Pemuda dan Jebakan Eksistensi Diri 

Opini1317 Views

 

Oleh: Irah Wati Murni, S.Pd, Pemerhati Remaja

__________

RADARINSONESIANEWS.COM, JAKARTA– Gaya hidup pemuda zaman sekarang semakin tak masuk akal dan tak terkendali secara agama ataupun moral. Bagaimana gaya hidup yang menonjolkan eksistensi diri menjadi suatu hal yang diprioritaskan. Entah apakah itu hidup penuh dengan kepura-puraan atau bahkan melakukan aktivitas yang mengancam nyawa pun tak masalah. Semua dilakukan agar
bisa terkenal di media sosial.

Kemajuan media teknologi informasi seperti saat ini sebenarnya suatu hal yang patut disyukuri. Aktivitas yang sebelumnya lambat terkendala jarak dan waktu, kini bisa diatasi dengan kemajuan dan kecepatan media teknologi informasi. Namun sayangnya, kemudahan media teknologi informasi saat ini juga banyak digunakan untuk aktivitas yang sia-sia bahkan melanggar norma dan agama.

Baru-baru ini istilah flexing marak digunakan kawula muda di media sosial. Flexing adalah istilah yang merujuk pada seseorang yang menyombongkan gaya hidupnya demi memberikan kesan mampu pada orang lain. Tidak sedikit dari mereka yang rela menghabiskan uang untuk barang-barang dan fasilitas mewah hanya demi menunjukkan ke publik, khususnya melalui media sosial.

Singkatnya flexing ini suatu gaya hidup seseorang yang memamerkan apa yang dimilikinya di media sosial demi mendapatkan pengakuan oleh orang lain. Bahkan ada beberapa orang yang melakukan flexing hanya demi menaikan follower atau pengikut akun-nya di jagat maya.

Demi eksistensi diri di media sosial, ada juga seorang perempuan (W) di Bogor yang coba-coba membuat konten candaan gantung diri, namun malah tewas terlilit kain.

Dilansir CNN Indonesia (7/3/23), peristiwa tersebut terjadi ketika W sedang melakukan panggilan video dengan teman-temannya. Kepada teman-temannya, W sempat menyebut hendak membuat konten gantung diri, dengan kain melilit di leher.

“Saat itu sambil video call (telepon video) sama temen-temennya, korban mengatakan ‘mau live nih, gue mau bikin konten ah’, tahu-tahu kursinya yang dipakai buat pijakan di bawah itu terpeleset, jadi beneran gantung diri,” ujar Kapolsek Leuwiliang Kompol Agus Supriyanto.

Mundurnya Taraf Berpikir Pemuda

Saat ini eksistensi diri seqkan menjadi  prioritas. Kemajuan media membuat hal tersebut menjadi lebih mudah. Jadilah unjuk eksistensi dengan berbagai konten di media sosial, bahkan termasuk dengan cara yang membahayakan jiwa atau berlagak kaya.

Perilaku ini sejatinya adalah perilaku rendah, yang muncul dari taraf berpikir yang rendah pula. Bagaimana pemuda saat ini dipertuhankan oleh eksistensi diri tanpa melihat apakah perilaku mereka sesuai aturan Allah Subhanahu wata’ala ataukah tidak. Tak peduli apakah yang dilakukannya masuk akal, sesuai norma dan agama. Apapun diterjang demi sebuah keterkenalan, pengakuan orang lain, bahkan demi mendulang cuan di jagat maya.

Munculnya konten berbahaya dan flexing ini disebabkan salah memandang dan memaknai arti kehidupan. Banyak yang berpikir bahwa hidup ini adalah untuk mencari kepuasan materi, contohnya seseorang merasa akan bahagia ketika famous, punya followers banyak, sekali live yang nonton bejibun, sekali posting yang nge-likes berlimpah. Akhirnya makin kemari, orang makin haus atensi dan pengakuan orang lain.

Sekulerisme, tanpa kita sadari – menjadi penyebab lahirnya semua pemikiran tersebut. Pemikiran sekuler yang memisah agama dari kehidupan juga membuat seseorang bertindak semaunya. Bagi mereka yaang penting senang dan tujuan atau keinginan tercapai, segala cara akan diterobos, tidak peduli halal atau haram, membahayakan atau tidak.

Jelas cara berpikir instan seperti ini menunjukan cara berpikir rendahan seperti cara berpikir hewan yang hanya didasari insting. Padahal manusia diberi kelebihan akal oleh Allah untuk berpikir dan menjadi mulia. Naudzu bilaahi min dzalik.

Bentengi Pemuda dengan Islam Kafah

Sebagai pemuda muslim, sejatinya kita memuliakan diri sesuai dengan standar dan cara yang telah Allah tetapkan, bukan terjebak dengan gaya hidup yang menonjolkan eksistensi diri semata. Tidak ikut-ikutan gaya hidup flexing atau melakukan aktivitas berbahaya apapun hanya demi konten dan cuan.

Islam sangat memuliakan generasi melalui ketinggian taraf berpikirnya. Bukan hanya berpikir sebatas kesenangan individu dan materialis semata, tapi juga manfaat dan kepedulian untuk umat. Sebelum melakukan sesuatu, berpikir terlebih dahulu apakah aktivitas yang hendak dilakukannya sesuai aturan Allah Subhanahu wata’ala ataukah tidak.

Oleh karena itu, sebagai kawula muda penerus generasi Islam, mari kita hijrah total agar tak mudah tergoda oleh gaya hidup sekuler – liberal. Kita bina diri dengan mengkaji Islam decara menyeluruh. Berusaha menjadi muslim yang mengutamakan tingkat ketakwaan dibanding tingkat kepemilikan barang dan ketenaran semata.

Dengan mengkaji Islam yang sumuldan kamil, pemuda muslim akan paham bahwa kebahagiaan bukan terletak pada barang yang dimiliki. Bahagia itu senantiasa menemani hari-harinya, sebab dia selalu berusaha menjadi generasi yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pemuda muslim pun yakin bahwa ketaatannya akan mengantarkannya kepada surga yang berlimpah kebahagiaan. []

Comment