikhlasan.

Memberdayakan kaum perempuan adalah menghadirkan masyarakat penuh harkat dan martabat.[]

Comment